RADARBANYUWANGI.ID - Los Angeles kembali bergolak. Kota yang dikenal sebagai pusat industri hiburan dunia itu kini berubah jadi medan kerusuhan.
Imbasnya, Konsulat Jenderal China di Los Angeles terpaksa mengeluarkan travel warning dan peringatan serius kepada seluruh warganya yang tinggal di wilayah tersebut.
Lewat pengumuman resmi yang dirilis di situs web dan media sosial, konsulat meminta warganya untuk menjauhi kerumunan, menghindari area dengan tingkat keamanan rendah, serta tidak bepergian malam hari.
Imbauan ini muncul setelah situasi kota memanas akibat unjuk rasa yang awalnya damai berubah jadi penjarahan massal.
“Perhatikan pengumuman resmi, tetap waspada, dan hindari bepergian sendirian di malam hari,” bunyi kutipan peringatan itu.
Protes Anti-Imigrasi Berujung Chaos
Kerusuhan bermula dari demonstrasi menolak kebijakan deportasi massal yang digulirkan pemerintahan Donald Trump.
Aksi itu kemudian memuncak jadi bentrokan antara massa dan aparat federal, disusul gelombang penjarahan yang menyasar toko-toko di pusat kota.
Pemerintah AS pun tak tinggal diam. Presiden Trump mengerahkan lebih dari 2.000 anggota Garda Nasional dan 700 marinir untuk meredam kekacauan.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut Los Angeles sebagai kota besar yang kini “diserbu oleh kriminal dan imigran ilegal.”
“Kerusuhan ini hanya menguatkan tekad kami untuk membersihkan negara dari ancaman internal,” tulisnya lantang.
China Soroti Kegagalan Sistem AS
Kekacauan di LA menjadi headline utama di Tiongkok. Saluran berita nasional CCTV bahkan mengangkat tagar “LA adalah kekacauan” di media sosial Weibo, yang langsung viral dan menembus lebih dari 31 juta tayangan.
Komentar dari warganet China pun beragam. Ada yang menyampaikan simpati terhadap warga sipil yang terjebak kekerasan.
Namun tak sedikit pula yang menyindir kondisi Amerika Serikat sebagai bukti kegagalan demokrasi gaya Barat.
Situasi ini mengingatkan pada kerusuhan George Floyd tahun 2020 dan insiden Capitol Hill pada 6 Januari 2021, di mana media China juga memanfaatkan momen tersebut sebagai “cermin retak” sistem politik AS.
Editor : Agung Sedana