RADARBANYUWANGI.ID - Dalam tradisi Jawa, kehidupan manusia tidak lepas dari hitungan hari kelahiran. Kombinasi antara hari (Senin sampai Minggu) dengan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) melahirkan apa yang disebut sebagai weton.
Weton inilah yang dipercaya menyimpan rahasia watak, rezeki, jodoh, hingga perjalanan hidup seseorang.
Bagi orang Jawa, weton bukan hanya angka, tapi juga cermin karakter. Ada yang dipercaya lahir dengan watak pemberani, ada yang penuh kelembutan, ada pula yang disebut punya “pangrasa” tajam sehingga sulit ditipu.
Sejak zaman dahulu, para leluhur Jawa meyakini bahwa orang dengan weton tertentu memiliki kepekaan luar biasa. Mereka bisa merasakan ketidakberesan, membaca tanda-tanda halus, bahkan tahu ketika ada orang yang mencoba menyembunyikan sesuatu.
Intuisi dalam Primbon Jawa
Primbon Jawa tidak menyebut kemampuan ini sebagai “indra keenam” seperti istilah modern, melainkan lebih kepada ketajaman rasa.
Orang Jawa percaya setiap manusia lahir membawa “cipta, rasa, karsa” yang dipengaruhi oleh wetonnya. Mereka yang punya neptu tinggi dan pasaran kuat biasanya lebih peka terhadap kebohongan.
Masyarakat Jawa pun sering berhati-hati jika berurusan dengan orang yang lahir di weton tertentu. Konon, berbohong di hadapan mereka seperti percuma saja, sebab cepat atau lambat kebenaran akan terbongkar.
Bahkan ada pepatah Jawa, “Sing lairé ana dina iki gampang ngrasa, rekasane angel diapusi”, yang artinya: orang yang lahir di hari tertentu punya rasa tajam sehingga sulit dibohongi.
Kenapa Ada Weton yang Sulit Dibohongi?
Kombinasi antara hari dan pasaran menentukan neptu, angka perhitungan yang menjadi dasar primbon. Neptu inilah yang dipercaya memengaruhi sikap seseorang.
Beberapa weton memiliki neptu dengan karakter waspada, skeptis, dan analitis. Ada juga pasaran seperti Kliwon atau Pahing yang dipercaya memberi kepekaan spiritual tinggi. Jika kedua unsur ini bertemu, maka lahirlah pribadi yang sulit dikelabui.
Mereka biasanya lebih hati-hati dalam berbicara, jarang terburu-buru mengambil keputusan, dan sering mengamati orang lain lebih dalam. Karena itulah, kebohongan kecil pun bisa cepat mereka tangkap. Dilansir dari Primbon Jawa, berikut daftar weton yang bisa melihat kebohongan.
1. Selasa Kliwon
Weton ini dikenal membawa energi panas sekaligus kuat secara spiritual. Orang yang lahir di Selasa Kliwon sering tampak tenang, tetapi sebenarnya sangat peka. Mereka bisa membaca tanda-tanda kecil dari sikap atau kata-kata orang lain. Dalam primbon disebutkan, firasat mereka jarang meleset, sehingga sulit sekali dibohongi.
2. Jumat Pon
Jumat Pon dipercaya memadukan berkah hari Jumat dengan ketegasan pasaran Pon. Mereka yang lahir di weton ini punya naluri tajam untuk membedakan kejujuran dan kebohongan. Biasanya orang Jumat Pon tidak gampang termakan bujuk rayu. Mereka cepat menangkap jika cerita lawan bicara tidak sinkron.
3. Rabu Pahing
Rabu Pahing punya neptu tinggi yang melahirkan pribadi penuh perhitungan. Mereka selalu menganalisis ucapan orang lain. Sifat kritis dan daya ingat kuat membuat mereka bisa menandai kebohongan kecil sekalipun. Tidak heran jika orang Rabu Pahing sering dijadikan penengah dalam keluarga atau kelompok karena dianggap bijak.
4. Senin Kliwon
Senin Kliwon disebut-sebut memiliki “pangrasa” halus yang kuat. Mereka peka terhadap suasana sekitar, bahkan bisa langsung merasa ada yang janggal meski tidak bisa dijelaskan dengan logika. Karena itu, banyak orang enggan berbohong di depan orang Senin Kliwon, sebab hati kecil mereka seolah langsung menolak ucapan dusta.
5. Kamis Wage
Kamis Wage terlihat sederhana, tapi dalam hitungan Jawa weton ini menghasilkan pribadi waspada. Mereka tidak mudah percaya begitu saja. Orang Kamis Wage lebih memilih melihat bukti nyata ketimbang mendengar cerita panjang. Sikap skeptis ini membuat mereka jarang tertipu, bahkan oleh orang terdekat sekalipun.
Primbon Jawa menyebut bahwa beberapa weton seperti Selasa Kliwon, Jumat Pon, Rabu Pahing, Senin Kliwon, dan Kamis Wage punya intuisi tajam dan sulit dibohongi. Mereka lahir dengan watak penuh perhitungan, skeptis, dan peka terhadap tanda-tanda kecil yang sering luput dari orang lain.
Namun tentu saja, karakter seseorang tidak hanya ditentukan oleh weton. Lingkungan, pendidikan, dan pengalaman hidup juga punya peran besar. Weton hanya menjadi warisan budaya Jawa untuk menambah keyakinan sekaligus bahan renungan dalam melihat pribadi manusia.
Editor : Agung Sedana