Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perang Dagang Mengintai ASEAN! Kamboja Ultimatum Thailand soal Impor Buah dan Sayur

Niklaas Andries • Selasa, 17 Juni 2025 | 15:45 WIB

Ilustrasi buah-buahan kaya nutrisi. (AI)
Ilustrasi buah-buahan kaya nutrisi. (AI)
RADARBANYUWANGI.ID –Perang dagang  tidak hanya tersaji di pentas global antara China versus Amerika Serikat. Bibit-bibit perang dagang regional ternyata juga menghantui sejumlah negara di kawasan ASEAN.

Setidaknya itulah yang diperlihatkan dua negara ASEAN, Thailand dan Kamboja. Keduanya terancam terjebak perang dagang terkait larangan buah dan sayur.  Potensi ketegangan itu muncul setelah pemimpin Kamboja Hun Sen memberikan ultimatum kepada Thailand.

Hun Sen meminta Thailand untuk mencabut pembatasan penyeberangan wilayah perbatasan. Ancamannya bila tidak diindahkan, maka Kamboja akan melarang semua impor buah dan sayur Thailand.

Fenomena ini menjadi ketegangan terbari dari sengketa perbatasan kedua negara. Dimana sebelumnya seorang tentara Kamboja tewas pada tanggal 28 Mei lalu. Saat itu kedua pasukan kedua negera saling tembak di wilayah sengketa Segitiga Zamrud, tempat perbatasan Kamboja, Thailand, dan Laos bertemu.

"Jika pihak Thailand tidak membuka penyeberangan perbatasan seperti biasa hari ini, besok kami akan memberlakukan larangan impor buah dan sayuran ke Kamboja di seluruh perbatasan," kata Hun Sen, yaha dari Perdana Menteru Hun Manet.

Disisi lain PM Thailand Paetongtarn Shinawatra menyatakan negaranya tidak akan diancam oleh negara lain. Ia memperingatkan komunikasi tidak resmi akan merusak upaya diplomatik.

"Pesan melalui saluran tidak resmi tidak membawa hasil yang baik bagi kedua negara," katanya.

Pertikaian perbatasan kedua dua negara membuat Thailand dan Kamboja memperketat pengawasan perbatasan. Bahkan Jumat lalu, Kamboja pun meminta pasukannya bersiaga.

Bahkan Kamboja melarang drama Thailand dari TV dan bioskop. Negeri itu juga menutup pos pemeriksaan perbatasan dan memutus internet dari Thailand.

Kamboja juga meminta Mahkamah Internasional (ICJ) untuk membantu menyelesaikan sengketa perbatasan di empat wilayah. Termasuk diantaranya lokasi bentrokan bulan lalu dan tiga kuil kuno.

Selain itu Hun Sen juga menuding Thailand sebagai pencuri. Ia migran Kamboja yang bekerja di Thailand untuk kembali ke rumah. Sebab mereka berpotensi akan menghadapi diskriminasi yang semakin meningkat seiring berlanjutnya pertikaian perbatasan.

"Hanya pencuri yang takut pada pengadilan. Kita harus kembali ke rumah, dan ini adalah waktu yang tepat. Sengketa perbatasan tidak akan berakhir dengan mudah, jadi penghinaan terkadang terjadi, dan kali ini lebih serius," tambahnya.

Perrselisihan kedua negara bermula dari penggambaran batas wilayah negara sepanjang 800 kilometer (500 mil) pada awal abad ke-20 selama pendudukan Prancis di Indochina.

Pada tahun 1962, pengadilan memutuskan bahwa kuil Preah Vihear yang disengketakan adalah milik Kamboja dan pada tahun 2013. ICJ memberikan wilayah di sebelah kuil tersebut kepada Kamboja juga.

Thailand mengatakan tidak menerima yurisdiksi pengadilan tersebut. Kekerasan yang dipicu oleh perselisihan tersebut telah menyebabkan 28 kematian di wilayah tersebut sejak tahun 2008. (*)

 ultimatum

Editor : Niklaas Andries
#asean #migran #Ultimatum #mahkamah internasional #buah dan sayur #kamboja #thailand #Segitiga Zamrud #perang dagang