Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Misteri Santet yang Masih Dipercaya: Dari Teluh Zaman Kerajaan hingga 9 Jenis Ilmu Hitam Paling Populer

Ali Sodiqin • Senin, 15 Desember 2025 | 20:00 WIB

ILUSTRASI.
ILUSTRASI.

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah modernisasi dan kemajuan teknologi, praktik ilmu hitam berupa santet atau teluh ternyata belum sepenuhnya lenyap dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang mampu mencelakai seseorang dari jarak jauh masih hidup, diwariskan dari masa ke masa, dan kerap muncul dalam bisik-bisik yang tak pernah benar-benar padam.

Santet dipercaya sebagai metode serangan nonfisik yang menggunakan bantuan makhluk gaib—jin dan setan—untuk mengganggu, melukai, merusak kesejahteraan, bahkan menghilangkan nyawa seseorang.

Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, praktik ini tetap menempati ruang tersendiri dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Dikutip dari Jurnal UIN Antasari, santet didefinisikan sebagai masuknya benda atau unsur tertentu ke dalam tubuh orang lain secara gaib, dengan tujuan menyakiti atau merusak kehidupan korban.

Benda-benda itu dipercaya tidak kasatmata, namun diyakini memiliki dampak nyata.

Warisan Gelap Sejak Zaman Kerajaan

Sejarah mencatat, praktik ilmu hitam telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan kuno di Jawa dan Bali, seperti Majapahit.

Pada masa itu, kemampuan supranatural tidak selalu dipandang negatif.

Justru, para penguasa kerap memiliki orang-orang khusus yang bertugas menjaga pertahanan spiritual kerajaan.

Namun seiring waktu, ilmu-ilmu tersebut bergeser fungsi. Dari alat perlindungan, berubah menjadi sarana balas dendam, kecemburuan, hingga ambisi pribadi.

Santet pun perlahan mendapatkan stigma sebagai ilmu hitam yang menebar penderitaan.

9 Jenis Santet yang Masih Dipercaya Populer

Meski mayoritas masyarakat Indonesia berpegang pada ajaran agama, kepercayaan terhadap santet masih hidup di sebagian kalangan.

Dalam Repository UIN Walisongo Semarang, Ustadz Abu Iqbal menyebutkan setidaknya ada sembilan jenis santet yang paling sering dipercaya dan dibicarakan di masyarakat.

Jenis pertama adalah santet pemisah, yang bertujuan merusak hubungan manusia.

Korbannya bisa mengalami konflik rumah tangga hingga perceraian, atau putusnya hubungan persahabatan dan persaudaraan tanpa sebab yang jelas.

Kedua, santet mahabbah atau yang lebih dikenal sebagai pelet. Ilmu ini dipercaya digunakan untuk memaksa rasa cinta, membuat target terobsesi dan kehilangan kehendak bebasnya.

Ketiga, santet takhayul, yang memicu halusinasi dan ketakutan tak beralasan. Korban sering merasa diikuti, melihat bayangan, atau hidup dalam kecemasan terus-menerus.

Keempat, santet pembuat kelesuan, yang ditujukan untuk melemahkan semangat hidup. Korban menjadi malas, kehilangan motivasi, dan seolah tak memiliki tenaga untuk beraktivitas.

Kelima, santet suara panggilan, di mana korban mengaku mendengar suara-suara aneh atau panggilan misterius yang hanya bisa didengarnya sendiri.

Jenis keenam adalah santet pembawa penyakit. Penyakit yang muncul sering kali sulit didiagnosis secara medis, meski gejalanya nyata dan melemahkan tubuh.

Ketujuh, santet pendarahan, yang dipercaya menargetkan organ tertentu dan menyebabkan pendarahan internal tanpa sebab medis yang jelas.

Kedelapan, santet penghalang pernikahan, yang digunakan untuk menggagalkan hubungan menuju jenjang pernikahan.

Hubungan mendadak retak, restu keluarga menghilang, atau muncul hambatan tak terduga.

Kesembilan adalah santet Al A’in, atau santet mata dengki. Ilmu ini dipercaya bekerja melalui pandangan penuh iri hati, menyebabkan kesialan atau kerusakan mendadak pada orang yang menjadi sasaran.

Ilmu Putih, Jalan Spiritual yang Dipercaya Berbeda

Di tengah cerita kelam tentang santet, masyarakat juga mengenal istilah ilmu putih sebagai kebalikannya.

Ilmu ini diyakini tidak bertujuan mencelakai, melainkan melindungi atau membantu.

Disarikan dari berbagai sumber, perbedaan antara pelaku ilmu hitam dan ilmu putih tak hanya pada tujuan, tetapi juga pada sikap hidup.

Dukun ilmu hitam kerap digambarkan ambisius, frontal, dan tidak ragu melukai orang lain demi kepentingan tertentu.

Sebaliknya, pelaku ilmu putih sering merasa apa yang mereka lakukan adalah bentuk ikhtiar spiritual.

Menariknya, banyak dari mereka yang tetap menjalankan ibadah secara taat, berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, meski berada di wilayah abu-abu antara spiritualitas dan supranatural.

Misteri yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Santet, terlepas dari benar atau tidaknya secara ilmiah, tetap menjadi cermin sisi gelap manusia: iri hati, dendam, dan keinginan menguasai orang lain.

Selama emosi-emosi itu masih ada, cerita tentang ilmu hitam tampaknya akan terus hidup.

Di era modern sekalipun, kisah santet masih menyelinap di balik percakapan pelan, laporan tak resmi, dan pengalaman yang sulit dijelaskan.

Sebuah misteri lama yang terus bertahan, menunggu untuk dipercaya atau disangkal—namun tak pernah sepenuhnya dilupakan. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#santet #ilmu hitam #teluh #misteri #dukun santet