RADARBANYUWANGI.ID - Eskalasi konflik antara Iran dan Israel semakin mengerikan. Di balik perang rudal dan drone yang menghujani langit, korban terbesar justru datang dari kalangan sipil.
Dalam hitungan hari, puluhan warga sipil tewas, ratusan lainnya luka-luka, dan ribuan kini hidup dalam ketakutan.
Serangan udara besar-besaran Israel ke Iran pada 13–14 Juni menghantam sejumlah titik di Teheran, termasuk gedung apartemen, depot minyak, dan kompleks militer.
Yang paling memilukan, sebuah gedung apartemen 14 lantai di Teheran runtuh akibat ledakan rudal. Pemerintah Iran menyebut 60 orang tewas di lokasi itu, dan lebih dari 29 di antaranya adalah anak-anak.
Puing-puing berserakan, suara tangis korban terdengar di antara tim penyelamat yang mencoba menggali reruntuhan.
Gambar yang beredar memperlihatkan warga sipil membawa jenazah dalam selimut, dan ambulans lalu lalang nyaris tanpa henti. Rumah sakit di Teheran dilaporkan penuh, dan para petugas medis bekerja tanpa henti.
Tak hanya di Teheran, ledakan juga terjadi di kota Isfahan, Arak, dan Kermanshah. Banyak warga memilih mengungsi sementara dari rumah mereka, takut akan serangan susulan.
Beberapa sekolah dan fasilitas umum ditutup. Sinyal internet sempat terganggu akibat kerusakan infrastruktur komunikasi.
Balasan dari Iran tak kalah mematikan. Kota-kota besar di Israel seperti Tel Aviv, Haifa, dan Bat Yam terkena hujan rudal balistik dan drone bersenjata.
Di Bat Yam, sebuah apartemen 8 lantai ambruk setelah terkena hantaman rudal. Setidaknya 9 orang tewas, termasuk seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun. Lebih dari 300 orang luka-luka, banyak di antaranya dalam kondisi kritis.
Warga panik dan berlarian ke bunker. Jalanan sepi, kegiatan sekolah dan ekonomi dihentikan. Di rumah sakit Tel Aviv, para petugas medis menyatakan ini adalah kondisi terburuk sejak perang dengan Gaza beberapa tahun lalu.
Sirene peringatan meraung hampir setiap jam. Beberapa rudal berhasil dicegat Iron Dome, namun serpihan hulu ledak jatuh di pemukiman dan menyebabkan kebakaran serta luka bakar.
Tim penyelamat bekerja siang malam mengevakuasi warga yang tertimpa puing dan reruntuhan bangunan.
Tak peduli di pihak mana mereka berada, warga sipil Iran dan Israel kini merasakan penderitaan yang sama. Banyak anak-anak terpaksa tidur di ruang bawah tanah. Kegiatan sekolah, ibadah, dan pasar lumpuh.
Seorang ibu di Teheran berkata, “Saya tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada anak saya mengapa langit kami kini berwarna oranye dan bersuara keras setiap malam.”
Sementara di Tel Aviv, seorang warga menyebut, “Ini bukan lagi soal politik atau balas dendam, ini soal nyawa manusia.”
PBB dan organisasi hak asasi manusia telah mendesak kedua negara untuk menghentikan serangan terhadap wilayah sipil. Namun hingga kini, tidak ada tanda-tanda gencatan senjata.
Editor : Agung Sedana