RADARBANYUWANGI.ID - Banyuwangi punya ribuan diaspora yang tersebar di beberapa tempat.
Tak hanya di tanah air, sebagian dari mereka juga berkarir di luar negeri, lalu kembali untuk membangun Banyuwangi.
Salah satunya adalah Lis Adiwinoto, yang mencoba mengembangkan batik ecoprint.
Pemkab Banyuwangi kembali mengundang para diaspora untuk berkumpul di Pendapa Sabha Swagata Blambangan tepat pada Kamis (3/4) lalu.
Banyak wajah baru yang hadir di pendapa. Mereka datang dari berbagai wilayah di tanah air dan luar negeri.
Salah satunya adalah Lis Adiwinoto. Perempuan berusia 51 tahun itu lebih dari 30 tahun tinggal di Hurstville, negara bagian New South Wales, Australia.
Lis ikut menjadi bagian dari ribuan diaspora Banyuwangi yang pulang ke Banyuwangi.
Di balik kacamatanya, Lis tampak mengamati ribuan orang yang hadir siang itu.
Dia mengaku senang bisa ikut hadir dan berkumpul bersama diaspora lainnya. Sudah tiga tahun terakhir Lis kerap pulang ke Banyuwangi.
Bukan tanpa alasan. Ibu lima anak itu rupanya tengah membangun sebuah iklim bisnis baru di Bumi Blambangan.
Lis mengembangan batik ecoprint yang dituangkan dalam beberapa busana.
Dia mengambil bahan baku dan tenaga kerja yang digarap dari tempat tinggalnya di Kelurahan Giri.
Lalu memasarkan produk hasilnya ke tempat tinggalnya di Australia.
”Di Australia bisnis ini cukup berjalan, warga di sana cukup mendukung pakaian dengan bahan-bahan alami,” ujar Lis.
Ide untuk mengembangkan batik ecoprint baru muncul sekitar setahun silam.
Lis yang pulang ke Banyuwangi, kerap diminta bantuan oleh tetangga-tetangganya untuk mencarikan pekerjaan.
Dia pun bingung karena tidak tahu pekerjaan apa yang bisa diberikan kepada mereka.
Lis sempat diajak berjalan-jalan oleh salah seorang temannya untuk melihat aktivitas Komunitas Green Jasmine di Kalipuro.
Komunitas yang bergerak di pengolahan limbah organik itu memberikan Lis sebuah ide yang bisa dijalankan menjadi sebuah bisnis.
Yang dipilih adalah batik ecoprint, yaitu batik yang dicetak menggunakan bahan baku dari bahan organik.
”Awalnya saya masih bingung mau membuat apa, lalu saya coba batik ecoprint dan berjalan. Banyak yang support, terutama di Australia,” imbuhnya.
Sejak saat itu, Lis mulai merekrut para pekerja dari lingkunganya. Dia memprioritaskan pekerja perempuan, terutama yang menjadi single mother atau orang tua tunggal bagi anak-anaknya.
Lis melihat ada cukup banyak single mother yang membutuhkan peluang pekerjaan untuk bisa membiayai anaknya.
Alumnus SMAN 1 Glagah itu mengatakan, para single mother di dalam negeri mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan mereka yang ada di luar negeri.
Di Australia misalnya, para single mother mendapatkan support dari negara sehingga mereka bisa bertahan dengan baik.
”Ada 20-an pekerja yang sekarang ikut saya. Sebagian besar perempuan, ada yang single mother dan ekonomi menengah ke bawah,” jelas istri dari Bradley itu.
Para pekerja lalu diajari untuk bisa membuat batik dan menjahit sendiri.
Selain bekerja kepada dirinya, warga juga bisa memiliki keahlian tambahan untuk menopang kehidupan mereka ke depan.
”Kadang meskipun masih banyak produk belum terjual, saya minta mereka (pekerja) untuk terus bekerja. Jadi, mereka tetap punya penghasilan,” terangnya.
Setelah ikut dalam kegiatan diaspora, Lis berharap bisa semakin mengembangkan bisnis batik ecoprint-nya di Banyuwangi.
Dia ingin membuka lapangan pekerjaan di Banyuwangi. Ke depan, dia juga sudah berencana untuk bisa membuka butik sendiri di Banyuwangi, sekaligus membuka toko oleh-oleh.
Selain itu, Lis juga ingin bisa membuka rumah makan dengan menu sego janganan.
Tak asal membuka, Lis ingin rumah makannya nanti bisa menyajikan kuliner dengan rasa yang otentik.
”Saya masih ingat rasa makanan asli Banyuwangi. Memori saya masih fresh, saya ingin membuka tempat makan dengan makanan yang rasanya masih otentik,” tegasnya.
Festival Diaspora Banyuwangi digelar pemkab di Pendapa Sabha Swagata Blambangan, Kamis (3/4) lalu. Festival ini merupakan ajang tahunan yang rutin digelar setiap awal bulan Syawal.
Tujuannya bukan sekadar menjadi ajang silaturahmi dan melepas kangen antarsesama perantau asal Banyuwangi, melainkan juga sebagai media untuk menguatkan solidaritas dan jejaring.
Ratusan orang hadir langsung pada Festival Diaspora Banyuwangi 2025 tersebut. Tidak hanya yang berasal dari sejumlah kota di Indonesia, turut hadir para diaspora yang berkiprah di berbagai belahan dunia.
Baik hadir secara langsung, maupun mengikuti secara virtual. Mayoritas mereka tergabung dalam Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi). (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin