Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil - Kisah Horor Gunung Raung Episode 2

Agung Sedana • Minggu, 8 Juni 2025 | 09:54 WIB
Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil. Sebuah kisah mistis berseri pendakian Gunung Raung.
Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil. Sebuah kisah mistis berseri pendakian Gunung Raung.

Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil

- Jalur yang Tak Tercatat -

Kabut tipis masih menyelimuti bumi saat cahaya pagi menyusup malu-malu di antara pepohonan. Udara Gunung Raung yang menggigit terasa semakin menekan, seakan ikut menyimpan rahasia yang tak ingin dibuka. Sembilan pemuda itu berdiri berderet, menyiapkan diri untuk summit attack menuju puncak yang konon jadi tempat terakhir orang-orang yang berani menantang alam dan mendobrak batas.

Damar, yang kini lebih serius dari biasanya, memeriksa ulang jalur melalui peta lusuh yang mereka bawa. “Kita lewat jalur resmi. Puncak Tusuk Gigi bisa ditempuh sekitar empat jam dari sini,” katanya tegas.

“Kalau lewat jalur yang ‘itu’, lebih cepat, kan? Aku dengar dari basecamp, di sana pemandangannya gila. Tapi ya itu... katanya banyak cerita aneh.”celetuk Jojo sambil menunjuk arah timur, arah yang kabarnya jarang dilalui pendaki.

“Enggak, Jalur itu nggak direkomendasikan. Terlalu sepi, dan rawan salah arah.”  jawab Raka cepat.

Namun Dito, yang sejak malam sebelumnya semakin murung, tiba-tiba angkat bicara. “Kalau kalian takut, nggak usah ikut.”

Semua terdiam. Maya melirik Dito dengan cemas. “Kamu baik-baik aja, Dit?”

Dito tidak menjawab. Ia justru berjalan duluan, tanpa menunggu persetujuan siapa pun. Entah kenapa, langkahnya seolah tahu ke mana harus pergi. Damar akhirnya mengangguk. “Oke, kita jalan. Tapi tetap dalam formasi, jangan ada yang terpisah.” danMereka pun bergerak.

Di tengah perjalanan, suara-suara ganjil kembali muncul. Angin mendesir aneh, seolah membawa gumaman tak jelas. Andin yang berada di tengah formasi mengaku mendengar seperti suara orang tertawa, pelan, tertahan. Tapi setiap kali menoleh, hanya ada pohon dan bayang-bayang.

Sinta yang berjalan di depan bersama Damar mulai merasa ada yang mengikuti. Setiap kali ia menoleh, dedaunan tampak bergetar meski tidak ada angin. Di balik pepohonan, seperti ada mata yang memperhatikan.

Eza, yang awalnya banyak diam, kini mulai merasa tidak enak. “Bro, jalur ini nggak masuk peta, loh. Kita beneran masih di jalur resmi?”

Raka meneguk air dan menatap kompas digitalnya. “Koordinat masih aman. Tapi memang... kita agak bergeser. Mungkin karena Dito yang ambil arah duluan.”

Jojo yang di belakang tertawa sinis. “Atau jangan-jangan dia sengaja...”


Mereka akhirnya sampai di sebuah dataran aneh. Bukan puncak, bukan juga pos. Tapi di sana ada sebuah pohon beringin tua, raksasa, menjulang seperti penjaga gerbang. Dan di bawahnya area terbuka, malah lebih mirip seperti bekas ladang.

Disitu, tumbuh satu tanaman familiar. Jagung, tapi bukan sembarang jagung. Warnanya keemasan, mengilap, dan tidak memiliki klobot. Seolah langsung tumbuh dalam bentuk yang sempurna. Seolah... bukan dari dunia ini.

Andin berbisik ketakutan, “Apa ttu... jagung yang aku baca.”

“Gila, ini beneran ada,” ujar Maya pelan. “Tapi... siapa yang menanamnya?”

Mereka semua diam. Damar melangkah mendekat, tapi Raka menarik lengannya.
“Jangan. Kita nggak tahu apa yang bisa terjadi.”

Tiba-tiba Dito muncul dari balik semak. "Akhirnya ketemu juga,"

“Apa maksudmu?” tanya Sinta. “Aku harus mengambilnya.” jawab Dito.

Semua langsung panik. “GILA KAMU?” seru Jojo. “Kita udah dengar cerita-cerita soal ini! Orang bisa ilang karena jagung itu!”

Dito memandangi mereka semua satu per satu. “Nanti kalian juga tahu. Tapi sekarang, kalian boleh lanjut ke puncak. Aku akan tinggal di sini.”

Damar menolak. “Gak bisa. Kita semua naik bareng, turun bareng. Itu kesepakatan.”

Tapi Dito tak peduli. Ia melepas carrier-nya, duduk di dekat ladang jagung itu seperti sedang menunggu sesuatu. Sementara yang lain, setelah perdebatan panjang, memutuskan melanjutkan perjalanan ke puncak. Namun tidak ada yang merasa tenang. Suasana seperti menyimpan firasat buruk. Bahkan langit pun kini berubah mendung padahal belum siang.

Puncak akhirnya tercapai. Tapi kegembiraan yang biasa menyertai pendaki saat berhasil sampai ke puncak, tak dirasakan mereka.

“Kenapa ya, semuanya terasa... salah,” ucap Andin pelan sambil melihat ke bawah, ke arah tempat pohon beringin tadi berada.

Damar mencoba bersikap tenang. “Kita turun setelah makan siang. Kita jemput Dito, lalu langsung turun.”

Namun saat mereka tiba kembali di lokasi ladang jagung itu, nampak Dito duduk bersila, tenang, seperti orang yang sedang bermeditasi. Tatapannya kosong, tapi tidak menyeramkan. Di hadapannya, jagung emas itu tetap berdiri angkuh dalam keheningan.

“Kamu ngapain aja di sini?” tanya Raka. Dito menoleh, tersenyum pelan. “Menunggu waktu yang tepat.”

“Kita harus turun sekarang. Kita udah sepakat semua bareng,” tegas Damar. Dito berdiri. “Baik. Tapi... nanti aku bakal balik lagi ke sini.”

Tak seorang pun menanggapi kalimat itu. Mereka terlalu lelah dan bingung untuk melawan argumen yang terasa tidak masuk akal. Malam itu mereka mendirikan tenda di pos terakhir sebelum turun gunung. Suasana tegang perlahan mencair karena mereka berpikir semuanya akan kembali normal.

Namun, satu per satu mengalami mimpi yang sama: suara tawa lirih, ladang jagung yang bersinar keemasan di bawah sinar bulan, dan bayangan seseorang yang perlahan masuk ke ladang itu... dan menghilang.

Esok paginya, saat semua berkumpul untuk sarapan, Dito masih terlihat seperti biasa. Tapi ada yang berubah di matanya. Bukan kegilaan, bukan pula ketakutan. Lebih seperti... seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.

Dan di saat yang sama, kamera Jojo memotret sendiri saat tak ada seorang pun menyentuhnya. Foto yang terekam? Ladang jagung. Tapi bukan yang mereka lihat kemarin. Melainkan ladang jagung dengan Dito di dalamnya. Padahal dia belum pergi ke mana-mana... (Bersambung ke Episode 3...)

Baca Juga: Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil - Kisah Horor Gunung Raung Episode 3

Editor : Agung Sedana
#kisah horor #Pendaki yang Dipanggil #Ladang Tak Bertuan #gunung raung #mitos