BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Jabatan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan kosong sejak awal Juni. Hal itu terjadi lantaran direktur sebelumnya, yakni dr Widji Lestariono purnatugas. Tak ayal, beberapa nama santer dikabarkan bakal mengisi posisi strategis di rumah sakit milik Pemkab Banyuwangi tersebut.
Pihak pemkab mengirim sinyal bahwa kursi direktur RSUD Blambangan bakal diisi wajah lama yang telah berkecimpung di dunia kesehatan Banyuwangi. Isyarat tersebut dilontarkan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Mujiono saat dikonfirmasi usai mengikuti rapat paripurna di kantor DPRD Banyuwangi, Senin (5/6).
Mujiono mengatakan, calon pengganti dr Rio –sapaan karib Widji Lestariono– adalah sumber daya manusia (SDM) dari RSUD Blambangan, RSUD Genteng, atau Dinas Kesehatan (Dinkes). Namun, dia juga menekankan kriteria direktur RSUD Blambangan akan tetap mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 971/Menkes/Per/XI/2009 tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan.
Salah satunya berlatar belakang pendidikan kesehatan, mengetahui masalah kerumahsakitan, dan kepangkatannya sudah memenuhi syarat. ”Inisialnya A, bisa dari internal Dinkes, RSUD Genteng, atau RSUD Blambangan. Saat ini kajian masih berjalan, satu dua bulan ini kita umumkan,” ujar Mujiono.
Dengan kriteria tersebut, baik Direktur RSUD Genteng dr Asiyah Anggraeni maupun Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Amir Hidayat sama-sama memiliki peluang menjadi ”nakhoda” RSUD Blambangan. Keduanya juga memiliki latar belakang kesehatan.
Asiyah adalah dokter yang mengambil magister manajemen rumah sakit. Dia juga pernah menjadi Plt Direktur RSUD Blambangan pada 2019 lalu. Sedangkan Amir juga memiliki basic sarjana kesehatan masyarakat. ”Saya tidak sebutkan namanya, yang jelas dari pendidikan formal harus dari kesehatan dan memahami masalah kerumahsakitan,” tegas Mujiono.
Di sisi lain, Mujiono mengungkapkan bahwa ke depan RSUD Blambangan akan diarahkan menjadi rumah sakit pendidikan. RSUD Blambangan akan bekerja sama dengan Universitas Airlangga (Unair) untuk mewujudkan hal tersebut.
Karena itu, imbuh Mujiono, diperlukan sosok yang bisa mengawal kebijakan tersebut agar bisa segera terealisasi. ”Pascapandemi Covid-19 kita ingin mengembangkan RSUD Blambangan menjadi rumah sakit kelas A sekaligus rumah sakit pendidikan,” pungkasnya. (fre/sgt/c1)