Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pandangan Psikolog Terkait Kasus Siswi MI di Kalibaru Banyuwangi yang Dirudapaksa Hingga Meninggal Dunia

Niklaas Andries • Jumat, 15 November 2024 | 06:30 WIB
ALASAN KHUSUS: Pelaku kejahatan biasanya membutuhkan dua pegangan yakni niat dan kesempatan
ALASAN KHUSUS: Pelaku kejahatan biasanya membutuhkan dua pegangan yakni niat dan kesempatan

Radarbanyuwangi.id – Nasib DC , 7, bocah asal Kalibaru, Banyuwangi yang ditemukan meninggal dunia usai dirudapaksa menimbulkan keprihatinan bagi semua pihak.

Korban yang ditemukan tak bernyawa dengan kondisi separo telanjang di sebuah kubuh di tengah kebun sengon yang tidak jauh dari rumahnya, Rabu (13/11).

Siswa kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu diduga menjadi korban rudapaksa seseorang yang kini masih dalam buruan polisi. Menanggapi kasus yang cukup memilukan tersebut, Yuliana psikolog asal Puskemas Licin menilai kejadian ini sangat tragis dan memilukan.

Dalam analisisnya, Yuliana menyatakan perbuatan tersebut bisa jadi sudah ada muncul niat dari pelaku dan kesempatan untuk melakukan tindakan kekerasan kepada korban.

Ini ditandai dengan pilihan tempat oleh pelaku yang dirasa aman tidak ada orang. Disisi lain, warga asal Banjarsari Glagah ini menuturkan sebenarnya siapa saja bisa berpotensi melakukan aksi pencabulan dan kekerasan terhadap anak.

Untuk faktor pendorongnya pun beragam. Pelaku diduga bisa jadi memiliki gangguan mental seperti penyimpangan seksual. Apalagi disini korban diketahui masih berusia masih cukup belia.

Alasan lain pelaku melakukan aksi bejatnya bisa juga diduga karena alasan ekonomi. Selain itu masalah dalam keluarga seperti dengan pasangannya di rumah hingga tekanan hidup sehari-hari bisa menjadi pemicunya.

Yuliana menyebut bisa jadi saat alasan dasar dari pelaku tersebut muncul. Justru adanya stimulus datang dari korban yang akhirnya memancing menjadi dorongan untuk melakukan perilaku tidak terpuji kepada korban.

“Hal ini bisa juga didorongan dari pelaku yang merasa memiliki rasa berkuasa atau merasa bisa mendominasi korbannya,” terangnya

Dari sini semua pihak seharusnya bisa mengambil sebuah pelajaran. Setidaknya para orang tua harus lebih memberi perhatian dan proteksi pada buah hatinya. Dengan salah satunya sebisa mungkin mendampingi anak-anaknya nya terutama saat berada di tempat yang dirasa tidak aman.

Selain itu kalangan orang tua juga perlu memberi wawasan kepada anak-anaknya. Khususnya untuk selalu tetap waspada dan memberikan pengetahuan bagaimana melimdungi diri sendiri apabila ada situasi darurat. Terutama jika ada seseorang orang yang dianggap bisa memunculkan efek bahaya

Untuk ibu korban yang mengetahui buah hatinya menjadi korban ada baiknya segera lakukan pendampingan dan dukungan secara moril.

Apalagi kini si ibu kondisinya tengah hamil tua. Hal ini tentu saja bisa berdampak bagi kondisi kesehatannya bila shock dan trauma yang dialaminya tak kunjung diredam. Efeknya bisa muncul penyesalan berkepanjangan.

Bisa sang ibu akan terus dihantui asa bersalah karena tidak menjemput putrinya hari itu. (*)

Editor : Niklaas Andries
#Sengon #psikolog #rudapaksa #proteksi #madrasah ibtidaiyah #kalibaru #alasan ekonomi #Banjarsari #banyuwangi #penyimpangan seksual #kebun #Puskesmas Licin