RADARBANYUWANGI.ID – Pemerintah Arab Saudi resmi menetapkan sosok yang akan menyampaikan Khutbah Arafah pada musim haji 1447 H/2026. Penunjukan itu langsung menyita perhatian umat Islam dunia karena khutbah tersebut akan disampaikan di hadapan jutaan jemaah saat puncak ibadah haji berlangsung di Padang Arafah.
Tokoh yang dipercaya mengemban tugas besar itu adalah Imam dan Khatib Masjid Nabawi, Ali bin Abdurrahman Al Hudhaify. Ulama senior Arab Saudi itu dikenal luas tidak hanya karena suara tilawahnya yang khas, tetapi juga kiprahnya yang panjang di bidang dakwah, pendidikan, dan peradilan syariah.
Penunjukan Sheikh Ali Al Hudhaify diumumkan melalui keputusan kerajaan Arab Saudi dan segera menjadi perhatian publik Muslim internasional.
Khutbah Arafah sendiri merupakan salah satu momen paling sakral dalam rangkaian ibadah haji.
Khutbah tersebut disampaikan ketika jutaan jemaah menjalani wukuf di Padang Arafah pada 9 Zulhijah, momen yang menjadi inti pelaksanaan ibadah haji.
Bagi umat Islam, Khutbah Arafah bukan sekadar ceramah keagamaan.
Momen itu kerap menjadi ruang penyampaian pesan besar tentang persatuan umat, nilai kemanusiaan, ketakwaan, hingga isu-isu penting yang menyentuh kehidupan Muslim dunia.
Karena itu, sosok khatib yang ditunjuk setiap tahun selalu menjadi perhatian.
Imam Senior dengan Rekam Jejak Panjang
Sheikh Ali Al Hudhaify bukan nama baru di dunia Islam.
Ia dikenal sebagai salah satu imam senior Arab Saudi dengan pengaruh besar di dunia dakwah.
Berdasarkan data otoritas Arab Saudi, Al Hudhaify lahir pada 1366 Hijriah di kawasan Al Awamir, Arab Saudi.
Sejak usia muda, ia telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendalami berbagai cabang ilmu syariah.
Perjalanan akademiknya berlangsung panjang.
Ia menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Riyadh dan lulus pada 1392 Hijriah.
Pendidikan tersebut kemudian dilanjutkan hingga jenjang magister yang diraih pada 1395 Hijriah.
Tak berhenti di situ, Al Hudhaify juga menyelesaikan program doktor dengan konsentrasi fikih siyasah syar’iyyah pada 1402 Hijriah.
Karier akademiknya juga cukup menonjol.
Ia pernah mengajar di Universitas Islam Madinah dan aktif membimbing mahasiswa dalam bidang Al-Qur’an serta hadis.
Pernah Menjadi Imam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram
Karier Sheikh Al Hudhaify di dua masjid suci juga terbilang istimewa.
Ia mulai dipercaya menjadi imam dan khatib Masjid Nabawi pada 1399 Hijriah.
Setahun berselang, ia kembali mendapat amanah besar dengan ditunjuk sebagai imam dan khatib Masjidil Haram.
Namun setelah itu, Al Hudhaify kembali bertugas di Masjid Nabawi hingga dikenal luas sebagai salah satu imam utama di sana.
Selain aktivitas dakwah dan mengajar, ia juga pernah memimpin komite ilmiah percetakan mushaf Al-Qur’an Madinah.
Ia juga dikenal memiliki sanad qiraat dan hadis yang tersambung kepada sejumlah ulama besar.
Hal tersebut membuat namanya memiliki otoritas kuat dalam tradisi keilmuan Islam.
Khutbah Arafah Diperkirakan Disiarkan ke Seluruh Dunia
Penunjukan Sheikh Al Hudhaify dinilai menghadirkan nuansa spiritual tersendiri pada pelaksanaan haji tahun ini.
Sosoknya selama ini dikenal memiliki gaya dakwah yang tenang, argumentatif, ilmiah, dan menyejukkan.
Karakter itu membuat banyak umat Islam menantikan pesan yang akan disampaikan saat Khutbah Arafah berlangsung.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Khutbah Arafah diperkirakan kembali disiarkan secara langsung ke berbagai negara dalam beragam bahasa.
Tujuannya agar pesan-pesan yang disampaikan dapat menjangkau umat Muslim dunia secara lebih luas.
Bagi jutaan jemaah haji, Khutbah Arafah bukan sekadar bagian dari rangkaian ibadah.
Di tengah lautan manusia yang berkumpul di Padang Arafah, khutbah itu menjadi momentum mendengarkan pesan persaudaraan, penguatan iman, dan refleksi spiritual dari Tanah Suci. (*)
Editor : Ali Sodiqin