Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Usai Armuzna, Puluhan Jemaah Haji Banyuwangi Tumbang Kelelahan dan Dehidrasi, Dua Sempat Diinfus di Tenda

Ali Sodiqin • Selasa, 2 Juni 2026 | 07:54 WIB
AKIBAT KELELAHAN: Jemaah haji yang tergabung dalam kloter 85 menjalani pemeriksaan kesehatan di tempat mereka menginap, Senin (1/6). (Devista Diyantika for Radar Banyuwangi)
AKIBAT KELELAHAN: Jemaah haji yang tergabung dalam kloter 85 menjalani pemeriksaan kesehatan di tempat mereka menginap, Senin (1/6). (Devista Diyantika for Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang dikenal sebagai fase paling berat dalam pelaksanaan haji mulai berdampak pada kondisi kesehatan jemaah. Lebih dari 50 jemaah haji Kloter 85 Banyuwangi-Bondowoso-Jember tercatat mendatangi layanan kesehatan setelah menyelesaikan prosesi Armuzna yang menguras tenaga dan fisik.

Mayoritas jemaah mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan, cuaca panas ekstrem, serta aktivitas ibadah yang berlangsung dalam waktu panjang dan padat. Bahkan, dua jemaah sempat mendapatkan terapi infus di tenda kesehatan karena mengalami dehidrasi.

Petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Kloter 85, dr. Devista Diyantika, mengatakan hingga Minggu (31/5) sore jumlah jemaah yang berobat sudah melampaui 50 orang.

Keluhan yang paling banyak ditemui meliputi demam, batuk, pilek, dehidrasi, hingga gangguan pencernaan seperti diare dan nyeri perut.

“Untuk kondisi kesehatan jemaah sejauh ini yang banyak ditemui adalah keluhan demam, batuk, pilek, dehidrasi, dan beberapa kasus diare atau nyeri perut. Hingga sore ini jumlah jemaah yang berobat lebih dari 50 orang,” ujarnya.

Meski jumlah jemaah yang membutuhkan layanan kesehatan cukup banyak, Devista memastikan sebagian besar masih dalam kategori ringan dan dapat ditangani oleh tim medis di tingkat kloter tanpa harus dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih besar.

Dehidrasi Jadi Keluhan Dominan

Menurut Devista, dehidrasi menjadi salah satu gangguan kesehatan yang paling sering muncul setelah jemaah menyelesaikan rangkaian Armuzna.

Kondisi tersebut dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari suhu udara yang sangat tinggi, aktivitas fisik yang berat, kepadatan pergerakan jemaah, hingga kurangnya asupan cairan selama menjalankan ibadah.

Di tengah suhu Makkah yang masih menyentuh level ekstrem pada siang hari, tubuh jemaah kehilangan cairan dalam jumlah besar melalui keringat.

“Selama Armuzna ada dua jemaah yang harus mendapatkan terapi infus di tenda karena dehidrasi, namun saat ini kondisinya sudah baik dan kembali beraktivitas,” jelasnya.

Beruntung, kedua jemaah tersebut menunjukkan respons pemulihan yang baik setelah mendapatkan penanganan medis dan tidak memerlukan perawatan lanjutan.

Flu dan Batuk Menyerang Banyak Jemaah

Selain dehidrasi, gangguan saluran pernapasan juga menjadi keluhan yang banyak ditemukan.

Ketua Regu 3 Rombongan 6 KBIHU Sabilillah Banyuwangi, Khoirul Mukhlis, membenarkan banyak anggota rombongannya mengalami flu dan batuk setelah menjalani Armuzna.

Menurutnya, perubahan suhu yang cukup ekstrem antara siang dan malam, ditambah kelelahan fisik akibat mobilitas tinggi selama puncak haji, menjadi faktor utama munculnya keluhan tersebut.

“Banyak jemaah mengalami flu dan batuk akibat perubahan cuaca serta perjalanan Armuzna yang sangat padat dan menyedot tenaga. Alhamdulillah sampai saat ini masih dalam kondisi terkontrol dan jamaah tetap dapat mengikuti rangkaian ibadah,” katanya.

Khoirul menambahkan, meskipun sejumlah jemaah mengalami penurunan kondisi fisik, secara umum mereka masih mampu menjalankan rangkaian ibadah yang tersisa dengan baik.

Cuaca Panas Jadi Tantangan Berat

Petugas kesehatan menilai kondisi cuaca di Arab Saudi masih menjadi tantangan utama yang harus dihadapi para jemaah dalam beberapa hari ke depan.

Suhu udara yang tinggi berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta.

Karena itu, tim kesehatan terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi jemaah untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.

Selain membuka layanan kesehatan di kloter, petugas juga aktif memberikan edukasi terkait langkah-langkah menjaga kebugaran selama menjalankan ibadah.

Jemaah Diminta Perbanyak Minum dan Istirahat

Menghadapi kondisi tersebut, TKHI mengimbau seluruh jemaah agar lebih disiplin menjaga kesehatan.

Jemaah diminta memperbanyak konsumsi air putih meski tidak merasa haus, mengatur waktu istirahat secara cukup, serta mengurangi aktivitas yang tidak mendesak di luar maktab.

Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan juga terus dianjurkan untuk mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan akibat debu dan kepadatan jemaah dari berbagai negara.

Langkah preventif tersebut dinilai sangat penting mengingat rangkaian ibadah haji belum sepenuhnya berakhir. Setelah menyelesaikan agenda di Makkah, para jemaah masih akan melanjutkan perjalanan menuju Madinah sebelum kembali ke Tanah Air.

Petugas berharap kondisi kesehatan jemaah tetap terjaga sehingga seluruh rangkaian ibadah dapat dituntaskan dengan baik.

Di tengah ujian fisik yang berat selama Armuzna, semangat para tamu Allah untuk menyempurnakan ibadah haji tetap tinggi. Namun, kesehatan menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan agar seluruh jemaah dapat pulang ke Indonesia dalam keadaan sehat dan meraih haji yang mabrur. (aif)

Editor : Ali Sodiqin
#kloter 85 Banyuwangi #kesehatan jemaah haji #Jemaah haji Banyuwangi 2026 #Armuzna haji 2026 #Dehidrasi jemaah haji