Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil - Kisah Horor Gunung Raung Episode 1
Agung Sedana• Minggu, 8 Juni 2025 | 09:14 WIB
Cerita sosok peri yang kerap muncul ditemui para pendaki Gunung Raung.
Ladang Tak Bertuan : Pendaki yang Dipanggil
- Tiket Menuju Rahasia -
Musim liburan semester selalu membawa dua hal, pelarian dan pencarian. Bagi sembilan mahasiswa yang terikat dalam satu lingkaran pertemanan ini, pendakian ke Gunung Raung bukan sekadar rencana iseng. Ada yang ingin menaklukkan alam, ada yang ingin kabur dari rutinitas, dan ada pula yang tanpa disadari membawa beban yang lebih berat dari carrier di pundaknya.
Kereta ekonomi yang mereka tumpangi meluncur pelan menembus malam. Di dalamnya, candaan dan obrolan mengalir lepas. Cahaya lampu kereta menyorot wajah-wajah muda yang penuh semangat, meski sebagian menyembunyikan sesuatu di balik senyum tipis.
Adalah Damar, pemuda karismatik yang selalu jadi pusat perhatian. Tak resmi menjadi pemimpin kelompok, tapi semua tahu Damar-lah porosnya. Di sampingnya duduk Sinta, gadis berkerudung yang tangguh dan supel. Ia sering disebut sebagai “logistik berjalan” karena selalu membawa yang dibutuhkan tanpa diminta.
Lalu ada Raka, pendiam, tapi punya insting tajam dalam membaca jalur. Sahabat karibnya, Jojo, kebalikan total. Ia ceplas-ceplos, lucu, dan tak pernah lepas dari kamera analog yang digantung di lehernya.
Di kursi lain, tampak Maya yang anggun tapi penuh misteri, duduk bersisian dengan Eza, lelaki cool yang kalau tertawa bisa membuat suasana langsung cair. Sementara dua anggota paling muda, Andin dan Tyo, tampak sibuk sendiri. Andin sibuk membaca buku survival, Tyo memainkan game di ponsel.
Satu lagi, sosok yang paling jarang bicara namun selalu memperhatikan, Dito. Tatapan matanya sering kosong, tapi kalau bicara, semua langsung diam. Ia bukan orang yang mudah ditebak.
“Raung, tunggu kami!” Jojo berteriak sambil mengacungkan kameranya keluar jendela yang gelap. Yang lain tertawa. Tapi Dito hanya menatap pantulan wajahnya di kaca. Sepatah gumam pun tak keluar.
Mereka tiba pagi harinya di stasiun kecil, lalu melanjutkan perjalanan ke basecamp dengan ojek. Gunung menyambut mereka dengan kabut tipis dan aroma tanah basah.
Jalur pendakian masih terlihat bersahabat, dan hari itu mereka putuskan untuk beristirahat satu malam di basecamp.
Malam itu, ketika angin menyelinap ke sela-sela tenda dan obrolan mulai melambat, Andin menceritakan kisah yang ia baca. “Kalian pernah dengar tentang jagung emas di Gunung Raung?” katanya lirih.
“Yang bisa bikin orang ilang itu?” tanya Tyo, pura-pura merinding.
“Iya. Jadi katanya, jagung itu cuma muncul di puncak-puncak tertentu. Nggak ada kulitnya. Warnanya emas mengilap. Tapi kalau ada yang metik atau makan... ya sudah, nggak bakal bisa turun lagi.”
“Hoax itu, Din,” potong Jojo. “Di hutan nggak ada jagung. Yang ada cuma ranting sama pacet.”
Tapi Raka tampak gelisah. Ia melirik ke Dito yang tiba-tiba berdiri dan pergi menjauh dari api unggun. “Dia kenapa?” tanya Maya.
“Gatau. Mungkin capek,” kata Damar, menengahi.
Esoknya, mereka mulai mendaki. Jalur menanjak tak jadi soal bagi kelompok ini, mereka sudah cukup berpengalaman, kecuali Tyo yang sering tertinggal dan mengeluh soal lututnya. Namun, satu per satu mulai merasakan hal-hal aneh.
Seperti ketika Sinta yakin betul ia mendengar suara perempuan menyanyi di antara hutan pinus padahal tak ada orang lain selain mereka.
Atau saat Maya melihat seorang lelaki tua berdiri di kejauhan, hanya diam memandangi mereka, lalu hilang begitu saja.
“Pikiranmu aja itu. Mungkin karena kita semua lagi capek,” kata Eza sambil mengelus punggung Maya.
Sementara itu, Dito lebih banyak diam. Tapi diamnya kini terasa lebih berat. Seolah ia tahu sesuatu yang orang lain tak tahu. Setiap kali melewati tempat yang sepi, ia menatap pepohonan seakan sedang membaca pertanda.
Sore menjelang. Mereka tiba di sebuah area datar, cukup luas untuk mendirikan tenda.
Langit mendung dan udara mulai menggigit. Malam itu, mereka kembali duduk melingkar, makan mi rebus dan meneguk kopi sachet seadanya.
“Besok kita lanjut summit,” kata Damar. “Kalau cuaca mendukung, kita bisa ke puncak sebelum jam sembilan.”
Semua mengangguk. Tapi suasana malam itu jauh lebih hening dari sebelumnya. Tidak ada lelucon Jojo. Tidak ada obrolan santai.
Yang ada hanya dengus napas dan gemeretak api kecil. Kemudian, terdengar langkah pelan dari arah hutan. Semua menoleh, refleks.
“Siapa itu?” tanya Andin pelan. Tak ada jawaban. Tapi langkah itu berhenti di balik bayangan pohon. Jojo mengambil senter dan mengarahkannya. Tak ada siapa pun.
“Sudahlah, itu mungkin binatang,” kata Raka, meski suaranya sendiri bergetar. Namun Dito tiba-tiba berkata, “Itu penjaga.” Sontak semua terdiam.
“Penjaga apa?” tanya Sinta. Jawab Dito singkat, “Kalau kalian denger suara langkah atau bisikan, jangan jawab. Apalagi kalau dia menawarkan sesuatu.”
Andin terlihat mulai ketakutan. “Kamu serius?” Tapi Dito tak menjawab. Ia hanya berdiri lalu masuk ke tendanya. Tak seorang pun berani mengusik.
Malam itu panjang. Angin membawa suara-suara yang tak jelas, seperti bisikan, atau... tawa lirih seorang perempuan. Maya mengaku melihat sekelebat bayangan duduk di dekat api unggun meski semua sudah masuk tenda.
Sinta merasa tenda mereka sempat diseret beberapa senti. Bahkan Jojo, yang paling tak percaya hantu, mengaku kameranya menyala sendiri dan memotret dalam gelap.
Namun ketika pagi tiba, mereka semua masih lengkap. Ada sesuatu yang kini menggantung di antara mereka. Seperti tali yang hampir putus, tapi belum benar-benar terurai...... (bersambung ke episode 2...)