RADARBANYUWANGI.ID – Usia bukan halangan untuk meraih mimpi pergi haji ke Mekkah, Saudi Arabia.
Kalimat itu pantas disematkan kepada sosok Marhamah, nenek asal Pamekasan, Madura, yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di Asrama Haji Embarkasi Surabaya.
Di usianya yang menginjak 104 tahun, Marhamah resmi tercatat sebagai jemaah haji tertua se-Jawa Timur pada musim haji 2025.
Kamis sore (29/5), senyum ramah petugas menyambut kedatangan rombongan kloter 95 yang baru tiba.
Di antara mereka, tampak Marhamah yang didampingi putrinya, Ayyamah (40), tampak sumringah meski langkahnya tak lagi sekuat dulu.
Ia menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan, pemberian gelang identitas, serta pengecekan koper dengan penuh semangat.
“Saya bersyukur, sangat bersyukur. Akhirnya bisa berangkat haji,” lirih Marhamah dengan mata berkaca-kaca.
Warga Desa Palengan Laok, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan itu mengaku sempat pesimistis bisa menunaikan ibadah haji.
Namun semangatnya tak pernah surut. Meski ekonomi keluarga pas-pasan dan anaknya sepuluh orang, tekad Marhamah tak luntur.
“Ibu sudah lama ingin berhaji. Tapi karena kondisi ekonomi, baru bisa mendaftar tahun 2019,” cerita Ayyamah, anak kedelapan yang kini setia mendampingi sang ibunda.
Semasa muda, Marhamah dikenal sebagai petani ulet. Ia menanam tembakau, kangkung, bayam, hingga kacang-kacangan.
Namun sepuluh tahun terakhir, ia memilih pensiun. Meski begitu, satu hal yang terus dilakukannya adalah menabung—sedikit demi sedikit—dalam celengan bambu.
“Kalau punya uang Rp 100 ribu, biasanya Rp 30 ribu ditabung. Pelan-pelan, lama-lama terkumpul Rp 25 juta buat daftar haji,” lanjut Ayyamah.
Kini, perjalanan panjang itu hampir sampai pada puncaknya. Marhamah dijadwalkan terbang dari Bandara Internasional Juanda menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah pada Jumat (30/5) pukul 15.05 WIB.
Doa dan harapan mengiringi langkah Marhamah. Di tengah jutaan jemaah dari seluruh dunia, satu nama dari Pamekasan akan mengukir kisah haru: tentang tekad, kesabaran, dan cinta seorang ibu yang tak lekang oleh waktu. (*)
Editor : Ali Sodiqin