RadarBanyuwangi.id – Usai menunaikan serangkaian rukun haji, jemaah kloter 44 asal Banyuwangi kini menjalani tawaf ifadah, yaitu mengelilingi Kakbah sebagai bentuk kepatuhan kepada Sang Pencipta.
Sebuah kewajiban yang bukan sekadar ritual fisik, tetapi perjalanan spiritual menuju hakikat kehidupan.
Di tengah pusaran manusia yang berputar, setiap langkah adalah doa, setiap putaran adalah harapan.
Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi MS. Muntaha melaporkan, di sisi kanan, ada tempat sai, yaitu bukit Shafa dan Marwah.
Di tengahnya terdapat lampu hijau penanda, bukan sekadar tanda. Ia adalah isyarat tentang kehidupan: bahwa manusia perlu berlari dalam batas-batas harapan, tidak sekadar berjalan dalam zona nyaman.
Lampu hijau mengingatkan akan kisah agung seorang ibu, yaitu Hawa.
Ibu Hawa, istri Nabi Ibrahim dan ibu dari Nabi Ismail, mengukir sejarah perjuangan.
Di tengah panasnya gunung padas, ia berlari antara Bukit Shafa dan Marwah demi setetes air untuk putranya.
Di tengah usaha itu, tampak air seolah mengalir, namun ternyata hanya fatamorgana. Seakan semesta sedang menguji sejauh mana seorang ibu bisa bertahan demi anaknya.
Namun, pada titik pasrah itulah, ketika kekuatan tak lagi tersisa dan hanya doa yang tersisa, keajaiban datang. Dari hentakan kaki kecil Ismail, memancar air zamzam.
Air kehidupan, yang hingga hari ini terus mengalir, menjadi saksi bahwa perjuangan dan doa tidak pernah sia-sia. Air zamzam lahir dari perjuangan dan kepasrahan.
Baca Juga: Penerbangan di Bandara Banyuwangi Aman Meski Gunung Raung Erupsi
Dari doa dan usaha. Dari cinta seorang ibu yang tak pernah surut, bahkan di padang paling tandus.
Kini, setiap jemaah yang tawaf, sejatinya sedang mengulang langkah Hawa.
Menapaki harapan, pasrah pada takdir, dan percaya bahwa hidup adalah tentang usaha yang tak menipu hasil.
”Dalam haji, kita diajarkan bahwa air kehidupan hanya muncul bagi mereka yang tak berhenti mencari,’’ ujar ketua kloter 44, Abdul Wahid. (sidrotul muntoha/aif)
Editor : Ali Sodiqin