RADARBANYUWANGI - Luna, seorang seniman muda yang idealis namun dihantui keraguan, terduduk lemas di loteng tuanya yang berantakan, di antara kanvas-kanvas kosong dan peralatan melukis yang berserakan. Frustrasi memuncak saat ia membisikkan keputusasaan pada kanvas di hadapannya.
"Mereka bilang aku punya bakat. Mereka bilang aku bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Tapi yang kulihat… hanya kehampaan ini," gumam Luna.
Ia bangkit, melangkah gontai menuju sebuah cermin berbingkai usang di tengah panggung, menyentuh permukaannya yang buram.
"Apa gunanya sebuah cermin jika ia hanya memantulkan ketidakmampuan? Mengapa aku terus mencari sesuatu di baliknya, padahal tidak ada apa-apa?" tantangnya pada pantulan buram itu.
Tiba-tiba, dari cermin itu muncullah Bayangan, sebuah entitas non-verbal yang mulai bergerak, meniru gerak-gerik Luna namun dengan gestur yang lebih dramatis, seolah mengejek atau menariknya.
Terkejut, Luna mundur, bertanya-tanya apakah itu adalah dirinya yang gagal atau justru dirinya yang bersembunyi.
Bayangan itu terus bergerak, kadang mendekat seolah ingin meraih Luna, kadang menjauh dan berputar mengelilingi cermin, membuat Luna merasa takut sekaligus penasaran.
Bayangan itu kemudian berhenti, menunjuk ke kanvas kosong, lalu ke cermin, dan akhirnya ke dada Luna, gerakannya lembut namun tegas, seolah mendesak Luna untuk melihat ke dalam dirinya, sebuah ajakan yang disambut ketakutan oleh Luna.
Perlahan, Bayangan mundur, mengangkat tangannya membentuk lingkaran seperti bulan purnama, dan cahaya panggung pun berubah menjadi keperakan.
Luna teringat perkataan ibunya tentang purnama sebagai waktu untuk membuka diri, sebuah gagasan yang kini terasa memanggilnya. Dengan sedikit harapan yang menyelimuti keraguan, Luna mendekati cermin lagi.
Bayangan tersenyum tipis sebelum menghilang, menyatu kembali dengan pantulan cermin, meninggalkan Luna dengan kesadaran bahwa Bayangan itu tidak pergi, melainkan menunggu, menunggu Luna untuk menemukannya.
Dengan tekad yang mulai tumbuh, Luna meraih kuas dan cat, menatap kanvas kosong untuk terakhir kalinya, lalu, tanpa ragu, ia mulai melukis dengan gerakan yang semakin cepat dan penuh energi, sementara cahaya purnama di panggung semakin terang menyinari kreasinya.
Dengan punggung menghadap penonton, bahu yang naik turun seolah memikul beban namun kini dengan tujuan, Luna berbisik serak namun penuh keteguhan,
"Malam ini… aku akan melukis kebenaran. Bahkan jika itu adalah kebenaran yang menakutkan. Aku akan melukis… diriku." kata dia.
Lampu panggung meredup, meninggalkan Luna dan kanvasnya dalam siluet, diiringi alunan musik orkestra yang melankolis namun penuh harapan.
Editor : Agung Sedana