RADARBANYUWANGI.ID – Kabar duka yang sempat beredar mengenai seorang jemaah haji asal Banyuwangi meninggal dunia di Tanah Suci akhirnya diluruskan. Patonah, 71, jemaah lanjut usia asal Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, dipastikan masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mina Al Wadi, Arab Saudi, setelah sebelumnya tidak sadarkan diri di tenda Mina saat puncak ibadah haji berlangsung.
Informasi yang sempat simpang siur itu langsung menjadi perhatian keluarga jemaah maupun masyarakat Banyuwangi. Apalagi kondisi Patonah sempat disebut kritis usai menjalani rangkaian ibadah berat di fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang dikenal sangat menguras fisik, terutama bagi jemaah lansia.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Banyuwangi Imam Mustakim memastikan hingga Jumat (29/5), Patonah masih dalam penanganan medis intensif di rumah sakit setempat.
“Untuk saat ini ibu Patonah masih dirawat di RS Mina Al Wadi setelah sebelumnya mendapatkan penanganan awal di Mina Health Center,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Menurut Imam, kondisi Patonah menurun akibat kelelahan setelah mengikuti rangkaian ibadah Armuzna yang padat dengan mobilitas tinggi dan cuaca ekstrem. Selain faktor usia lanjut, Patonah juga mengalami sesak napas yang membuat kondisinya terus dipantau tim medis.
“Kondisi jemaah kemungkinan kecapekan setelah serangkaian kegiatan Armuzna, kemudian mengalami sesak napas,” katanya.
Sempat Tidak Sadarkan Diri di Tenda Mina
Patonah diketahui sempat tidak sadarkan diri di dalam tenda Mina pada Kamis (28/5). Kondisi darurat itu membuat tim kesehatan haji segera melakukan tindakan medis cepat berupa resusitasi di Mina Health Center sebelum akhirnya dirujuk ke RS Mina Al Wadi.
Ketua Kloter 82, Rijal Hakim, mengungkapkan kondisi Patonah memang menurun drastis saat berada di Mina. Bahkan, demi keselamatan fisiknya, proses lempar jumrah miliknya harus dibadalkan atau diwakilkan.
“Ibu Patonah tiba-tiba tidak sadarkan diri di tenda Mina. Karena kondisi kesehatannya, pelaksanaan lempar jumrah akhirnya dibadalkan,” ujarnya.
Situasi di Mina sendiri memang menjadi tantangan berat bagi jemaah lanjut usia. Selain suhu panas ekstrem, jutaan jemaah dari berbagai negara bergerak dalam waktu hampir bersamaan menuju lokasi ibadah. Kondisi tersebut membuat banyak jemaah rentan mengalami kelelahan hingga dehidrasi.
Dokter Sempat Menilai Kondisi Klinis Sangat Kritis
Pemkab Banyuwangi melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi juga memberikan klarifikasi terkait kabar yang beredar. Kepala Dinkes Banyuwangi Amir Hidayat menegaskan, hingga saat ini tidak ada jemaah haji asal Banyuwangi yang dinyatakan meninggal dunia pasca Armuzna.
“Alhamdulillah sampai saat ini kondisi kesehatan jamaah haji Banyuwangi secara umum terkendali,” tegas Amir.
Ia menjelaskan, kondisi Patonah memang sempat memasuki fase kritis setelah kesehatannya memburuk secara progresif pada malam hari. Dalam situasi lapangan yang penuh tekanan dan keterbatasan, dokter kloter sempat menilai kondisi klinis jemaah sangat berat.
Sebelumnya, karena kondisi fisiknya sudah lemah sejak di Arafah, Patonah mengikuti skema murur, yakni hanya melintas di Muzdalifah tanpa bermalam untuk mengurangi risiko kelelahan fisik.
Namun setelah tiba di Mina, kondisinya kembali menurun hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
“Hingga saat ini jemaah masih berada dalam penanganan medis di RS Mina Al Wadi. Tim kesehatan haji Indonesia bersama otoritas kesehatan Saudi terus memantau perkembangan kondisi beliau,” ungkap Amir.
Lansia dan Jemaah Risiko Tinggi Jadi Prioritas Pengawasan
Dinkes Banyuwangi memastikan tim kesehatan haji Indonesia masih terus melakukan pemantauan intensif terhadap seluruh jemaah asal Banyuwangi di Tanah Suci, terutama kelompok lanjut usia dan risiko tinggi (risti).
Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi kelelahan akibat cuaca panas ekstrem, kepadatan aktivitas ibadah, hingga penyakit penyerta yang banyak dialami jemaah lansia.
“Tim kesehatan terus memberikan pelayanan optimal, khususnya kepada jamaah risiko tinggi yang membutuhkan pengawasan lebih intensif,” tegas Amir.
Kondisi Patonah kini masih terus dipantau secara ketat oleh tim medis. Keluarga dan masyarakat Banyuwangi pun diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi terkait kondisi jemaah haji di Tanah Suci.
Di tengah padatnya pelaksanaan ibadah haji tahun ini, kisah Patonah menjadi pengingat betapa berat perjuangan jemaah lansia menjalankan rukun Islam kelima. Dukungan fisik, mental, serta pendampingan medis menjadi faktor penting agar para tamu Allah dapat menyelesaikan ibadah dengan aman. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin