RADARBANYUWANGI.ID - Serangan rudal Iran ke kota Bat Yam telah membuka babak baru dalam ketegangan geopolitik Timur Tengah. Di tengah puing-puing gedung apartemen yang luluh lantak, Presiden Israel Isaac Herzog mendesak para pemimpin dunia untuk tidak tinggal diam.
Seruannya ditujukan langsung kepada negara-negara G7, yang akan berkumpul dalam KTT di Kanada, agar bersatu melawan ancaman nuklir dari Teheran.
“Saya menyerukan kepada para pemimpin G7 jika Anda ingin mengeluarkan senjata nuklir, lebih baik bekerja sama bersama kami, memastikan bahwa Iran tidak mencapainya,” ujar Herzog, dikutip dari Times of Israel.
Bat Yam menjadi salah satu kota yang paling terdampak oleh serangan rudal Iran sejak Jumat lalu.
Gedung apartemen runtuh, puluhan orang terluka, dan beberapa masih dinyatakan hilang.
Meski sistem pertahanan udara Israel dikerahkan maksimal, rudal-rudal Teheran terbukti mampu menembus dan menghantam pemukiman sipil.
Realita ini memunculkan kekhawatiran mendalam bahwa Israel tak mampu berdiri sendiri jika Iran benar-benar mencapai ambisi nuklirnya.
Netanyahu pun menguatkan nada peringatan itu. Dalam kunjungannya ke lokasi yang sama, Perdana Menteri Israel mengatakan Iran akan membayar "harga yang sangat mahal" atas serangan ini.
“Ini bukan lagi soal konflik regional. Kita berada dalam pertempuran eksistensial,” kata Netanyahu.
“Pikirkan apa yang terjadi jika Iran memiliki 20.000 rudal, bukan hanya satu. Itu ancaman bagi seluruh umat manusia,” sambung dia.
Tak hanya itu, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir juga mengakui bahwa serangan ini adalah bagian dari risiko dalam melawan ambisi nuklir Iran.
Dalam pesan video yang direkam di tengah reruntuhan, ia menyebut bahwa Israel "berdamai" dengan konsekuensi ini, karena mereka "wajib" menggagalkan program nuklir Iran.
“Kami tahu ini berisiko, tapi lebih berbahaya jika Iran mencapai kekuatan nuklir. Itulah sebabnya kami bertindak,” tegas Ben Gvir.
Kematian enam warga di Bat Yam hanyalah bagian kecil dari korban yang jatuh dalam tiga hari serangan timbal balik antara Iran dan Israel.
Total korban tewas di Israel telah mencapai 13 orang, dengan ratusan lainnya mengalami luka. Bandara utama dan wilayah udara Israel juga sempat lumpuh selama beberapa hari.
Herzog menegaskan, ini bukan hanya soal Israel. Menurutnya, dunia akan gagal menjaga perdamaian jika membiarkan Iran terus mengembangkan kekuatan militernya tanpa batas.
“Saya mohon kepada para pemimpin duniajangan tunggu sampai semuanya terlambat,” pungkasnya.
Kini, sorotan dunia tertuju pada Alberta, Kanada, tempat para pemimpin G7 akan bersidang.
Pertanyaannya tinggal satu, akankah dunia bersatu melawan ancaman nuklir Iran, atau justru membiarkan Israel sendirian dalam pertempuran yang bisa menentukan masa depan Timur Tengah?
Editor : Agung Sedana