RADARBANYUWANGI.ID – Suara khas pedagang pasar Indonesia mendadak terdengar di tengah hiruk pikuk kawasan pertokoan dekat hotel jemaah di Kota Makkah. “Ayo Rp 50 ribu dapat tiga, murah Indonesia...” Kalimat itu sontak membuat jemaah haji asal Banyuwangi menoleh, lalu tersenyum heran.
Bukan berasal dari sesama jemaah. Kalimat promosi itu justru keluar dari mulut pedagang setempat yang menjajakan aneka perlengkapan ibadah dan oleh-oleh khas Arab Saudi.
Fenomena unik tersebut dialami jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam kloter 85 saat memanfaatkan waktu luang di sela-sela rangkaian ibadah. Di sekitar hotel tempat mereka menginap, deretan kios dan pertokoan tampak ramai dipadati jemaah Indonesia yang berburu berbagai kebutuhan.
Tim liputan Radar Banyuwangi, Khoirul Muklis, melaporkan suasana pusat perbelanjaan di sekitar pemondokan dipenuhi aktivitas transaksi. Jemaah hilir mudik memilih barang, menawar harga, hingga sesekali berhenti karena tergoda promosi para pedagang.
Beragam produk menjadi incaran. Mulai tasbih, sajadah, parfum khas Timur Tengah, kurma, cokelat Arab, hingga perlengkapan ibadah yang akan dibawa pulang untuk keluarga di tanah air.
Namun bukan sekadar aktivitas belanja yang menarik perhatian. Kemampuan para pedagang berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia justru menjadi pengalaman tak terlupakan bagi jemaah asal Banyuwangi.
Meski pengucapannya terbatas dan terdengar unik, sejumlah kalimat yang mereka lontarkan cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia.
“Ayo ibu murah… murah Indonesia... tiga lima puluh ribu...” teriak salah seorang pedagang sambil menunjukkan dagangannya kepada rombongan jemaah.
Ucapan itu langsung memancing gelak tawa. Logat Indonesia yang terdengar khas dan sedikit patah-patah justru membuat suasana belanja menjadi lebih cair.
Salah seorang jemaah, Asri, mengaku tidak menyangka para pedagang di Makkah cukup mengenal pola komunikasi khas pembeli Indonesia.
Menurut dia, pedagang tampaknya paham cara menarik perhatian jemaah Nusantara, termasuk mengenal istilah rupiah hingga teknik promosi yang biasa dipakai di pasar tradisional Indonesia.
"Lucu juga mendengarnya. Mereka tidak bisa bahasa Indonesia penuh, tapi tahu cara menarik perhatian jamaah Indonesia. Ada yang bilang murah-murah, aayo ibu, sampai tiga lima puluh ribu," ujarnya sambil tertawa.
Asri menilai fenomena tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh jemaah Indonesia di Tanah Suci. Setiap tahun, jumlah jemaah asal Indonesia yang datang dalam jumlah besar diduga membuat pedagang menyesuaikan strategi pemasaran agar lebih mudah mendekati calon pembeli.
Bukan hanya belajar beberapa kata, sebagian pedagang bahkan tampak hafal pola tawar-menawar yang lazim digunakan masyarakat Indonesia.
Kondisi itu menciptakan suasana unik. Di tengah Kota Makkah yang dipenuhi berbagai bahasa dari berbagai negara, bahasa Indonesia justru terdengar akrab di antara deretan toko dan kios.
Momen tersebut juga menjadi pengalaman tersendiri bagi jemaah Banyuwangi. Aktivitas sederhana seperti berbelanja ternyata menghadirkan cerita unik yang sulit dilupakan selama menjalankan ibadah haji.
Meski demikian, ketua rombongan tetap mengingatkan agar jemaah tidak terlalu larut menikmati aktivitas di luar agenda utama. Ibadah tetap menjadi prioritas utama selama berada di Tanah Suci.
Jemaah juga diimbau menjaga kondisi fisik, tidak memaksakan diri berjalan terlalu jauh, serta berhati-hati saat membawa uang dan identitas diri ketika keluar dari hotel.
Selain menjadi pengisi waktu luang, aktivitas belanja di sekitar pemondokan rupanya memberi warna tersendiri bagi perjalanan spiritual para jemaah. Mereka bukan hanya membawa oleh-oleh untuk keluarga di rumah, tetapi juga cerita menarik tentang bagaimana bahasa Indonesia ternyata begitu akrab terdengar di sudut Kota Makkah. (aif)
Editor : Ali Sodiqin