Awalnya, Tiara merupakan karyawan di salah satu toko grosir yang ada di Banyuwangi. Namun, dia kemudian berhenti dari pekerjaannya tersebut dan memilih merintis usaha aksesori.
Berbekal modal awal ”hanya” Rp 200 ribu, Tiara mulai menjual beberapa aksesori yang dia beli dari online shop. ”Dulu saya lihat peluangnya besar. Ternyata benar, setelah dicoba langsung untung tiga kali lipat,” ujarnya.
Setelah mengetahui hasil menjual aksesori tersebut sangat menjanjikan, Tiara dan suami mulai mengembangkan usaha tersebut dengan memproduksi sendiri mulai tahun 2006. Dia pun berhasil mempekerjakan lima orang. Masing-masing pekerja lantas bekerja sama dengan beberapa orang yang bertugas memproduksi aksesori.
Menurut Tiara, hampir tidak ada hal yang mudah selama menjalankan usaha miliknya. Terlebih sejak pandemi Covid-19 melanda, usaha aksesori sempat sulit untuk bertahan. Selain kendala modal, dia juga mengaku minat pasar turun drastis.
Namun seiring berjalan waktu, kini Tiara dan sang suami perlahan bisa mengembalikan tren penjualan seperti sebelum pandemi Covid-19. Terlebih sektor pariwisata di Banyuwangi juga mulai menggeliat.
Bahkan, kini aksesori hasil karyanya sudah mulai diekspor ke beberapa negara di Eropa dan Australia. ”Bersyukur sekarang kondisi sudah mulai membaik, ekspor sudah bisa berjalan,” beber Tiara.
Tiara menambahkan, alasan dia memilih aksesori untuk dijadikan bisnis adalah bahan baku yang tidak mudah busuk dan terbuang seperti batu alam, kerang, dan manik. ”Jika ada aksesori yang tidak terjual, akan dibongkar dan bahan bakunya dimanfaatkan kembali untuk membuat aksesori model baru,” pungkasnya. (cw5/sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin