Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Waspada, Dua Pekan Lagi Berpotensi Resesi Global: Tarif Impor ala Donald Trump Kembali Diberlakukan ke Sejumlah Negara

Niklaas Andries • Jumat, 25 April 2025 | 23:05 WIB

JURUS: Donald Trump mempersiapkan tarif impor baru bagi sejumlah negara
JURUS: Donald Trump mempersiapkan tarif impor baru bagi sejumlah negara
Radarbanyuwangi.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya belum bakal mengakhiri pemberlakukan tarif impor yang diberlakukan ke sejumlah negara.

Malahan, Trump berencana untuk memberlakukan kembali traik imbal balik atau tarif impor tersebut dalam dalam dua hingga tiga pekan kedepan.

Hal ini tentu saja menjadi kewaspadaan tersendiri bagi semua negara yang bepotensi dikenai tarif impor tersebut. Bahkan kebijakan ini diprediksi juga akan turut berdampak bagi perekonomian Amerika Serikat sendiri.

Ada kekhawatiran akan terjadinya resesi AS dan global.

"Pada akhirnya, saya pikir yang akan terjadi adalah, kita akan memiliki banyak kesepakatan, dan omong-omong, jika kita tidak memiliki kesepakatan dengan perusahaan atau negara, kita akan menetapkan tarif," kata Trump.

"Saya akan mengatakan selama beberapa minggu ke depan, bukan begitu? Saya pikir begitu. Selama dua, tiga minggu ke depan. Kami akan menetapkan jumlahnya,” imbuh dia.

Trump pada 9 April telah menghentikan sementara tarif timbal baliknya yang besar, yang secara teknis tidak bersifat timbal balik.

Penangguhan seharusnya berlangsung selama 90 hari. Ini untuk memungkinkan negara-negara bernegosiasi dengan pemerintahannya. 

Pejabat Trump mengatakan sekitar 90 hingga 100 negara telah menawarkan diri untuk menegosiasikan kesepakatan.

Tanpa kesepakatan yang dinegosiasikan tersebut, Trump dapat mengenakan tarifnya pada negara-negara yang menaikkan tarif hingga 50 persen.

Kecuali untuk Tiongkok, yang ditetapkan oleh pemerintahan Trump sebesar 145 persen.

Hanya saja belum diketahui tarif baru apa yang akan ditetapkan Trump pada negara-negara yang tidak dapat mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat tersebut.

Termasuk tarif baru tersebut akan secara permanen menggantikan tarif timbal balik yang dijeda atau hanya berfungsi sebagai tarif sementara saat negosiasi berlanjut. 

Sementara itu, AS mempertahankan tarif universal sebesar 10 persen pada hampir setiap barang yang diimpor ke Amerika ditambah tarif yang lebih tinggi untuk barang-barang tertentu.

Sikap Trump tersebut telah menyebabkan ketidakpastian bagi bisnis dan konsumen. Ini jelas dapat mengguncang pasar sekaligus menyebabkan saham dan aset AS jatuh. 

Meskipun pasar pulih selama dua hari, S&P 500 masih kehilangan nilai USD 7 triliun sejak mencapai rekor tertinggi pada pertengahan Februari.

Organisasi-organisasi besar telah memperingatkan tentang perlambatan ekonomi global karena pungutan impor Trump mengancam akan mengubah perdagangan global dan mengalihkan arus uang di seluruh dunia. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#donald trump #Negara #as #tarif impor #presiden amerika serikat #resesi global #global #amerika serikat #resesi