RADARBANYUWANGI.ID - Pergerakan jemaah haji Indonesia menuju puncak ibadah haji di Arafah mulai menghadapi tantangan di lapangan. Kloter 85 yang membawa jemaah asal Banyuwangi dilaporkan mengalami keterlambatan keberangkatan menuju kawasan Arafah. Rombongan yang semula dijadwalkan bergerak pukul 11.00 Waktu Arab Saudi (WAS) hingga siang ini masih tertahan di hotel akibat penyesuaian skema mobilisasi jemaah secara bertahap.
Situasi tersebut terjadi di tengah padatnya arus pergerakan jutaan jemaah menuju kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Otoritas keamanan Arab Saudi memperketat pengaturan lalu lintas guna mencegah kepadatan ekstrem yang berpotensi menghambat distribusi kendaraan maupun mengganggu keselamatan jamaah.
Informasi yang diteruskan melalui sektor petugas haji menyebut akses kendaraan menuju Arafah saat ini dibatasi secara ketat. Kepolisian Arab Saudi melakukan rekayasa arus dan pengaturan kendaraan secara intensif pada sejumlah jalur utama.
Akibatnya, sejumlah kloter dari berbagai negara harus menunggu giliran pergerakan.
Langkah tersebut diterapkan agar proses mobilisasi besar-besaran menuju Armuzna dapat berlangsung lebih aman, teratur, dan tidak menimbulkan penumpukan kendaraan di titik rawan.
Ketua Rombongan 7 KBIHU Sabilillah Banyuwangi, Akhmad Kholid Askandar, menjelaskan keterlambatan bukan disebabkan gangguan armada ataupun kendala teknis kendaraan.
Menurut dia, kondisi tersebut murni merupakan bagian dari skema pengaturan lapangan yang diterapkan petugas Arab Saudi.
"Pergerakan kendaraan tertunda. Jamaah kami minta tetap tenang, tidak keluar kamar, dan selalu siap dengan tas slempang sesuai nomor manifes," ujarnya.
Ia mengatakan seluruh jemaah telah mendapatkan arahan untuk tetap siaga menunggu instruksi lanjutan sambil mempersiapkan perlengkapan pribadi.
Kholid menambahkan, pemberangkatan bertahap menjadi langkah yang sangat penting mengingat tingginya volume jemaah dari berbagai negara yang bergerak hampir bersamaan menuju kawasan Armuzna.
Skema itu dinilai sebagai upaya meminimalkan risiko kepadatan sekaligus menjaga kelancaran perjalanan selama fase puncak ibadah haji.
Sementara itu, Jemaah Regu 6, Yusi Teguh Ariefianto, menyebut kondisi di hotel masih relatif kondusif dan terkendali.
Meski demikian, ia mengingatkan seluruh jamaah agar tetap disiplin mengikuti arahan petugas dan tidak melakukan pergerakan secara mandiri.
"Yang paling penting jamaah tetap tenang, tidak panik, dan siap sewaktu-waktu dipanggil. Kondisi seperti ini membutuhkan kesabaran dan kepatuhan penuh terhadap arahan petugas," katanya.
Selain soal kedisiplinan, Yusi juga menyoroti pentingnya menjaga stamina selama menunggu jadwal keberangkatan baru.
Cuaca panas di kawasan Armuzna disebut menjadi tantangan tersendiri bagi jamaah, terutama kelompok lanjut usia.
Karena itu, jamaah diimbau memperbanyak istirahat, menjaga asupan cairan tubuh, serta menghindari aktivitas fisik yang tidak mendesak.
Fase perpindahan menuju Arafah memang menjadi salah satu tahap paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji. Dalam waktu hampir bersamaan, jutaan jamaah dari berbagai negara bergerak menuju lokasi yang sama dengan jalur mobilitas terbatas.
Kondisi tersebut kerap membuat otoritas Arab Saudi menerapkan sistem buka-tutup akses maupun rekayasa lalu lintas untuk menjaga kelancaran dan keselamatan.
Hingga berita ini diturunkan, jadwal keberangkatan ulang Kloter 85 Banyuwangi masih menunggu keputusan lanjutan dari petugas lapangan dan otoritas terkait di Arab Saudi.
Petugas meminta seluruh jamaah tetap bersiaga dan menunggu informasi resmi berikutnya. (*)
Editor : Ali Sodiqin