Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil
- Malam di Balik Kabut -
Api unggun mereka menyala lemah, seolah tahu dirinya tak bisa berbuat banyak untuk mengusir hawa ganjil yang kian merayap masuk. Daun-daun di sekeliling tenda berdesir pelan, tapi arah angin tak pernah konsisten. Kadang dari timur, lalu tiba-tiba dari barat.
Kabut turun perlahan, menumpuk di tanah seperti selimut dingin yang tidak diundang. Mereka semua duduk melingkar, tapi tak ada yang bicara. Kata-kata Dito di malam sebelumnya menggantung seperti kabut, tak hilang, tapi juga tak bisa digenggam.
"Aku nggak suka suasana ini," gumam Andin pelan, menggigit ujung selimut.
Jojo masih sibuk dengan kameranya, mengecek satu per satu foto hasil jepretan otomatis yang entah mengapa terus bertambah. Di layar LCD-nya, ada satu gambar yang baru saja tertangkap: ladang jagung. Tapi kali ini berbeda. Jagung-jagung itu... seperti menoleh.
Damar mencoba mengambil alih suasana. “Oke, besok kita mulai turun pagi-pagi. Lewat jalur yang kita kenal,” katanya dengan nada tegas.
“Kalau kita masih bisa turun,” sahut Raka, tanpa melihat siapa pun. Ia sibuk menajamkan ujung kayu dengan pisau lipat. “Apa pun yang mengelilingi kita, rasanya tidak mau kita keluar semudah itu.”
Maya melirik Dito yang masih duduk di sudut, tak banyak bicara setelah membuka rahasianya. Seolah ia sedang menunggu sesuatu.
Lalu, tanpa aba-aba, Sinta berdiri. "Aku butuh udara."
“Aku temani,” kata Tyo cepat.
Sinta mengangguk, dan mereka berdua berjalan menjauh dari tenda, menyusuri jalur kecil yang mengarah ke balik bukit. Jojo hendak memprotes, tapi Damar hanya berkata, “Biarkan saja. Asal jangan jauh.”
CINTA TAK PERNAH SALAH, HANYA WAKTU YANG TIDAK TEPAT
Sinta dan Tyo berjalan pelan. Hutan malam itu begitu sunyi, sampai napas mereka sendiri seperti gema. Mereka berhenti di sisi jurang kecil, melihat kabut turun ke lembah.
“Kamu beneran percaya Dito?” tanya Tyo. “Entahlah. Tapi dari dulu, aku merasa dia... aneh,” sahut Sinta.
“Tapi juga tulus. Cuma kayak... ada sisi lain yang nggak pernah dia tunjukin.”
Tyo terdiam. Ia menatap ke arah Sinta, menahan sesuatu sejak lama. “Sinta... boleh jujur nggak?”
“Hm?”
“Aku tau kamu deket sama Damar. Dan mungkin kamu... ya, ada rasa. Tapi aku juga nggak bisa bohong kalau aku suka kamu sejak awal kita kenal.”
Sinta terdiam. Tidak langsung menolak. Tidak langsung menerima.
“Ty... ini bukan waktu yang tepat.”
Tapi sebelum Tyo bisa menjawab, terdengar suara dari balik semak-semak. Bukan hewan. Bukan angin. Suara langkah. Sesuatu... berjalan. Mereka saling tatap. “Balik,” bisik Sinta. “Sekarang!!!”
Tapi langkah itu semakin dekat. Derap pelan, berat, menyeret dedaunan. Tyo menarik tangan Sinta dan mereka mulai berlari. Tapi arah ke tenda terasa tak lagi jelas.
Kabut terlalu tebal. Mereka memanggil-manggil nama teman-temannya, tapi tak ada jawaban. Lalu, dari balik kabut, seseorang muncul. Seorang lelaki tua. Kepalanya ditutupi caping. Bajunya sobek-sobek. Dan wajahnya... Tak ada.
Hanya permukaan halus, tanpa mata, tanpa mulut, tanpa hidung. Sinta menjerit. Tyo berdiri membeku, tubuhnya menolak untuk bergerak. Tapi sosok itu tak mendekat. Ia hanya berdiri... lalu menunjuk ke satu arah: ke balik kabut. Lalu hilang.
Tyo dan Sinta akhirnya berhasil kembali ke perkemahan, napas terengah dan peluh membasahi wajah mereka meski udara begitu dingin.
“Kalian ke mana aja?” bentak Damar.
“Ada... orang... tapi bukan orang,” kata Sinta masih terisak.
Raka langsung berdiri, mengambil parang yang ia simpan. “Kita harus turun sekarang juga.”
“Enggak!!!!” potong Dito. “Kita belum bisa. Kalian semua harus tau satu hal lagi.”
Maya menatap Dito penuh curiga. “Apa lagi yang kamu sembunyikan?” Dito menarik napas panjang.
“Jagung itu... pernah kupetik. Dulu. Waktu kecil. Aku tidak hilang. Tapi aku juga tidak kembali sebagai orang yang sama.”
Semua mematung..........
“Aku dikasih pilihan. Antara kembali ke dunia nyata... dengan membawa sesuatu yang sangat berharga—dengan harga. Atau... tetap tinggal dan menjadi bagian dari mereka.”
“Siapa ‘mereka’?” tanya Andin gemetar.
“Penjaga ladang. Mereka bukan manusia. Tapi mereka bisa menyerupai. Mereka tidak bisa menyentuh kita... kecuali kita menginginkan sesuatu dari mereka.”
Jojo menatap Dito tajam. “Dan kamu mau menukar sesuatu lagi?”
Dito menunduk. “Sudah.....”
Malam itu, satu suara terdengar jelas di dalam tenda Maya, suara yang menyerupai ibunya, memanggil dengan nada lembut.
Sementara Jojo bangun dan mendapati satu jagung emas tergeletak di depan tendanya. Dan di kamera, satu foto baru muncul. Tyo dan Sinta... berdiri di ladang jagung. Padahal mereka tak pernah ke sana lagi. (Bersambung ke Episode 5...)
Editor : Agung Sedana