Hasil karya Puniran yang sudah digeluti sejak 25 tahun lalu itu, tidak hanya dibeli warga di Kota Gandrung saja, tapi banyak yang dikirim ke luar kota hingga luar Pulau Jawa. “Dibeli di luar kota dan luar Jawa,” cetus Puniran.
Menurut Puniran, hasil keterampilannya sudah biasa dikirim ke Kabupaten Lumajang, Jember, dan Malang. Sedang luar Jawa yang banyak memesan, itu di Sulawesi dan Kalimantan. “Kalau barang habis, saya langsung ditelpon untuk dikirim lagi, dan saya kirim lewat paket,” katanya.
Puniran mengaku pesanan dari luar Jawa, itu tidak terlalu sering. Topeng barong hasil kerajinan tangannya itu dijual dari Rp 75 ribu sampai Rp 250 ribu, melihat kesulitan dalam membuatnya. Untuk membuat 10 topeng barong, dibutuhkan waktu lima hari. “Juga melihat cuaca, kalau cuaca cerah bisa lebih banyak, karena catnya cepat kering,” jelasnya.
Kakek dengan tiga cucu itu mengaku untuk urusan kebutuhan dasar, perlengkapan topeng, hingga pengiriman diserahkan kepada anak dan menantunya yang tinggal serumah dengannya. “Pesanan tidak pasti, saya tidak tahu sebulan laku berapa, kadang kurang dari 100, kadang juga lebih,” cetusnya.
Puniran mengaku keterampilan membuat topeng barong itu secara otodidak. Selama ini, tidak pernah belajar kepada siapapun. “Beli lalu dibongkar dan saya tiru. Bisa buat satu, buat lagi, dan buat lagi. Saya coba tawarkan orang, ternyata dibeli,” ungkapnya.(mg5/abi) Editor : Agus Baihaqi