RADARBANYUWANGI.ID - Konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang meletus pada 13 Juni 2025 kini berdampak langsung pada stabilitas pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Sementara Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman minyak internasional berada di ambang penutupan.
Menurut laporan Reuters dan CNBC, harga minyak jenis Brent naik lebih dari 7 persen dalam satu hari perdagangan, menembus angka 74,23 dolar AS per barel.
Pada sesi intraday, harga bahkan sempat menyentuh level tertinggi 78,50 dolar AS. Minyak WTI (acuan Amerika Serikat) juga mengalami lonjakan signifikan, ditutup pada 72,98 dolar AS per barel.
Analis komoditas dari Societa Generale, Ben Hoff, menilai kenaikan ini sebagai reaksi terhadap potensi terganggunya pasokan dari kawasan Teluk.
“Ini bukan hanya konflik dua negara, tetapi soal keamanan jalur pasokan energi dunia,” ujarnya seperti dikutip Financial Times.
Pemerintah Iran melalui Jenderal Esmail Kosari menyampaikan bahwa Teheran tengah mempertimbangkan opsi untuk menutup Selat Hormuz apabila tekanan dari Israel dan negara-negara Barat meningkat. Hal tersebut diwartakan oleh Al Jazeera dan media Iran Fars News Agency.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang dilalui sekitar 20 persen dari total minyak mentah dunia.
Ancaman penutupan ini mengkhawatirkan banyak pihak, termasuk negara-negara pengimpor energi seperti India, Jepang, dan Korea Selatan yang mulai bersiap dengan skenario pasokan darurat.
Di sisi lain, The Guardian dan CNN International, melaporkan bahwa serangan lanjutan Israel ke Iran tidak hanya menyasar fasilitas militer dan nuklir, tetapi juga mulai menarget sektor energi.
Ladang gas South Pars di Provinsi Bushehr dilaporkan mengalami kebakaran hebat usai dihantam rudal, yang menyebabkan penghentian sebagian operasi.
Selain itu, depot minyak Shahran dan kilang minyak di pinggiran Teheran turut terdampak serangan.
Dampak konflik turut mengguncang pasar keuangan global. Bloomberg mencatat indeks Dow Jones turun 1,8 persen, S\&P 500 anjlok 1,1 persen, sementara bursa saham Eropa dan Asia juga melemah.
Harga emas melonjak ke angka 3.500 dolar AS per ounce, sementara dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang dunia.
Analis dari JP Morgan memperingatkan bahwa apabila ketegangan meningkat dan Selat Hormuz benar-benar ditutup, harga minyak mentah bisa melewati ambang 100 dolar AS per barel dalam waktu dekat.
Saat ini, belum ada tanda-tanda meredanya eskalasi. Komunitas internasional menyerukan de-eskalasi, namun serangan dan ancaman terus bergulir.
Editor : Agung Sedana