Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pengalaman Kiai Muwafiq Amir dari Banyuwangi Menghadiri Peringatan Tragedi WTC di Amerika, Dengar Suara Azan Peserta Teteskan Air Mata

Gareta Yoga Eka Wardani • Sabtu, 14 September 2024 | 12:19 WIB
DOKUMENTASI: Kiai Muwafiq Amir menunjukkan foto saat mengadakan renungan di ground zero WTC yang dibom oleh Al-Qaeda pada 11 September 2001.
DOKUMENTASI: Kiai Muwafiq Amir menunjukkan foto saat mengadakan renungan di ground zero WTC yang dibom oleh Al-Qaeda pada 11 September 2001.

RadarBanyuwangi.id – Pada 11 September 2001, Gedung World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat dibom oleh relawan Al-Qaeda.

Pada 11 September 2002, pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Makmur Genteng, KH Muwafiq Amir, diundang untuk renungan bersama 25 kiai lain di Indonesia ke ground zero gedung kembar itu.

Kesempatan terbang ke Negeri Paman Sam diperoleh KH Muwafiq Amir selaku pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Kebunrejo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng.

Kiai Muwafiq diundang langsung oleh Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat (AS) melalui Institut of Training Development (ITD).

Banyak pengalaman berharga yang masih diingat selama mengikuti rangkaian peringatan tragedi World Trade Center (WTC) yang terjadi pada 11 September 2001.

Waktu berlalu begitu cepat, sudah 22 tahun sejak kedatangannya ke AS pada September 2002 lalu.

Berbagai potongan demi potongan kenangan selama di Negara Paman Sam masih diingat oleh adik ipar almarhum KH Imam Zarkasy Djuaidi itu.

”Saya datang ke AS saat itu tepat 1 tahun setelah tragedi serangan ke gedung WTC,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Meski menjadi tamu undangan khusus bersama 25 kiai lain di Indonesia, memasuki negara adidaya itu tetap tidak mudah.

Harus melewati berbagai pengecekan yang sangat ketat. Rombongannya yang membawa tiket undangan dari Deplu AS, masih ditolong untuk bisa sedikit mudah untuk masuk ke negara yang memiliki ikon Patung Liberty itu.

”Waktu ke sana, pandangan negara itu (AS) terhadap umat muslim masih belum aman, karena tragedi WTC itu,” katanya.

Hal itu dimaklumi sebab hancurnya Gedung WTC ditengarai dilakukan oleh relawan Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden, yang dianggap sebagai tokoh berpengaruh Islam.

”Saat itu tidak mudah orang Islam bisa masuk ke Amerika,” terangnya.

Selama berada di AS, Kiai Muwafiq tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru terkait kebudayaan dengan berkunjung ke Islamic Centre.

Tapi, juga lebih memahami makna tolerasi antarumat yang begitu kuat.

”Ternyata nilai toleransi paling besar ditunjukkan oleh masyarakat di sana,” ungkapnya.

Setidaknya itu dibuktikan saat dia bersama ratusan bahkan ribuan orang tumpek-blek di ground zero WTC pada 11 September 2022.

Acara untuk memperingati para korban tragedi WTC, membuat status dan latar belakang antar orang tidak dipandang.

”Seluruh umat beragama berkumpul di depan gedung (WTC) untuk memperingati tragedi berdarah itu,” terangnya.

Berbagai doa dipanjatkan oleh warga yang menghadiri kegiatan peringatan tragedi WTC.

Tentunya, doa yang disampaikan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

”Ketika umat Islam memperingati tragedi itu, ada yang mengumandangkan azan,” ucapnya.

Suara azan yang dikumandangkan membuat siapa pun yang mendengar merasa trenyuh.

Tidak hanya dirasakan oleh sesama umat Islam, tapi oleh seluruh masyarakat yang hadir di lokasi gedung kembar itu.

”Umat beragama lain merasa terharu, ada yang meneteskan air mata karena kumandang azan saat memperingati tragedi WTC,” katanya.

Apa yang disaksikan dan diikuti menunjukkan tingginya toleransi umat beragama di Amerika Serikat.

Berbagai pandangan terkait masyarakat AS yang menyudutkan umat Islam akibat tragedi WTC, dipatahkan dengan berbagai fenomena yang dilihatnya.

”Tidak sedikit umat Yahudi membantu dan melindungi umat Islam pascatragedi WTC,” katanya.

Akibat tragedi WTC, umat Islam mendapatkan pandangan kurang mengenakkan dari pemerintah dan sejumlah kalangan di Amerika.

Meski demikian, Kiai Muwafiq berharap pemahaman yang salah dalam jihad dapat dihapuskan. Sehingga, kejadian serupa tidak akan terjadi lagi.

”Seluruh umat beragama harus bisa hidup dalam kedamaian tanpa ada teror dan kekerasan,” harapnya. (rei/abi/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#suara azan #tragedi wtc 11 september #World Trade Center #kenangan #Al-Qaeda #KH Muwafiq Amir #dibom #amerika serikat #Renungan