SRONO, Jawa Pos Radar Genteng – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram dalam beberapa pekan terakhir, membuat perajin tungku atau luweng kebanjiran rezeki.
Sebab, banyak warga yang mulai beralih menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Salah satu perajin tungku Hariyono, 40, asal Dusun Blangkon, Desa Kebaman, Kecamatan Srono mengaku, dalam beberapa hari terakhir ini dia kebanjiran pesanan.
”Pesanan meningkat hingga tiga kali lipat dari biasanya,” ungkapnya, Jumat (28/7).
Saat pasokan gas elpiji melon normal, imbuh Hariyono, permintaan tungku hanya mencapai sepuluh unit setiap harinya. Namun, sejak gas elpiji 3 kg langka, pesanan tungku bisa mencapai 40 unit per hari.
”Kalau ada barangnya saya layani. Kadang ada yang minta tapi stok sedang habis, jadi harus antre,” katanya.
Hariyono mengatakan, tungku berbahan baku tanah liat tersebut dibuat secara tradisional. Sehingga, tidak bisa cepat dan pembeli harus mau menunggu.
”Tenaga hanya empat orang, setiap hari hanya bisa membuat paling banyak 25 buah saja,” katanya.
Pria yang sudah 15 tahun menjadi perajin tungku itu menyebut, hasil kerajinannya itu didistribusikan hampir di seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi.
”Dijual di toko-toko kecil, tidak pernah melayani pembelian perseorangan,” terangnya.
Ada dua ukuran tungku yang dibuat Hariyono. Tungku ukuran kecil dengan tinggi 30 centimeter (cm) harganya Rp 35 ribu, sedangkan untuk ukuran yang lebih besar dengan tinggi 50 cm dibanderol Rp 85 ribu.
”Yang besar agak lebih mahal dikit,” ucapnya.
Perajin tungku lainnya, Muhammad Aris, 30, mengaku kebanjiran pesanan dari para sales. Peningkatan jumlah pesanan seiring dengan kelangkaan gas elpiji di pasaran.
”Sepekan terakhir ini ramai pesanan, saya sampai kewalahan,” katanya.
Tungku yang dijual Aris ini hanya satu ukuran, yaitu dengan tinggi sekitar 30 sentimeter. Dia membuatnya bersama dengan satu orang rekannya.
”Satu tungku harganya Rp 50 ribu,” ungkapnya. (gas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin