RADARBANYUWANGI.ID - Korea Selatan hari ini, Selasa (3/6/2025) menggelar pemilihan presiden luar biasa, menyusul pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol pada awal April lalu.
Pemilu yang awalnya dijadwalkan tahun 2027 ini dipercepat karena konstitusi negeri Ginseng mengharuskan pengganti kepala negara dipilih maksimal 60 hari setelah kekosongan jabatan.
Presiden Yoon dimakzulkan oleh Mahkamah Konstitusi setelah disetujui oleh Majelis Nasional, menyusul tindakan kontroversialnya memberlakukan darurat militer pada Desember 2024. Tindakan tersebut memicu gelombang protes nasional dan krisis politik berkepanjangan.
“Pemilu ini bukan hanya soal memilih presiden baru, tetapi juga tentang mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap demokrasi,” ujar Prof. Kim Hyun-soo, pengamat politik dari Seoul National University.
Pemilu ini diwarnai pertarungan sengit antara dua tokoh utama. Lee Jae-myung, kandidat dari Partai Demokrat, mantan Gubernur Gyeonggi yang sebelumnya kalah tipis dalam Pilpres 2022. Lee mengusung program reformasi sosial, keadilan ekonomi, dan perluasan jaring pengaman sosial.
Kim Moon-soo, mantan Menteri Ketenagakerjaan dari Partai Kekuatan Rakyat (konservatif). Ia dikenal sebagai figur pro-Amerika dan pendukung pasar bebas, serta menyuarakan kritik keras terhadap populisme ekonomi Lee.
Survei terakhir dari Gallup Korea menunjukkan Lee unggul dengan 49% dukungan, sementara Kim meraih 35%. Kandidat independen Lee Jun-seok, pemimpin Partai Reformasi, berada di urutan ketiga dengan 11% suara.
Tempat pemungutan suara dibuka sejak pukul 06.00 hingga 20.00 waktu setempat. Lebih dari 44 juta warga tercatat sebagai pemilih, dan lebih dari sepertiganya telah menggunakan hak suara lebih awal dalam pemungutan suara yang digelar dua hari sebelumnya.
Suasana di berbagai kota besar seperti Seoul, Busan, dan Incheon menunjukkan antrean panjang dan antusiasme warga yang tinggi.
“Saya tidak pernah absen memilih, tapi kali ini terasa lebih penting dari sebelumnya,” kata Park Ji-won, warga Seoul, usai mencoblos.
Hasil awal pemilu diperkirakan keluar pada malam ini, sementara Komisi Pemilihan Umum Nasional akan mengumumkan hasil resmi pada Rabu, 4 Juni 2025.
Tidak seperti pemilu sebelumnya, presiden terpilih akan langsung dilantik karena tidak ada masa transisi, menyusul kekosongan kekuasaan sejak Yoon dimakzulkan.
Presiden baru dihadapkan pada pekerjaan rumah besar memulihkan stabilitas politik, menenangkan pasar keuangan, serta mengelola ketegangan dengan Korea Utara dan China, sambil memperkuat aliansi dengan Amerika Serikat.
Pemilu ini dipandang oleh banyak analis sebagai referendum terhadap pemerintahan sebelumnya dan arah masa depan demokrasi Korea Selatan. Jika Lee Jae-myung memenangkan kontestasi ini, maka ia akan menjadi presiden ke-14, sekaligus simbol kebangkitan kembali kekuatan progresif di tengah dinamika politik konservatif yang dominan dalam satu dekade terakhir.
“Apa pun hasilnya, rakyat Korea Selatan telah menunjukkan komitmen kuat terhadap demokrasi,” ujar jurnalis politik Jeong Hye-min kepada Washington Post.
Editor : Agung Sedana