Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil - Kisah Horor Gunung Raung Episode 3

Agung Sedana • Selasa, 10 Juni 2025 | 08:36 WIB

Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil. Sebuah kisah mistis berseri pendakian Gunung Raung.
Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil. Sebuah kisah mistis berseri pendakian Gunung Raung.

Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil

- Langkah yang Tak Berjejak -

Matahari naik malas dari balik kabut, mengintipkan sinarnya di sela dedaunan yang basah. Di pos terakhir sebelum turun, suara burung dan desir angin bersatu menjadi musik alam yang biasanya menenangkan. Tapi pagi itu, ketenangan terasa seperti jebakan.

Sembilan pemuda itu duduk melingkar, menatap sarapan mereka yang dingin, roti sobek dan bubuk cokelat dalam air panas. Tidak ada yang berbicara banyak. Hanya Jojo yang sesekali mengecek kameranya dengan alis berkerut.

“Ini aneh,” gumamnya.
“Kamera kamu kenapa?” tanya Eza.

Jojo menunjukkan layar. “Lihat ini... fotonya jelas-jelas dari semalam. Tapi gak ada yang megang kamera ini.”

Sinta memelototi layar. Foto itu menampilkan ladang jagung yang mereka temui kemarin. Tapi sekarang, jagungnya tampak tumbuh lebih tinggi... dan ada satu sosok samar berdiri membelakangi kamera di tengah ladang.

“Itu Dito?” Maya bertanya pelan. “Masalahnya, Dito semalam tidur di tenda yang sama sama aku,” jawab Jojo. “Dan dia gak ke mana-mana.”

Mereka semua menoleh ke arah Dito yang duduk beberapa meter dari mereka, sedang menatap kosong ke arah hutan. Ia tidak bergabung dalam lingkaran. Tidak makan. Tidak bicara.

“Dia semakin aneh,” bisik Raka ke Damar. “Kita harus cepat turun. Sebelum ada yang makin gak beres,” balas Damar.

Perjalanan turun dimulai pukul delapan pagi. Jalur yang mereka lalui kini terasa berbeda. Akar-akar pohon yang semalam biasa saja, kini tampak seperti menjulur mencari pijakan. Pohon-pohon berdiri terlalu diam. Dan kabut... datang terlalu cepat.

Beberapa jam berjalan, mereka mulai merasa seperti berputar di tempat. Raka yang biasanya bisa membaca jalur mulai meragukan dirinya sendiri. Kompas digitalnya sempat menunjukkan arah yang berputar-putar. GPS mati total.

“Kita gak mungkin lewat sini tadi,” kata Sinta panik. “Tadi kita gak nemu batu gede itu.”

Andin, yang biasanya tenang, mulai menangis pelan. “Kita kesasar ya...”

“Kita gak kesasar,” potong Dito tiba-tiba. “Kita sedang diuji.” Semua langsung menoleh.

“Diuji sama siapa?” tanya Eza sengit. Dito hanya tersenyum. “Sama yang punya tempat ini.”

Dan saat itu, seperti satu komando alam, angin bertiup kencang. Kabut menyerbu dari segala arah, menelan mereka dalam putih pekat. Dalam hitungan detik, jarak pandang hanya tersisa dua meter.

“Kumpul! Kumpul semua!” Damar berteriak.
Namun suara itu seperti teredam. Andin berteriak memanggil nama Tyo. Jojo memanggil Maya. Suara bersahutan, tapi tak tahu arah. Kabut menceraikan mereka.

Dalam kekacauan itu, Maya merasa ada yang menyentuh lengannya. Dingin. Lembut. “Maya...” Ia menoleh. Seseorang berdiri di sana. Seorang lelaki tua. Bajunya compang-camping. Tidak punya wajah.

Maya mundur ketakutan. Tapi saat ia berbalik, Eza sudah ada di belakangnya dan menarik tangannya. “Kamu lihat juga, ya?” Dia hanya bisa mengangguk.

Sore itu, mereka berhasil berkumpul kembali, tapi suasana sudah berubah total. Tyo dan Andin saling diam. Maya menempel terus pada Eza. Jojo terlihat seperti habis melihat hantu. Raka mulai curiga kalau GPS dan kompas mereka telah dimanipulasi oleh sesuatu.

Dito masih dengan wajah kosongnya, namun kali ini ia bicara pada Damar secara empat mata. “Kita harus balik ke ladang itu.”

“Apa maksudmu? Kita mau turun, bukan cari mati.”

“Kalau kita terus memaksa keluar dari jalur, kita justru akan dibawa lebih dalam. Aku tahu caranya keluar. Tapi kita harus melewati jagung itu.”
“Kenapa kamu begitu yakin?” Dito menatap mata Damar dalam-dalam.
“Karena aku pernah ke sana. Dulu. Waktu kecil.”

Malam itu, Dito akhirnya bercerita. Sebuah rahasia yang membuat seluruh kelompok terdiam. Dulu, sebelum mereka semua saling kenal, Dito pernah ikut orang tuanya mendaki jalur non-resmi Gunung Raung. Mereka bagian dari kelompok spiritual yang katanya ingin bersemedi di tempat tertentu. Tapi yang terjadi adalah kekacauan.

Orang-orang dewasa itu hilang satu per satu. Dan hanya Dito kecil yang ditemukan tiga hari kemudian, duduk tenang di tengah ladang jagung emas. Ia tak bisa bicara selama enam bulan.
“Semenjak itu... aku tahu, tempat itu bukan sekadar ladang. Tapi semacam gerbang.”
“Gerbang ke mana?” tanya Maya.
“Ke tempat yang nggak bisa dijelaskan. Tapi kadang, kalau kamu beruntung... kamu bisa minta sesuatu.”

Suasana menjadi semakin berat. “Jadi kamu kesini lagi untuk minta sesuatu?” tanya Jojo tajam. Dito menatap ke langit gelap. “Bukan minta. Tapi menukar.” (Bersambung ke Episode 4...)

Baca Juga: Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil - Kisah Horor Gunung Raung Episode 4

Editor : Agung Sedana
#kisah horor #Pendaki yang Dipanggil #Ladang Tak Bertuan #gunung raung