Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Dinkes Banyuwangi Intensif Pantau Jemaah Haji Risiko Tinggi Pascaarmuzna, Belum Ada Jemaah Meninggal

Fredy Rizki Manunggal • Sabtu, 30 Mei 2026 | 00:30 WIB
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. Dinkes Banyuwangi sukses menurunkan stunting hingga 2,44 persen lewat program konvergensi. Raih SoJ Award 2026.
Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi memastikan kondisi kesehatan jemaah haji asal Banyuwangi pascapelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) hingga Kamis (29/5) secara umum masih terkendali.

Meski begitu, pengawasan terhadap jemaah lanjut usia dan kelompok risiko tinggi terus diperketat menyusul tingginya kelelahan fisik selama puncak ibadah haji di Tanah Suci.

Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menegaskan seluruh tim kesehatan haji Banyuwangi tetap siaga penuh melakukan pemantauan intensif terhadap jemaah, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta maupun kondisi fisik rentan.

“Alhamdulillah hingga saat ini kondisi kesehatan jemaah haji Banyuwangi secara umum masih terkendali. Tim kesehatan terus melakukan pemantauan dan pelayanan optimal, khususnya kepada jemaah risiko tinggi yang membutuhkan pengawasan lebih intensif,” ujarnya kemarin (29/5).

Data Dinkes Banyuwangi mencatat total jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter 82 hingga Kloter 85 mencapai 1.317 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 401 jemaah atau sekitar 30,4 persen masuk kategori risiko tinggi (risti).

Kelompok risiko tinggi tersebut didominasi jemaah lanjut usia dengan riwayat penyakit kronis seperti gangguan jantung, paru-paru, hipertensi, hingga gangguan pembuluh darah. Kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi serta padatnya aktivitas ibadah selama Armuzna menjadi faktor utama yang meningkatkan kerentanan kesehatan jemaah.

“Hingga saat ini terdapat tiga jemaah yang harus mendapatkan penanganan lanjutan dan dirujuk ke rumah sakit di Arab Saudi,” jelas Amir.

Pada Kloter 82, terdapat 380 jemaah dengan 243 orang kategori risiko tinggi. Dari kloter ini, satu jemaah dirujuk ke Rumah Sakit Mina akibat mengalami cardiac arrest atau henti jantung.

Sementara pada Kloter 83, dari total 379 jemaah terdapat satu jemaah gagal berangkat karena kondisi demensia. Selain itu, 38 jemaah masuk kategori risiko tinggi dan satu jemaah dirujuk ke RS Mina karena mengalami PPOK atau penyakit paru obstruktif kronis.

Sedangkan pada Kloter 84 yang berjumlah 380 jemaah, satu orang mengalami tunda berangkat akibat persoalan administrasi paspor, 56 jemaah masuk kategori risiko tinggi, dan satu jemaah dirujuk ke RS East Arafat akibat CVA infark atau penyumbatan pembuluh darah otak.

Adapun Kloter 85 membawa 178 jemaah dengan 64 orang kategori risiko tinggi. Hingga kini belum terdapat jemaah dari kloter tersebut yang dirujuk ke rumah sakit.

Selain memastikan kondisi kesehatan jemaah secara umum terkendali, Dinkes Banyuwangi juga memberikan klarifikasi terkait kabar simpang siur mengenai satu jemaah asal Banyuwangi yang sempat dikabarkan meninggal dunia di Makkah.

Jemaah tersebut adalah Hj Patonah, 71, warga Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar. Amir menegaskan hingga saat ini Patonah masih menjalani penanganan medis intensif di RS Mina Al Wadi, Arab Saudi.

“Belum ada jemaah haji Banyuwangi yang dinyatakan meninggal dunia. Terkait informasi yang beredar, kondisi jemaah atas nama Hj Patonah saat ini masih dalam penanganan medis intensif,” tegasnya.

Menurut Amir, saat menjalani ibadah di Arafah kondisi fisik Patonah memang sudah cukup lemah. Karena pertimbangan keselamatan dan kesehatan, jemaah lansia tersebut mengikuti skema murur dan pelaksanaan lempar jumrah dibadalkan oleh rekannya.

Namun kondisi Patonah kemudian terus menurun pada malam harinya hingga memasuki fase kritis keesokan pagi.

“Dalam situasi di lapangan saat itu, dokter kloter sempat menilai kondisi klinis jemaah telah meninggal dunia. Tetapi setelah dilakukan pemeriksaan ulang oleh dokter Arab Saudi, jemaah langsung dirujuk menggunakan tandu ke Klinik Mina untuk memastikan kondisi definitif,” terang Amir.

Sesampainya di Klinik Mina, tim medis Arab Saudi masih melakukan tindakan code blue atau resusitasi jantung paru karena dinilai masih terdapat tanda-tanda kehidupan dan peluang penyelamatan pasien.

“Karena itu dilakukan upaya kegawatdaruratan lanjutan sesuai prosedur medis internasional,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Amir, Patonah masih berada dalam pengawasan ketat tim medis di RS Mina Al Wadi. Tim kesehatan haji Indonesia bersama otoritas kesehatan Arab Saudi terus memantau perkembangan kondisi jemaah tersebut secara berkala.

“Hingga saat ini beliau masih dirawat intensif di RS Mina Al Wadi. Mohon doa seluruh masyarakat Banyuwangi agar kondisi beliau segera stabil dan sehat kembali,” katanya.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Banyuwangi Imam Mustakim juga memastikan Patonah masih mendapatkan penanganan medis di rumah sakit setempat.

Menurut Imam, kondisi Patonah diduga drop akibat kelelahan menjalani rangkaian ibadah Armuzna yang sangat menguras tenaga, ditambah faktor usia lanjut dan sesak napas.

“Kondisi jemaah kemungkinan kecapekan setelah serangkaian kegiatan Armuzna kemudian mengalami sesak napas,” ujarnya.

Sebelum dirujuk ke RS Mina Al Wadi, Patonah sempat mendapat penanganan awal berupa resusitasi di Mina Health Center setelah ditemukan tidak sadarkan diri di tenda Mina pada Kamis (28/5).

Ketua Kloter 82 Rijal Hakim menambahkan, Patonah tiba-tiba tidak sadarkan diri saat berada di dalam tenda Mina sehingga pelaksanaan lempar jumrahnya harus dibadalkan.

“Bahkan pelaksanaan lempar jumrahnya dibadalkan,” tuturnya.

Dinkes Banyuwangi mengimbau seluruh jemaah haji asal Banyuwangi agar tetap menjaga kondisi kesehatan selama berada di Tanah Suci. Jemaah diminta mengurangi aktivitas fisik berlebihan, memperbanyak konsumsi air putih, rutin mengonsumsi obat bagi penderita penyakit kronis, serta segera melapor kepada petugas kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan sekecil apa pun.

Tim kesehatan haji Banyuwangi bersama tenaga kesehatan kloter dan sektor dipastikan akan terus melakukan pelayanan kesehatan, pemantauan aktif, serta pendampingan hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai. (fre/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#jemaah haji risiko tinggi #RS Mina Al Wadi #kondisi jemaah haji Banyuwangi #Hj Patonah dirawat #Dinkes Banyuwangi