Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Batik Made in Licin Tembus Solo

Ali Sodiqin • Minggu, 2 Oktober 2022 | 13:08 WIB
BATIK: Lamhatin membuka stan pameran batik di Taman Blambangan, Jumat (30/9). (Ayu Lestari/Radar Banyuwangi)
BATIK: Lamhatin membuka stan pameran batik di Taman Blambangan, Jumat (30/9). (Ayu Lestari/Radar Banyuwangi)
LICIN, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sepak terjang Lamhatin, warga Desa Banjar, Kecamatan Licin, Banyuwangi, patut dijadikan inspirasi bagi warga yang ingin memulai usaha. Perempuan paro baya tersebut sukses mengembangkan usaha batik dari ”nol” hingga kini mampu meraup omzet puluhan juta rupiah per bulan.

Cerita bermula sekitar enam tahun lalu. Kala itu, Lamhatin yang semula berjualan kue skala rumahan dan mengurus rumah tangga tergerak mengembangkan usaha. Pilihannya adalah batik.

Bak gayung bersambut, niat Lamhatin itu mendapat sokongan penuh sang suami, yakni Samsudin. Suaminya rela menjual mobil pikap untuk modal usaha kerajinan batik.

Sejurus kemudian, Lamhatin mengajak para tetangganya untuk ikut belajar membatik secara gratis. Hal itu dia lakukan lantaran ingin memberdayakan warga sekitar tempat tinggalnya. ”Uang hasil jual mobil Rp 30 juta saya pakai untuk mendatangkan orang yang bisa membatik dan saya ajak tetangga sekitar untuk belajar,” ujarnya.

Singkat cerita, usaha batik tersebut mulai berjalan. Tak seratus persen mulus, memang. Namun, berkat keteguhan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah, usaha yang dia rintis itu pun kian berkembang.

Lamhatin atau yang karib disapa Bu Samsudin mengaku, kendala terbesar yang dihadapi selama menjalankan usaha batiknya adalah modal. Namun, dia bersyukur hal itu bisa dilewati bersama sang suami. Kini, dia sudah berhasil memberdayakan sembilan pekerja. Pemasaran hasil produksinya pun sudah merambah berbagai daerah di tanah air, salah satunya Solo, Jawa Tengah (Jateng).

Lamhatin mengatakan, banyak pembatik profesional di Banyuwangi yang memiliki kreasi berbagai motif yang menarik. Namun, dia bersyukur hingga saat ini batik miliknya masih tetap diminati hingga ke luar daerah. ”Terakhir batik yang baru dikirim pesanan dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya,” tuturnya.

Menurut Lamhatin, motif batik di Banyuwangi hampir semuanya sama termasuk batik miliknya seperti Gajah Oling, Sisik Melik, Beras Kempal, dan Blarak Sempal. Yang membedakan hanya warna-warni khas yang dipadukan oleh perajin serta besar kecilnya ukiran batik tersebut.

Saat ini usaha batik milik Lamhatin mampu meraih omzet Rp 30 juta per bulan. Dia menjual batik seharga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per lembar. Bahkan, dia mengaku kini sudah memiliki pelanggan tetap untuk keperluan seragam tujuh sekolah di Banyuwangi.

Lamhatin mengaku tidak menyangka usahanya akan berkembang seperti saat ini. Terlebih, dia dan sang suami sama sekali tidak mengandalkan media sosial untuk menjual produk batiknya. ”Saya tidak pakai media sosial apa pun untuk promosi, murni dari mulut ke mulut dan promosi suami ke teman-temannya saja,” pungkasnya. (cw5/sgt/c1) Editor : Ali Sodiqin
#Batik Banyuwangi #batik #kerajinan