RADARBANYUWANGI.ID – Padang Arafah menjadi lautan doa dan air mata bagi jemaah haji kloter 85 Banyuwangi-Bondowoso-Jember saat menjalani puncak ibadah haji, wukuf di Arafah. Dalam suasana khusyuk dan penuh haru, ribuan jemaah larut dalam refleksi spiritual mendalam melalui khutbah wukuf yang disampaikan Tim Pembimbing Haji Indonesia kloter 85, Abdullah Sattar.
Momentum wukuf yang menjadi inti ibadah haji itu dimanfaatkan jemaah untuk memperbanyak doa, istigfar, dan muhasabah diri. Banyak jemaah tampak menundukkan kepala, meneteskan air mata, hingga mengangkat tangan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Dalam khutbahnya, Abdullah Sattar mengingatkan bahwa tidak semua umat Islam mendapat kesempatan menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Karena itu, ia mengajak seluruh jemaah mensyukuri nikmat besar yang telah diberikan.
“Dari ratusan juta umat Islam di dunia, Allah memilih kita menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Ini nikmat besar yang harus disyukuri dengan hati yang tulus dan ibadah yang sungguh-sungguh,” ujarnya.
Dosen Universitas Islam Negeri Surabaya itu menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual tahunan yang dijalankan secara fisik. Lebih dari itu, setiap rangkaian ibadah haji menyimpan makna filosofis dan pelajaran hidup yang sangat mendalam bagi umat Islam.
Menurut dia, ihram mengajarkan tentang kesederhanaan dan persamaan derajat manusia di hadapan Allah SWT. Ketika mengenakan pakaian ihram, seluruh manusia melepas atribut duniawi, status sosial, jabatan, hingga kekayaan.
“Semua manusia sama di hadapan Allah. Tidak ada yang lebih tinggi kecuali ketakwaannya,” katanya.
Sementara itu, wukuf di Arafah disebut sebagai momentum penghambaan total seorang hamba kepada Sang Pencipta. Di tempat itulah manusia diajak merenungi perjalanan hidup, menyadari kesalahan, dan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Abdullah menjelaskan, lempar jumrah juga bukan sekadar melempar batu. Ritual tersebut memiliki makna simbolis sebagai bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu dan godaan setan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan tawaf dan sai menggambarkan pentingnya keteguhan hati, kesabaran, dan ikhtiar yang tidak pernah berhenti dalam menjalani kehidupan.
“Haji mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang dunia, tetapi tentang perjalanan menuju rida Allah,” tegasnya.
Dalam khutbah tersebut, jemaah juga diajak memperbanyak muhasabah diri atas perjalanan hidup yang telah dilalui. Momentum wukuf dinilai menjadi waktu paling tepat untuk memohon ampunan, memperbaiki diri, sekaligus memperkuat spiritualitas sebelum kembali ke tanah air.
Suasana haru terasa ketika Abdullah mengingatkan jemaah agar menjadikan ibadah haji sebagai titik balik kehidupan. Ia berharap sepulang dari Tanah Suci, para jemaah mampu membawa nilai-nilai kesabaran, keikhlasan, persaudaraan, dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadikan haji ini sebagai jalan kembali kepada fitrah dan menjadi pribadi yang lebih baik,” pesannya.
Wukuf di Arafah sendiri merupakan rukun haji yang paling utama. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Karena itu, seluruh jemaah memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak ibadah dan doa.
Bagi jemaah kloter 85 Banyuwangi-Bondowoso-Jember, khutbah wukuf tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi juga perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (aif)
Editor : Ali Sodiqin