Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Negosiasi Nuklir Gagal Total! Iran Walkout dari Meja Perundingan Usai Diserang Israel

Agung Sedana • Minggu, 15 Juni 2025 | 22:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

RADARBANYUWANGI.ID - Harapan dunia untuk meredakan ketegangan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat runtuh seketika.

Pemerintah Iran secara resmi membatalkan partisipasinya dalam perundingan nuklir di Oman, sebagai buntut langsung dari serangan udara Israel ke fasilitas-fasilitas strategis di Teheran dan kota lainnya.

Pembicaraan yang sebelumnya dijadwalkan digelar di Muskat pada Minggu, 15 Juni 2025, itu merupakan bagian dari upaya panjang untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir yang sempat dibekukan sejak Amerika Serikat keluar dari JCPOA pada 2018.

Iran dan AS sempat menunjukkan sinyal positif beberapa bulan terakhir, namun serangan militer dari Israel mengubah segalanya.

“Tidak mungkin kami duduk di meja perundingan ketika negara kami dibombardir dan rakyat kami terbunuh,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam konferensi pers singkat di Teheran.

Iran: Tak Ada Negosiasi di Bawah Bom

Iran menilai serangan Israel sebagai tindakan “barbar” dan “penghinaan terhadap diplomasi”. Dalam pernyataan resmi, pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak akan ada negosiasi lebih lanjut dengan pihak manapun sebelum Israel dihukum atas tindakannya.

Araghchi juga menuding Amerika Serikat terlibat secara tidak langsung dalam serangan tersebut, meski Gedung Putih telah membantahnya. “AS tidak bisa cuci tangan begitu saja. Mereka mendukung Israel, dan mendiamkan kekejaman ini terjadi,” tegasnya.

Sebagai tuan rumah, pemerintah Oman menyatakan kekecewaannya atas pembatalan tersebut, menyebut bahwa “kesempatan emas untuk meredakan konflik” telah hilang.

Oman selama ini menjadi salah satu juru damai utama di kawasan, dan pembatalan ini menjadi pukulan telak terhadap peran diplomatiknya.

“Serangan yang dilakukan Israel telah mencederai proses damai yang kami upayakan sejak lama,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Oman dalam rilis resminya.

Dari Washington, pemerintah Amerika Serikat menyayangkan keputusan Iran. Dalam pernyataan resmi Gedung Putih, AS menuding Iran “melewatkan kesempatan penting” untuk menyelamatkan ekonominya dari sanksi berat yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Namun, sejumlah analis melihat bahwa posisi Iran memang tidak mungkin lunak di tengah serangan langsung ke jantung negaranya.

“Sulit membayangkan ada negara yang tetap duduk tenang bernegosiasi setelah fasilitas nuklir dan permukimannya dibom,” kata seorang analis keamanan Timur Tengah kepada Reuters.

Seiring dibatalkannya pertemuan ini, banyak pihak menyimpulkan bahwa kesepakatan nuklir JCPOA secara praktis telah mati.

Iran diyakini akan mempercepat program nuklirnya, sementara Israel sudah terang-terangan menyatakan akan mencegah Iran memiliki senjata nuklir dengan cara apa pun.

“Jika tidak dihentikan sekarang, maka besok dunia akan menghadapi Iran bersenjata nuklir,” ujar PM Israel Benjamin Netanyahu usai serangan.

Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan kekhawatiran bahwa inspektur mereka tidak lagi bisa menjangkau fasilitas Iran pasca serangan.

Jika benar, maka pengawasan terhadap program nuklir Iran akan semakin minim, meningkatkan risiko konflik baru di masa depan.

 

Editor : Agung Sedana
#Israel #iran #nuklir #perang #pbb