RADARBANYUWANGI.ID - Ratusan ribu jemaah haji Indonesia mulai bergerak menuju Padang Arafah secara bertahap pada Senin (25/5/2026). Momen yang selama bertahun-tahun dinantikan itu tak hanya menjadi perpindahan fisik menuju lokasi puncak ibadah haji, tetapi juga menghadirkan gelombang haru yang menyelimuti para tamu Allah.
Di tengah terik gurun Arab Saudi, tangis syukur, doa, dan kerinduan bercampur menjadi satu. Sebab, hanya dalam hitungan jam, jutaan jemaah akan menjalani wukuf—fase paling sakral sekaligus inti pelaksanaan ibadah haji.
Kloter-kloter awal jemaah Indonesia mulai memasuki kawasan Arafah sejak pukul 08.00 Waktu Arab Saudi. Beberapa rombongan yang tercatat lebih awal tiba antara lain SOC Kloter 75, KJT Kloter 34, dan BDJ Kloter 18.
Setibanya di Arafah, para jemaah langsung diarahkan menuju tenda masing-masing. Sistem penempatan telah disiapkan dengan detail. Nama kloter hingga identitas jemaah sudah terpasang di bagian depan tenda sehingga memudahkan proses distribusi.
Suasana kedatangan berlangsung tertib. Bahkan sejumlah jemaah mendapat sambutan berupa air minum dan es krim sebelum memasuki tenda.
Di balik perjalanan menuju Arafah, tersimpan cerita yang menguras emosi.
Salah satunya datang dari seorang jemaah asal BDJ 18 bernama Hannah.
Perempuan berusia 63 tahun itu tampak duduk di kursi roda yang didorong anaknya menuju tenda jemaah.
Matanya mulai memerah ketika mengungkap rasa syukur yang selama ini dipendam setelah menunggu kesempatan berhaji selama 15 tahun.
Momen yang dinantikan seumur hidup itu kini berada di depan mata.
Wukuf di Arafah yang selama ini hanya menjadi impian tinggal menghitung jam.
Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan kesedihan mendalam.
Perjalanan spiritual yang semula ingin ia tempuh bersama sang suami akhirnya harus dijalani seorang diri.
"Suami saya sudah meninggal," kenangnya dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.
Kisah Hannah menjadi satu dari ribuan cerita emosional yang menyertai perjalanan haji tahun ini.
Jemaah Sambut Positif Fasilitas di Arafah
Selain suasana haru, sejumlah jemaah juga mengaku merasakan peningkatan layanan selama pelaksanaan haji tahun ini.
Pembimbing ibadah KBIHU, Khairunnor Juhrani, mengapresiasi fasilitas yang disiapkan petugas di Arafah.
Menurut dia, para jemaah mendapatkan sambutan yang hangat sejak pertama kali tiba.
"Kami juga diberi es krim. Kasur dan seprei juga baru. Kementerian Haji dan Umrah tahun ini memberikan fasilitas luar biasa pada kami," ujarnya.
Peningkatan layanan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan kenyamanan lebih baik selama fase puncak ibadah haji.
Ribuan Tenda dan Mobil Golf Disiapkan
Sementara itu, Kepala Satgas Arafah, Abdul Basir, menjelaskan kawasan Arafah untuk jemaah Indonesia dibagi ke dalam 10 sektor adhoc.
Setiap sektor rata-rata terdiri atas enam markaz. Sementara satu markaz memiliki sekitar 17 tenda.
Secara keseluruhan, jumlah tenda yang disiapkan mencapai lebih dari seribu unit.
"Jumlah tendanya ada sekitar seribu lebih. Dan per markaz kami tempatkan petugas kurang lebih enam saat ini," katanya.
Menurut Basir, jumlah personel masih akan bertambah melalui dukungan petugas dari Daerah Kerja Makkah.
Selain fasilitas tenda, pemerintah juga menyiapkan layanan khusus bagi jemaah lanjut usia dan kelompok berisiko tinggi.
Sebanyak 25 mobil golf disediakan untuk membantu mobilitas jemaah yang kesulitan berjalan jauh menuju lokasi tenda.
"Jika nanti letak tenda cukup jauh, jemaah lansia dan risti akan diantar menggunakan mobil golf," imbuhnya.
Fasilitas tersebut disiapkan agar jemaah dapat menjalani ibadah dengan lebih nyaman, terutama di tengah suhu ekstrem dan padatnya aktivitas selama fase Armuzna.
Kini, ribuan tenda di Padang Arafah mulai terisi. Di tempat inilah jutaan doa akan dipanjatkan, penyesalan ditumpahkan, dan harapan baru dipanjatkan.
Karena bagi banyak jemaah, perjalanan menuju Arafah bukan sekadar perpindahan lokasi. Ini adalah perjalanan menuju titik paling spiritual dalam hidup mereka. (*)
Editor : Ali Sodiqin