RADARBANYUWANGI.ID - Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), calon jemaah haji kloter 44 asal Banyuwangi terus melakukan pembinaan intensif.
Kegiatan pembinaan difokuskan agar jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah secara mandiri dan tertib.
Ketua Kloter 44 Abdul Wahid mengatakan, materi pembinaan seputar rute perjalanan, waktu-waktu utama, dan teknis pelaksanaan wukuf, mabit, hingga lontar jumrah.
Mengingat kondisi di Armuzna yang penuh tantangan dan keterbatasan mobilitas, jemaah diharapkan memiliki kesiapan fisik dan mental serta pemahaman ibadah yang kuat.
”Pembinaan kami lakukan agar jemaah tidak hanya tahu teori, tapi juga siap secara praktik. Harapannya, mereka bisa menjalani rangkaian Armuzna dengan mandiri dan saling membantu,” ujar Wahid saat memberikan pembinaan di Wadem Six, Rabu (28/5).
Dalam pelaksanaannya, kebersamaan antarjemaah menjadi kunci utama.
Jemaah didorong untuk saling memperhatikan, mengingatkan, dan mendampingi terutama mereka yang lanjut usia atau memiliki keterbatasan fisik.
”Jemaah yang lebih muda atau lebih kuat fisiknya kami arahkan untuk mendampingi sesama, minimal satu sama lain dalam regu atau rombongan. Semangat gotong royong sangat terasa di kloter kami,” tambah Wahid.
Petugas Haji Indonesia Kloter 44 Zainur Rofiq mengatakan, perbedaan skema layanan syarikah yakni lembaga penyedia layanan haji di Arab Saudi, berpengaruh pada lokasi tenda, pola distribusi makanan, hingga jadwal pergerakan jemaah selama Armuzna.
Perbedaan layanan ini penting dipahami agar jemaah tidak bingung di lapangan dan tetap mengikuti koordinasi yang telah ditentukan.
”Bapak dan Ibu jangan khawatir selama pelaksanaan Armuzna, sebab petugas selalu ada diberbagai titik,” kata Rofiq.
Baca Juga: Diare dan Pink Eye Hantui Hewan Kurban, Begini Penjelasan Dokter Hewan Situbondo
Sementara itu, pengajuan murur bagi 79 jemaah kloter 44 masih menunggu kepastian dari pihak berwenang.
Murur adalah keringanan bagi jemaah tertentu untuk melintas Muzdalifah tanpa bermalam. Murur biasanya diberikan untuk alasan kesehatan atau kondisi darurat. Tidak semua nama yang diajukan otomatis disetujui.
”Kami masih menunggu keputusan resmi. Sementara itu, kami siapkan skenario ganda bagi yang murur dan yang mengikuti rute biasa. Kami pastikan seluruh jemaah tetap mendapatkan pendampingan dan layanan maksimal,” jelas Rofiq.
Dengan pembinaan yang konsisten dan semangat saling bantu antarjemaah, kloter 44 Banyuwangi optimistis mampu menghadapi fase Armuzna dengan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.
Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) dari kloter 44 Rizal An Akhiruna mengingatkan agar jemaah menjaga kondisi fisik dan tidak memaksakan diri dalam menjalankan ibadah jika mengalami keluhan kesehatan.
”Cuaca ekstrem, kelelahan, dan kepadatan jemaah saat Armuzna bisa memicu gangguan kesehatan. Kami imbau agar jemaah memperhatikan asupan cairan, istirahat cukup, dan segera melapor jika merasa tidak fit, pakai masker, pakai topi,” imbau Rizal.
Rizal meminta jemaah untuk disiplin mengonsumsi obat yang telah diberikan, terutama bagi penderita penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan asma.
Selain itu, jemaah diingatkan agar tidak sungkan meminta bantuan dari petugas maupun sesama jamaah.
Koordinasi dalam regu dan rombongan sangat penting untuk memastikan semua jemaah terpantau dan tertangani jika ada masalah kesehatan.
”Kami minta jemaah tidak memaksakan ikut seluruh rangkaian jika tidak memungkinkan secara medis. Ada skema alternatif seperti murur bagi yang memang disetujui. Keselamatan dan kesehatan tetap prioritas utama,” tegasnya. (Sidrotul Muntoha/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin