Sebelum menekuni usaha kreatif tersebut, Marsam ini dikenal pemain gamelan. Itu dilakoni hingga tahun 2000 an. Kemudian, membuat kerajinan gamelan untuk disewakan dan dijual. “Selain saya jual, gamelan ini juga disewakan,” ujar, Marsam.
Marsam mengaku hasil kerajinananya ini banyak dibeli warga di Kota Gandrung, terutama dari sekolah SD.Selain itu, beberapa kali mendapatkan pesanan dari luar Jawa seperti Riau, Jambi, Kalimantan, dan Maluku. “Kelompok kesenian juga ada yang beli,” jelasnya.
Pembuat gamelan itu mengaku hanya membuat gamelan. Untuk penopang pesan kepada tukang kayu. Menurutnya, proses pembuatan gamelan lebih susah karena bila ukurannya berbeda, nada yang dihasilkan juga berbeda. “Saat penyesuaian nada cukup lama,” jelas kakek dua cucu itu.
Marsam bersama temannya dalam sehari bisa membuat dua pasang besi gamelan ukuran besar. Untuk gamelan ukuran kecil, bisa tiga pasang. Ada beberapa jenis gamelan yang dibuat oseperti saron, demung, peking, dan angklung. “Kalau Gongnya saya hanya pesan besinya, tidak membuatnya,” jelasnya.
Hasil gamelan buatannya, dijual per set sekitar Rp 17 juta yang meliputi empat saron, satu demong, dua gong, dua boning, dan dua angklung. Apabila dijual eceran, harganya mulai Rp 300 ribu sampai Rp 1,5 juta, tergantung ukuran. “Semakin besar semakin mahal,” jelasnya.
Saat ini, lanjut dia, jarang yang membeli per set. Pembeli biasanya beli eceran. Setiap bulan, biasanya laku lima gamelan. “Saya hobi music gamelan, dan ingin melestarikan,” cetus Marsam yang juga mengajar ekstrakurikuler musik gamelan di lima sekolah yang ada di Banyuwangi.(mg5/abi) Editor : Agus Baihaqi