RADARBANYUWANGI.ID – Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), suasana persiapan di kalangan jemaah haji Indonesia semakin intensif. Bukan sekadar mempersiapkan koper dan perlengkapan, jemaah kini mulai memantapkan kesiapan ilmu, fisik, mental, hingga kondisi spiritual sebelum memasuki fase paling penting dalam rangkaian ibadah haji.
Jemaah haji yang tergabung dalam Kloter 83 pada Jumat (22/5) terlihat mulai memperkuat berbagai persiapan menjelang pelaksanaan Armuzna yang diperkirakan berlangsung sekitar Senin (25/5) mendatang.
Tahapan Armuzna menjadi momen paling krusial dalam seluruh rangkaian ibadah haji. Pada fase inilah jutaan umat Islam dari berbagai negara berkumpul menjalankan serangkaian ibadah utama yang menuntut ketahanan fisik, konsentrasi, serta kesiapan mental.
Karena itu, pembimbing ibadah, petugas kloter, hingga tim kesehatan mulai meningkatkan pendampingan kepada jemaah agar seluruh proses dapat dijalani dengan lancar.
Pembimbing ibadah Kloter 83, Fakhry Ali, mengatakan Armuzna bukan sekadar agenda perpindahan lokasi ibadah, tetapi menjadi puncak perjalanan spiritual para jemaah selama berada di Tanah Suci.
Menurut dia, persiapan yang matang menjadi faktor penting agar jemaah dapat menjalankan seluruh tahapan ibadah secara maksimal.
"Armuzna merupakan perjalanan paling agung dalam ibadah haji sehingga seluruh jemaah harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
Fakhry menjelaskan, kesiapan tersebut tidak hanya menyangkut perlengkapan fisik semata, tetapi juga pemahaman terhadap tata cara ibadah, kesiapan mental, serta penguatan rohani.
Sebab, selama proses Armuzna, jemaah akan menghadapi mobilitas tinggi, perubahan lokasi secara beruntun, serta kepadatan jutaan orang dari berbagai negara.
Karena itu, kondisi tubuh dan mental yang prima menjadi faktor penting.
Selain penguatan pemahaman ibadah, perhatian juga difokuskan pada kesiapan perlengkapan pribadi jemaah.
Ketua Kloter 83, Lukman Hakim, mengingatkan bahwa terdapat sejumlah perlengkapan utama yang wajib dipastikan siap sebelum keberangkatan menuju Armuzna.
Ia membagi kebutuhan tersebut dalam tiga kategori utama.
Pertama, perlengkapan yang dikenakan langsung selama pelaksanaan ibadah.
Perlengkapan itu meliputi pakaian ihram, sabuk, gelang identitas, gelang maktab, hingga identitas penting lain yang wajib selalu melekat pada jemaah.
"Pertama, perlengkapan pakaian yang dikenakan selama proses Armuzna, meliputi pakaian ihram, sabuk, gelang identitas, gelang maktab, dan identitas penting lainnya," ungkapnya.
Kategori kedua adalah tas paspor yang disebut tidak boleh tertinggal.
Tas tersebut berisi sejumlah kebutuhan vital seperti kartu kesehatan, buku doa, dompet, obat-obatan pribadi, hingga multivitamin yang diperlukan selama pelaksanaan ibadah.
Lukman menegaskan keberadaan tas tersebut sangat penting karena menjadi perlengkapan utama yang mendukung kebutuhan jemaah selama lima hari pelaksanaan Armuzna.
"Kedua, tas paspor tidak boleh tertinggal karena di dalamnya berisi kebutuhan penting jemaah selama menjalankan ibadah sewaktu Armuzna," katanya.
Sementara kategori ketiga yakni tas ransel yang digunakan untuk membawa perlengkapan tambahan.
Isi tas tersebut mencakup pakaian ganti, baju koko, kain ihram cadangan, telepon seluler, charger, hingga power bank.
"Ketiga, tas ransel digunakan untuk membawa perlengkapan tambahan yang dibutuhkan selama berada di Armuzna," tambahnya.
Selain perlengkapan utama tersebut, jemaah juga diimbau tidak mengabaikan kebutuhan sederhana yang kerap dianggap sepele namun sangat penting selama perjalanan.
Mulai perlengkapan salat, pakaian dalam cadangan, perlengkapan mandi, makanan ringan, hingga plastik kresek untuk pakaian kotor diminta dipersiapkan sejak awal.
Di sisi lain, tim kesehatan juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh menjelang puncak ibadah.
Mobilitas tinggi, cuaca panas ekstrem, dan aktivitas fisik yang cukup berat berpotensi memengaruhi kebugaran jemaah.
Karena itu, Tim Kesehatan Haji Kloter (TKHK) terus mengingatkan agar jemaah menjaga pola istirahat, mengonsumsi makanan bergizi, serta tidak memaksakan aktivitas berlebihan sebelum Armuzna.
Tim Kesehatan Haji Kloter, Supriyanto, menekankan bahwa kondisi fisik dan mental yang baik akan sangat membantu kelancaran ibadah.
"Jamaah harus menjaga kebugaran fisik dan mental agar tetap prima saat menjalankan rangkaian puncak ibadah haji," tutupnya.
Persiapan intensif yang dilakukan menjelang Armuzna menunjukkan bahwa puncak ibadah haji bukan hanya membutuhkan kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan menyeluruh agar jemaah mampu menjalani perjalanan suci dengan aman dan lancar. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin