Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pernah Bermain Kapal Otok-Otok? Berarti Anda Sudah Punya Cucu!

Ali Sodiqin • Minggu, 27 April 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi kapal otok-otok. (Tangkapan Layar Facebook/Suwito Wito
Ilustrasi kapal otok-otok. (Tangkapan Layar Facebook/Suwito Wito

RADARBANYUWANGI.ID - Kapal otok-otok, salah satu mainan jadul yang pernah populer di kalangan anak-anak, kini semakin jarang dimainkan dan keberadaan penjual serta perajinnya pun mulai sulit ditemukan.

Hal ini disebabkan oleh pergeseran minat anak-anak terhadap permainan kekinian yang lebih banyak melibatkan teknologi digital.

Namun, meskipun dianggap sebagai mainan lama, kapal otok-otok sebenarnya memiliki konsep yang modern dan menarik.

Pengamat permainan anak, Setyo Aji, memperkirakan bahwa kapal otok-otok mulai muncul sekitar tahun 1960-an. Pria berusia 58 tahun ini mengaku sudah familiar dengan mainan tersebut sejak tahun 1970.

“Itu, saya kecil tahun 1965 sudah ada,” ungkapnya seperti dliansir dari Radar Jogja.

Setyo menjelaskan bahwa seluruh komponen kapal otok-otok terbuat dari seng dan cenderung diminati oleh anak laki-laki, karena umumnya dilengkapi dengan figur seorang laki-laki.

Banyak pula kapal yang dicat menyerupai kapal perang, sehingga tampilannya menarik dan menjadi alternatif mainan yang diminati anak-anak pada masanya.

“Saat itu mainan ini menakjubkan karena bisa jalan sendiri, mengeluarkan asap, dan tidak menggunakan baterai,” sebutnya.

Lalu, bagaimana miniatur kapal ini bisa bergerak maju? Ternyata, kapal otok-otok menggunakan konsep fisika, yaitu prinsip tekanan uap air.

Kapal ini beroperasi dengan penggerak berupa uap air yang keluar dari pipa di dalam kapal. Keberadaan sumbu api pada pipa dalam kapal menyebabkan pemanasan dan meningkatkan suhu air.

Uap yang dihasilkan dari air panas inilah yang mendorong keluarnya air dalam kapal, sehingga menciptakan suara "otok-otok" dan membuat kapal dapat bergerak.

Setyo Aji, yang juga pemilik Galeri Layang-layang Ambarisa, mengungkapkan rasa sayangnya terhadap permainan yang memiliki nilai edukasi ini.

Ia menilai bahwa kapal otok-otok dapat memicu anak-anak untuk mengenal dunia sains. Dari hal yang sepele, permainan ini dapat membuka imajinasi anak dalam bereksperimen.

“Setelah si anak tahu, panas dapat mendorong sesuatu,” tandasnya.

Dengan semakin langkanya kapal otok-otok, Setyo berharap agar permainan ini tidak terlupakan dan dapat kembali diperkenalkan kepada generasi muda.

Selain sebagai hiburan, kapal otok-otok juga dapat menjadi alat edukasi yang menarik bagi anak-anak untuk belajar tentang prinsip-prinsip dasar fisika.

Pernah bermain atau memiliki kapal otok-otok yang legendaris ini? Berarti usia Anda sudah kepala 3 bahkan 4 atau bahkan 5. Selamat Anda sudah punya cucu. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#kapal uap #asah otak #Sains #mainan jadul #modern #fisika #Kapal Otok-otok #edukasi