RADARBANYUWANGI.ID - Jemaah haji Kloter 85 gabungan Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember mendapat pembekalan khusus terkait layanan konsumsi selama fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Sosialisasi yang digelar bagian Konsumsi PPIH Arab Saudi pada Sabtu (23/5) itu menjadi bekal penting bagi jemaah menghadapi fase paling padat dan melelahkan selama pelaksanaan haji.
Kegiatan berlangsung di Mushalla 407 lantai P dengan diikuti para jemaah secara antusias. Dalam sosialisasi tersebut, petugas menjelaskan secara rinci pola distribusi makanan, jenis makanan siap santap atau Ready to Eat (RTE), hingga tata cara konsumsi selama jemaah berada di Armuzna.
Ketua Kloter 85, Taufik Siradj, mengatakan pemahaman terkait sistem konsumsi sangat penting karena pola layanan selama Armuzna berbeda dibanding hari biasa. Pada fase puncak haji, jutaan jemaah berkumpul dalam waktu bersamaan sehingga distribusi logistik, termasuk makanan, harus dilakukan secara khusus.
“Jemaah perlu memahami bahwa saat Armuzna situasinya sangat padat. Mobilitas tinggi, distribusi makanan juga berbeda. Karena itu pemerintah menyiapkan makanan siap saji atau RTE agar jamaah tetap mendapatkan asupan makanan dengan praktis dan aman,” ujarnya.
Menurut Taufik, layanan konsumsi menjadi salah satu aspek vital yang mendapat perhatian serius dari pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Terlebih selama Armuzna, kondisi lapangan menuntut sistem distribusi makanan yang cepat, praktis, dan efisien.
Dalam sosialisasi dijelaskan bahwa jemaah haji Indonesia secara umum mendapatkan layanan konsumsi sebanyak 127 kali makan selama berada di Arab Saudi. Layanan tersebut meliputi makan pagi, siang, dan malam selama masa operasional haji.
Namun khusus menjelang dan selama fase Armuzna, pola distribusi makanan diubah menggunakan sistem makanan siap santap atau Ready to Eat (RTE). Sistem ini diterapkan untuk memudahkan distribusi makanan di tengah tingginya mobilitas jemaah.
Ketua Regu 3 Rombongan 6 KBIHU Sabilillah Banyuwangi, Khoirul Muklis, mengatakan para jemaah terlihat serius mengikuti sosialisasi karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar selama menjalankan ibadah di tanah suci.
“Alhamdulillah jamaah memperhatikan dengan serius. Mereka jadi tahu kapan mendapatkan makanan, bagaimana cara menyimpan, dan bagaimana mengonsumsi makanan RTE dengan benar,” katanya.
Petugas konsumsi PPIH Arab Saudi menjelaskan, makanan RTE disiapkan untuk memenuhi kebutuhan jemaah sejak masa pra-Armuzna hingga pasca-Armuzna. Pemerintah Indonesia melalui BPKH dan Kementerian Agama telah menyiapkan jutaan paket makanan siap santap untuk seluruh jemaah Indonesia.
Menariknya, menu yang disiapkan merupakan makanan khas Nusantara agar tetap sesuai dengan lidah jemaah Indonesia. Beberapa menu yang tersedia antara lain nasi uduk, semur daging, semur ayam, opor ayam, rendang ayam, kari ayam, hingga gulai ayam.
Seluruh makanan dikemas praktis menggunakan pouch maupun kotak siap santap agar mudah dibawa dan dikonsumsi di tengah padatnya aktivitas Armuzna.
Dalam pemaparan tersebut juga dijelaskan jadwal pembagian konsumsi bagi jemaah selama fase Armuzna. Pada 7 Dzulhijjah, jemaah mendapatkan tiga paket makanan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Kemudian pada 8 Dzulhijjah, jemaah menerima satu paket sarapan sebelum diberangkatkan menuju Arafah.
Sementara setelah fase Armuzna selesai atau tepatnya pada 13 Dzulhijjah, jemaah kembali mendapatkan dua paket makanan.
Petugas juga mengingatkan bahwa makanan RTE sebenarnya dapat langsung dikonsumsi tanpa dipanaskan. Namun khusus nasi, jemaah dianjurkan merendam kemasan dalam air hangat selama beberapa menit agar teksturnya lebih lembut dan nyaman disantap.
Selain itu, jemaah diminta tidak menyimpan makanan terlalu lama setelah kemasan dibuka guna menjaga kualitas serta keamanan konsumsi di tengah cuaca panas ekstrem Arab Saudi.
Bagi para jemaah, kepastian layanan konsumsi menjadi hal penting untuk menjaga stamina selama menjalani rangkaian ibadah yang padat dan menguras tenaga. Apalagi saat Armuzna, jutaan manusia berkumpul dalam area terbatas dengan suhu yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Muklis menambahkan, pemahaman terhadap sistem konsumsi juga membantu jemaah menjadi lebih mandiri dan disiplin selama berada di tanah suci.
“Yang terpenting jamaah tidak panik. Semua sudah diatur pemerintah. Tinggal jamaah mengikuti arahan petugas agar ibadah berjalan lancar dan kesehatan tetap terjaga,” pungkasnya. (aif)
Editor : Ali Sodiqin