RADARBANYUWANGI.ID – Pepatah berkata "Arek wedok ojo maem teng lemper, pas rabi kudanan" ialah salah satu mitos yang masih berkembang di masyarakat Jawa.
Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berarti “Anak gadis perempuan jangan makan di cobek, nanti pernikahannya akan turun hujan.” Tetap saja perempuan yang jadi sasaran utama mitos Jawa.
Mitos seperti ini terus dilantangkan kepada anak cucu oleh orang tua, apalagi di lingkungan masyarakat tradisional. Namun, apakah pepatah ini benar adanya?
Yuk, simak penjelasannya menurut tradisi jawa dan perspektif modern yang rasional di bawah ini.
Menurut Budaya Jawa
Di dalam tradisi dan budaya Jawa “kental”, banyak sekali pantangan dan larangan bagi perempuan lajang yang berkaitan dengan “unggah-ungguh” atau perilaku sehari-harinya.
Salah satunya yang kita bahas ini, yakni larangan makan menggunakan lemper atau beralaskan cobek.
Konon katanya, jika anak gadis tetap melanggar pantangan ini, suatu hari saat pernikahannya akan turun hujan yang tidak ada hentinya.
Masyarakat Jawa percaya bahwa hujan yang turun saat hari pernikahan ialah pertanda sial atau menjadi hambatan serta gangguan dalam prosesi sacral pernikahan.
Kembali lagi, ungkapan ini termasuk dalam kepercayaan masyarakat tradisional yang diwariskan kepada anak cucu nya secara turun temurun.
Tidak lain tidak bukan, fungsinya sebagai pengingat agar anak-anak gadis bisa menjaga tata krama dan sopan santun. Tidak sembarangan “nglanggar tatanan” di ruang makan maupun dapur.
Perspektif Modern Rasional
Di era modern ini jika di logika, tidak ada kaitannya antara makan menggunakan cobek dengan keadaan cuaca di hari pernikahan.
Mitos ini hanya bersifat simbolis dan jadi bagian dari tradisi lokal yang digunakan orang tua untuk menanamkan dan menjaga nilai-nilai budaya dalam masyarakat.
Baca Juga: Oalah Nduk Jangan Duduk di Pintu! Mitos Jawa untuk Gadis Perawan, Bernarkah Bikin Seret Jodoh?
Jika diperluas, konteks hujan saat hari pernikahan memiliki makna yang berbeda-beda, ada yang beranggapan bahwa hujan ini sebagai tanda melimpahnya rejeki sang pengantin.
Ada pula yang mengartikan sebagai hambatan atau ujian di kehidupan rumah tangga. Percaya atau tidaknya kita apalagi para Gen-Z ini, tata krama dan sopan santun tetap kita junjung tinggi. Karena martabat seorang perempuan sangat dijaga.
Editor : Agung Sedana