Usaha Nasihin ini tidak berjalan mulus, pada 2012 sempat terhenti karena waktunya terkuras untuk mengurus sawahnya, saat itu ayahnya mulai sakit sakitan. “Saya berhenti mengukir sekitar sembilan tahun,” jelas Nasihin.
Baru pada Maret 2022, Nasihin kembali mengerjakan industri kreatif ini. Dia mengaku sejak kembali bekerja melukis pot, pesanan pot bunga yang dikerjakan berbagai ukuran selalu ada. “Sekarang masih ada tiga pesanan berukuran satu meter yang belum saya selesaikan,” ujarnya.
Nasihin mengaku masih mencari waktu luang untuk mengerjakan pesanan. Karena pada pagi sampai sore, harus mengurus sawahnya. Biasanya mengerjakan ukiran pot bunga pada pukul 19.00 hingga pukul 24.00. Setelah salat subuh, kembali melukis pot hingga pukul 07.00. “Saya dibantu oleh kedua adik saya,” jelasnya.
Nasihin membeli pot yang masih polos di Jogjakarta dengan harga paling kecil Rp 6.000 sampai Rp 150 ribu. Setelah diukir, dijual dengan harga Rp 15 ribu sampai 400 ribu. Untuk ukuran yang paling besar yang tingginya mencapai satu meter dan diameternya 45 centimeter, biasanya membutuhkan waktu dua hari pengerjaan. “Untuk ukuran kecil satu hari bisa selesai enam biji,” jelasnya.
Pesanan pot lukisan ini, jelas dia, dari berbagai daerah. Paling dari Jombang, dan selebihnya lokal Banyuwangi. Dulu sering kirim ke luar Banyuwangi, seperti Jember, Bali, dan Situbondo. “Saya dulu sering mengikuti event pameran di Banyuwangi seperti perayaan Hari Jadi Banyuwangi,” cetusnya.
Nasihin mengatakan akan fokus dalam usaha industri kreatif tersebut, dan menularkan kepada kedua adiknya karena di Banyuwangi terbilang masih jarang. “Eman usaha ini tidak diteruskan, hasilnya lumayan,” katanya.(mg5/abi) Editor : Agus Baihaqi