RADARBANYUWANGI.ID - Dalam kepercayaan Jawa, hidup manusia bukan hanya ditentukan oleh usaha fisik, melainkan juga keseimbangan batin. Setiap orang lahir membawa weton, yakni kombinasi antara hari (Senin sampai Minggu) dengan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Weton inilah yang diyakini menentukan watak, rezeki, hingga kecenderungan kesehatan seseorang.
Masyarakat Jawa percaya ada orang yang secara alami kuat dan jarang sakit, ada pula yang lahir dengan fisik lebih rentan. Namun, bukan berarti mereka tidak bisa sehat.
Kuncinya adalah tirakat, yakni laku prihatin berupa pengendalian diri, puasa, doa, atau sekadar hidup sederhana yang selaras dengan alam. Tirakat dianggap sebagai “penjaga” keseimbangan antara raga dan jiwa.
Primbon Jawa menyebut bahwa ada beberapa weton yang lebih cepat jatuh sakit bila melupakan tirakat.
Mereka butuh keseimbangan batin agar fisik tetap kuat. Tanpa tirakat, tubuh mereka mudah lelah, gampang terserang penyakit, dan energi batin terasa timpang. Dilansir dari Primbon Jawa, berikut daftarnya.
1. Senin Wage
Senin Wage sering melahirkan pribadi yang halus budi dan perasaannya peka. Mereka cenderung memikirkan banyak hal, sehingga cepat terbawa stres.
Stres inilah yang sering berdampak ke fisik kepala pusing, badan lemas, hingga daya tahan tubuh menurun.
Jika lupa tirakat, orang Senin Wage rawan mengalami gangguan kesehatan berulang. Mereka butuh keseimbangan batin, misalnya dengan puasa Senin Kamis atau doa rutin agar pikirannya tidak terlalu terbebani.
2. Rabu Pon
Rabu Pon dikenal punya semangat tinggi dan aktif bekerja. Namun, energi besar itu membuat mereka sering menguras tenaga secara berlebihan. Jika lupa menjaga tirakat, tubuhnya cepat drop, mudah sakit, bahkan bisa jatuh kelelahan.
Tirakat ringan seperti membatasi kesenangan, mengatur pola istirahat, atau melatih diri dengan laku prihatin sederhana bisa menjaga energi mereka tetap stabil.
3. Jumat Wage
Orang Jumat Wage biasanya dikenal lembut, suka menolong, dan ramah. Namun tubuh mereka sensitif. Jika terlalu sibuk atau sering begadang, mereka mudah jatuh sakit.
Primbon menyebut weton ini perlu mengingat tirakat, agar tenaga yang terkuras dari aktivitas sosial bisa kembali pulih.
Tanpa tirakat, orang Jumat Wage rawan kelelahan fisik dan mental. Karena itu mereka disarankan rajin doa malam atau menyempatkan diri untuk menyepi.
4. Selasa Kliwon
Selasa Kliwon dipercaya memiliki aura spiritual tinggi. Namun sering kali batin yang terlalu kuat membuat tubuh fisik mereka justru rapuh. Jika lupa tirakat, energi spiritual mereka tidak terarah, sehingga tubuh mudah diserang penyakit.
Masyarakat Jawa meyakini orang Selasa Kliwon wajib rajin melakukan laku prihatin agar keseimbangan jasmani dan rohani tetap terjaga.
5. Kamis Legi
Kamis Legi melahirkan pribadi yang ramah, mudah bergaul, dan penuh kehangatan. Akan tetapi, sifat ini sering membuat mereka lupa menjaga diri.
Energi sosial yang besar bisa menguras tenaga. Jika tidak diimbangi tirakat, mereka rawan sakit karena daya tahan tubuh menurun.
Primbon menekankan pentingnya Kamis Legi menjaga kesederhanaan. Mengurangi kesenangan berlebihan, memperbanyak doa, dan menjaga pola makan dipercaya bisa membuat mereka lebih kuat.
Mengapa Tirakat Sangat Penting?
Tirakat dalam pandangan Jawa bukan sekadar ritual mistis, tetapi cara untuk menahan hawa nafsu dan melatih diri. Orang yang lahir dengan weton rentan biasanya cepat jatuh sakit karena tidak punya “penahan” batin. Dengan tirakat, energi dalam tubuh mereka menjadi seimbang.
Primbon menyebut bahwa lupa tirakat berarti membiarkan diri larut dalam kesenangan duniawi. Akibatnya, tubuh dan pikiran lebih mudah lemah, penyakit gampang masuk, dan hidup terasa berat. Sebaliknya, mereka yang rajin tirakat biasanya lebih sehat, lebih tenang, dan lebih kuat menghadapi tekanan.
Namun perlu diingat, tirakat bukan satu-satunya faktor. Kesehatan tetap harus dijaga dengan pola makan, olahraga, istirahat cukup, dan gaya hidup sehat.
Primbon hanyalah warisan budaya yang memberi pengingat bahwa keseimbangan batin dan fisik sama-sama penting dalam kehidupan.
Editor : Agung Sedana