Menurut dr Hidayanto, kelebihan cairan tubuh karena fungsi ginjal terganggu akibat peningkatan hormon pemacu jantung, dan peningkatan hormon penahan kencing untuk memenuhi harapan tubuh (sistim homeostasis) meningkatkan kinerja jantung. “Kelebihan cairan tubuh ini terlihat pada kaki dan perut yang membengkak pada pasien gagal jantung,” terangnya.
Gagal jantung, jelas dia, paling banyak dimulai dari tekanan darah tinggi dan serangan jantung atau sumbatan jantung koroner. Fungsi pompa jantung ini, dapat dinilai dengan mesin echocardiography dan ultrasonography (USG). “Mesin ini ada di Poli Jantung RSUD Genteng,” terangnya.
Obat gagal jantung, masih kata dia, menurunkan ambang kinerja jantung agar hidup lebih lama. Hormon cathecolamin, dihambat dengan obat-obatan penyekat sistim pemacu jantung, dan ginjal dipaksa mengeluarkan cairan yang menumpuk berlebihan. Obat-obatan itu sudah diteliti dibandingkan dengan pasien yang tidak menerima pengobatan, dan digunakan bertahun-tahun oleh dokter di seluruh dunia. “Ini terbukti dapat meningkatkan usia harapan hidup pasien gagal jantung,” ungkapnya.
Untuk umat muslim, sebentar lagi Ramadan. Puasa latihan yang bagus merubah kebiasaan yang merugikan tubuh. Keseimbangan tubuh berubah pada bulan puasa. Dipandang dari segi pengobatan gagal jantung, mempunyai kemiripan dalam mengendalikan hormon stres dan membatasi cairan. “Mungkin berpuasa ini salah satu faktor yang menyebabkan kunjungan poli jantung menurun, tapi bukan berarti kalau sudah puasa tidak perlu minum obat,” cetusnya.
Selama berpuasa, lanjut dia, obat-obat jantung masih harus dikonsumsi. Pasien yang mempunyai penyakit kronis lain, seperti diabetes dan darah tinggi masih aman berpuasa selama kondisi fisiknya baik. Tapi bagi orang tua tang kondisi fisik lemah, diperbolehkan tidak berpuasa dengan pertimbangan medis. “Lebih baik lagi periksakan dulu kondisi kesehatan ke dokter, monggo berobat ke RSUD Genteng,” ajaknya.(abi) Editor : Gerda Sukarno Prayudha