Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Wukuf di Arafah Penentu Sah Haji, Ini Tata Cara, Bacaan Talbiyah Arab-Latin dan Sunnah Rasulullah

Ali Sodiqin • Senin, 25 Mei 2026 | 16:03 WIB
ILUSTRASI: Para jemaah haji dari seluruh dunia memadati semua sudut Jabal Rahmah jelang pelaksanan wukuf di padang Arafah pada tahun 2024 lalu. (Aris Imam/Jawa Pos)
ILUSTRASI: Para jemaah haji dari seluruh dunia memadati semua sudut Jabal Rahmah jelang pelaksanan wukuf di padang Arafah pada tahun 2024 lalu. (Aris Imam/Jawa Pos)

RADARBANYUWANGI.ID - Jutaan jemaah haji dari seluruh dunia mulai bergerak menuju Padang Arafah menjelang puncak ibadah haji. Di tempat inilah berlangsung salah satu momen paling sakral sekaligus paling menentukan dalam seluruh rangkaian ibadah haji: wukuf di Arafah.

Wukuf bukan sekadar agenda berkumpulnya umat Islam dari berbagai negara. Dalam syariat Islam, wukuf merupakan rukun haji yang tidak dapat diganti dengan dam, denda, maupun bentuk ibadah lainnya. Jika seseorang tidak melaksanakan wukuf atau berada di luar wilayah Arafah, maka ibadah hajinya dinyatakan tidak sah.

Karena itu, para jemaah diminta benar-benar memastikan lokasi tempat mereka berada saat pelaksanaan wukuf.

Hal tersebut telah diperingatkan Rasulullah SAW melalui hadis yang diriwayatkan Jubair bin Muth'im RA:

كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ

Latin:
Kullu 'Arafātin mauqifun warfa'ū 'an bathni 'Uranah.

Artinya:
"Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah Uranah."

(HR Ahmad)

Hadis tersebut menegaskan seluruh kawasan Arafah dapat digunakan untuk wukuf, kecuali Lembah Uranah yang berada dekat Masjid Namirah dari arah Makkah.

Lembah itu tidak termasuk wilayah Arafah sehingga jemaah yang berada di area tersebut berisiko tidak sah melaksanakan wukuf.

Karena itu, otoritas haji biasanya memasang papan penanda batas Arafah berukuran besar yang dapat terlihat dari kejauhan.

Berangkat ke Arafah Setelah Bermalam di Mina

Sebelum menuju Arafah, jemaah haji terlebih dahulu bermalam di Mina pada 8 Zulhijah atau Hari Tarwiyah.

Setelah matahari terbit pada tanggal 9 Zulhijah, jemaah disunahkan segera bergerak menuju Arafah.

Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Jabir bin Abdillah:

فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلاً حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Latin:
Falammā kāna yaumut-tarwiyah tawajjahū ilā Minan fa ahallū bil-hajj, wa rakiba Rasūlullāh Shallallāhu 'alaihi wa sallam...

Artinya:
"Ketika Hari Tarwiyah mereka menuju Mina sambil bertalbiyah haji. Rasulullah SAW menaiki kendaraan, kemudian melaksanakan salat Zuhur, Ashar, Magrib, Isya dan Subuh di sana, lalu menunggu sejenak hingga matahari terbit."

(HR Muslim)

Selama perjalanan menuju Arafah, jemaah dianjurkan memperbanyak talbiyah dan takbir sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.

Bacaan Talbiyah Lengkap Arab dan Latin

Talbiyah menjadi salah satu bacaan yang paling sering dikumandangkan jemaah selama perjalanan menuju Arafah.

Berikut bacaannya:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Latin:

Labbaikallāhumma labbaik, lā syarīka laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, lā syarīka lak.

Artinya:

"Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."

Talbiyah menjadi simbol kepatuhan total seorang hamba kepada Allah SWT.

Waktu Wukuf Dimulai Zuhur hingga Fajar

Setibanya di Arafah, jemaah akan menempati tenda atau lokasi yang telah disiapkan.

Adapun waktu pelaksanaan wukuf dimulai sejak masuk waktu Zuhur pada tanggal 9 Zulhijah hingga terbit fajar 10 Zulhijah.

Pada hari tersebut, jemaah disunahkan menjamak dan mengqashar salat.

Tujuannya agar waktu lebih banyak digunakan untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Qur'an, dan bermunajat.

Hari Arafah juga dikenal sebagai salah satu waktu paling mustajab untuk memanjatkan doa.

Karena itu, banyak jemaah memanfaatkan momen tersebut untuk memohon ampunan dan berdoa bagi keluarga serta orang-orang terdekat.

Rasulullah Tidak Berpuasa Saat Wukuf

Meski Hari Arafah memiliki keutamaan besar bagi umat Islam yang tidak berhaji, para jemaah yang sedang melaksanakan ibadah haji justru tidak disunahkan berpuasa.

Hal itu dicontohkan langsung Rasulullah SAW.

Tujuannya agar kondisi fisik tetap kuat menghadapi puncak ibadah haji.

Waktu di Arafah dianjurkan digunakan memperbanyak talbiyah, zikir, takbir, serta doa untuk urusan dunia dan akhirat.

Selain itu, jemaah juga diingatkan tidak meninggalkan Arafah sebelum matahari benar-benar terbenam.

Hal tersebut sesuai hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Jabir RA:

فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ

Latin:

Falam yazal wāqifan hattā gharabatisy-syamsu wa dzahabatish-shufrah qalīlan hattā ghābal qurshu.

Artinya:

"Beliau terus wukuf hingga matahari terbenam, warna kekuningan mulai hilang dan matahari benar-benar tenggelam."

(HR Muslim)

Di Padang Arafah, jutaan manusia berdiri dengan pakaian yang sama, tanpa membedakan status maupun jabatan. Sebuah peristiwa yang bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga pengingat bahwa seluruh manusia kelak akan kembali berkumpul di hadapan Sang Pencipta. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Wukuf di Arafah #talbiyah haji #wukuf 9 Zulhijah #rukun haji #padang arafah