RADARBANYUWANGI.ID - Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), layanan bus shalawat menuju Masjidil Haram mulai disterilkan sejak Jumat (22/5). Kondisi tersebut membuat aktivitas jemaah haji Banyuwangi kini lebih banyak terpusat di area hotel dan pemondokan untuk mempersiapkan fisik menghadapi fase paling berat dalam rangkaian ibadah haji.
Penghentian sementara operasional bus shalawat dilakukan sebagai bagian dari persiapan transportasi jemaah menuju Armuzna. Armada yang sebelumnya digunakan untuk mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram kini difokuskan untuk mendukung mobilisasi jutaan jemaah selama puncak ibadah haji.
Ketua Kloter 83, Lukman Fahmi, mengatakan sterilisasi bus shalawat menjadi langkah teknis penting agar proses transportasi jemaah saat Armuzna berjalan lancar dan tertib.
“Jelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna), layanan bus shalawat mulai Jumat (22/5) disterilkan serta dipersiapkan sebagai armada transportasi jemaah haji,” ujarnya.
Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan bagian dari skema besar pengaturan mobilitas jemaah yang dilakukan otoritas haji Arab Saudi menjelang wukuf di Arafah. Dengan jumlah jemaah yang sangat besar, kesiapan armada transportasi menjadi salah satu faktor krusial dalam kelancaran pelaksanaan ibadah.
“Kebijakan ini dilakukan untuk mendukung kelancaran mobilisasi jemaah pada fase puncak haji,” katanya.
Dengan dihentikannya layanan bus shalawat, para jemaah kini memilih memperbanyak aktivitas di hotel maupun sekitar pemondokan. Sebagian besar jemaah memanfaatkan waktu untuk beristirahat, memperbaiki kondisi fisik, serta mempersiapkan perlengkapan ibadah menjelang keberangkatan ke Arafah.
Menurut Lukman, menjaga stamina menjadi hal yang sangat penting karena rangkaian ibadah Armuzna membutuhkan kondisi fisik prima. Apalagi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi berpotensi menguras tenaga jemaah jika tidak diantisipasi dengan baik.
“Jemaah memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat dan me-recovery kondisi kesehatan serta menjaga stamina menjelang pelaksanaan Armuzna yang membutuhkan kesiapan fisik prima,” jelasnya.
Selain fokus pada pemulihan kondisi tubuh, para petugas haji Banyuwangi juga terus memberikan edukasi kepada jemaah agar mengurangi aktivitas di luar hotel. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kelelahan maupun risiko gangguan kesehatan sebelum pelaksanaan puncak ibadah haji.
Petugas juga mengimbau jemaah memperbanyak ibadah di musala dan masjid sekitar pemondokan tanpa harus memaksakan diri pergi ke Masjidil Haram selama layanan transportasi dibatasi.
“Petugas haji juga mengimbau jemaah agar mengurangi aktivitas di luar hotel demi menjaga kesehatan serta keselamatan selama menghadapi puncak ibadah haji,” pungkasnya.
Fase Armuzna sendiri menjadi rangkaian terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji. Jemaah akan menjalani wukuf di Arafah sebagai rukun utama haji, dilanjutkan mabit di Muzdalifah, kemudian bermalam di Mina sambil melaksanakan lempar jumrah.
Karena padatnya aktivitas dan tingginya mobilitas selama Armuzna, kondisi kesehatan jemaah menjadi perhatian utama petugas haji. Persiapan matang, termasuk pengaturan pola istirahat dan pengurangan aktivitas fisik yang tidak perlu, dinilai menjadi kunci agar jemaah dapat menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan lancar dan aman.
Hingga kini, kondisi jemaah haji Banyuwangi dilaporkan relatif stabil. Petugas kesehatan dan pendamping kloter juga terus melakukan pemantauan intensif guna memastikan seluruh jemaah siap mengikuti puncak pelaksanaan ibadah haji dalam beberapa hari ke depan. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin