Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ini Haji atau Ujian Mental? Jemaah Banyuwangi Terjebak, Terlantar, dan Ditolak Masuk Tenda

Syaifuddin Mahmud • Senin, 9 Juni 2025 | 16:57 WIB
BEREBUT MASUK: Jemaah haji Indonesia saat menunggu antrean bus di Muzdalifah menuju Mina, Sabtu (7/6).
BEREBUT MASUK: Jemaah haji Indonesia saat menunggu antrean bus di Muzdalifah menuju Mina, Sabtu (7/6).

RADARBANYUWANGI.ID - Di malam yang mestinya penuh khusyuk, sekelompok jemaah haji justru larut dalam kegelisahan.

Setelah mabit di Muzdalifah, bukannya langsung bertolak ke Mina. Mereka malah terjebak dalam antrean panjang yang menyayat kesabaran—bukan karena dosa, tapi karena transportasi yang tak kunjung datang.

Deretan bus yang dijanjikan untuk mengangkut jemaah ke Mina berubah menjadi pemandangan yang menyulut galau.

Satu per satu bus yang datang justru menimbulkan kekacauan kecil. Harapan yang menyala perlahan meredup, digantikan kepanikan berebut tempat duduk.

Ada yang menangis, ada pula yang nekat berjalan kaki menembus panasnya matahari.

Tanpa peta, hanya berbekal iman dan Google Maps dari jemaah murur yang lebih dulu tiba.

Di tengah terik matahari dan debu, mereka melangkah seperti para sabilillah - pejuang yang tidak gentar walau tak tahu pasti ke mana kaki ini akan dibawa.

Begitu bus berhasil mengangkut mereka, secercah lega mulai menyelimuti. Tapi jalan menuju Mina ternyata tidak semulus doa yang melangit.  

Empat jam mereka terkurung dalam bus, di tengah kemacetan total.

Wajah-wajah lelah tampak seperti bayangan kelabu dalam cermin keikhlasan.

Sesampainya di Mina, ternyata bus tak mampu mengantar sampai ke tenda. Mereka dirunkan dari bus.

Maka berjalanlah para tamu Allah tersebut sembari menggendong tas sejauh 1,5 km.  

Di tengah langkah yang mulai goyah, mereka bertemu seorang dokter perempuan (maaf tidak bisa menyebut nama), anggota tim kesehatan.

Dengan air mata yang membasahi pipi, jemaah tadi berkata, “Saya mencari tenda belum ketemu. Disuruh ke sana, ternyata tidak bisa masuk”.  

Kalimat itu seperti gema keputusasaan yang menembus dada. Tapi jemaah lain berusaha menenangkan, karena iman harus tetap tegak meski tubuh hampir roboh.

Tenda nomor yang dituju sesuai informasi kloter induk akhirnya ditemukan, tapi kejutan belum selesai.

Petugas menolak mereka masuk karena nomor syarikah yang disebut tidak cocok dengan gelang.  

Ketua kafilah pun angkat tangan, tak mampu memberi kepastian.

Penulis menyadari kafilah induk dengan jamaah gado gado tidak saling memiliki ikatan emosional.

Maka kembali mereka berjuang, bertanya, menyisir informasi, hingga akhirnya  tenda itu ditemukan.

Pintu dibuka dan langit harapan kembali membiru. Namun takdir berkata lain. Tenda sudah penuh.

Jemaah pria dan wanita tumpang tindih ruang dan udara. Hanya satu harapan tersisa, keikhlasan penghuni.

Dengan sopan mereka meminta, dengan haru mereka diterima.

Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi pun terpisah dari rombongan, bercampur dengan jemaah asal Jawa Barat.  Sementara ibu-ibu harus menyesuaikan diri dengan kondisi seadanya.

Setelah menghela napas di kasur yang tersisa, mereka kembali bangkit.

Tak ada waktu lama untuk mengeluh. Rangkaian lempar jumrah Aqabah telah menanti.

Karena haji bukan soal kenyamanan, tapi tentang keteguhan hati dan ujian keikhlasan.

“Luar biasa cobaan saya berangkat haji tahun ini.  Alhamdulilah sekarang sudah kembali ke Makkah. Kepada Bapak Haji Toha terima kasih atas perjuangannya yang telah mengumpulkan kami dari tercerai-berai, sehingga kami bisa kembali ke hotel di Makkah,’’ ujar MS. Muntaha yang berjuang keras membantu jemaah haji yang tercecer dari kelompoknya. (sidrotul muntoha/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#jemaah haji terlantar #muzdalifah #mina #banyuwangi