Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerita Horor dari Alas Purwo Banyuwangi, Gamelan dan Perempuan yang Menari

Agung Sedana • Kamis, 5 Juni 2025 | 08:10 WIB
Kisah horor dari hutan tertua di Pulau Jawa, Alas Purwo. Cerita remaja dan alunan gamelan merdu, wanita cantik sedang menari di tengah gelap malam.
Kisah horor dari hutan tertua di Pulau Jawa, Alas Purwo. Cerita remaja dan alunan gamelan merdu, wanita cantik sedang menari di tengah gelap malam.

RADARBANYUWANGI.ID - Alas Purwo, hutan tertua di Pulau Jawa, menyimpan lebih dari sekadar mitos. Di balik ribuan hektare pepohonan jati dan semak belukar yang menjulur hingga ke pantai selatan, ada ruang tak kasatmata yang dihuni oleh mereka yang tak mengenal batas hidup dan mati.

Warga sekitar tak pernah benar-benar membicarakannya secara terbuka. Tapi setiap kali ada yang bertanya, mereka hanya menjawab dengan pelan “Di sana, hukum manusia tidak berlaku.”

Tahun 2021, lima mahasiswa dari fakultas budaya dan seni salah satu universitas negeri besar datang ke sana. Proyek mereka adalah dokumenter eksperimental, menggali sisi spiritual dan mistis dari tempat-tempat sakral di Jawa Timur.

Mereka masih muda, penuh semangat, dan percaya diri. Terlalu percaya diri, barangkali.

Sebelum masuk ke kawasan hutan, mereka sempat menginap satu malam di rumah warga sekitar, tepat di sebuah kampung kecil di ujung akses Alas Purwo.

Pemilik rumah memperingatkan mereka agar tidak lebih dari dua malam berada di dalam hutan, apalagi di titik-titik yang dikenal sebagai jalur gaib.

Tapi seperti kebanyakan orang kota yang dibesarkan oleh nalar dan kamera digital, peringatan itu dianggap sebagai bagian dari "kearifan lokal" yang menarik untuk direkam, bukan ditaati.

Mereka masuk hutan pada hari Senin sore. Membawa peralatan lengkap, drone, kamera DSLR, voice recorder, dan tenda.

Mereka melewati padang ilalang dan pohon jati muda, lalu melipir ke arah jalur bekas ziarah tua menuju Pura Luhur Giri Salaka. Di titik ini sinyal hilang. Tidak ada jaringan, tidak ada sinyal GPS. Tapi mereka tetap melanjutkan.

Malam pertama, suara gamelan samar mulai terdengar. Tidak keras, tapi cukup jelas. Tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tidur malam itu.

Tapi juga tidak ada yang mengaku takut. Mereka hanya mencatat dan merekam, mengira itu bagian dari budaya lokal yang masih aktif.

Malam kedua, sekitar pukul satu dini hari, suara gamelan kembali terdengar lebih keras, lebih teratur. Dan di sinilah mereka melihatnya.

Perempuan Menari

Dari balik kabut dan semak tinggi, terlihat seorang perempuan menari. Rambutnya panjang menjuntai, mengenakan kebaya berwarna hijau kusam.

Gerakannya anggun dan perlahan, tidak menyentuh tanah. Seolah-olah tubuhnya hanyut di udara, mengikuti irama yang tidak berasal dari dunia ini.

Salah satu dari mereka mengangkat kamera. Yang lain mencoba memperbesar fokus. Tapi sebelum tombol rekam ditekan, penari itu berhenti menari dan menoleh.

Senyum yang muncul tidak menyeramkan, tapi membuat bulu kuduk berdiri. Bukan karena wajahnya buruk, tapi karena tatapannya kosong... terlalu kosong.

Tidak ada yang bicara malam itu. Tidak ada yang tidur.

Pagi harinya, tidak ada yang sakit, tidak ada yang hilang. Semua masih utuh secara fisik.

Tapi tidak satu pun dari mereka ingin tinggal sehari lagi di hutan itu. Mereka berkemas dalam diam dan menempuh perjalanan kembali ke desa terdekat tanpa saling bicara.

Begitu tiba, mereka langsung pamit dan memilih menginap di kota.

Sesampainya di rumah, mereka tidak pernah benar-benar membahas kejadian itu. Beberapa file rekaman malam itu rusak tanpa sebab.

Kamera Bram sempat merekam gerakan kabur seperti seseorang menari di kejauhan, tapi tak ada bentuk yang bisa dikenali jelas.

Satu hal yang aneh, setiap malam Jumat Kliwon sejak kejadian itu, empat dari mereka sering mengalami mimpi yang sama.

Dalam mimpi itu, mereka berdiri di tengah hutan. Sunyi. Lalu terdengar suara gamelan pelan, dan seorang perempuan perlahan menari... menghadap ke arah mereka.

Mereka tidak pernah kembali ke Alas Purwo. Bukan karena takut, tapi karena tahu, tempat itu tidak suka didatangi hanya untuk ditonton.

 

Editor : Agung Sedana
#Cerita Horor #alas purwo #banyuwangi