Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jelang Ujian Berat di Mina, Jemaah Haji Semarang Disuntik ‘Vaksin Spiritual’: Pilih Ikhlas Dapat Pahala atau Merugi

Ali Sodiqin • Jumat, 22 Mei 2026 | 15:00 WIB
Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus petugas TPIHI, Drs. H. Nurbini, M.S.I., saat memberikan pembekalan spiritual setelah salat subuh di Makkah (19/5/2026). (muhammadiyahsemarangkota.org)
Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus petugas TPIHI, Drs. H. Nurbini, M.S.I., saat memberikan pembekalan spiritual setelah salat subuh di Makkah (19/5/2026). (muhammadiyahsemarangkota.org)

RADARBANYUWANGI.ID – Ujian berat yang sesungguhnya bagi jemaah haji perlahan mulai terlihat di depan mata. Menjelang fase puncak ibadah haji di Mina, bayang-bayang tenda padat, ruang gerak terbatas, cuaca panas, hingga kelelahan fisik mulai menghantui sebagian jemaah. Menyadari situasi itu dapat menggoyahkan mental, petugas haji asal Kota Semarang bergerak cepat memberi suntikan penguatan batin yang disebut sebagai “vaksin spiritual”.

Langkah itu dilakukan bahkan sebelum matahari meninggi. Tepat usai azan Subuh berkumandang pada Selasa (19/5/2026), Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 28 SOC langsung mengumpulkan jemaah untuk menyiapkan mental menghadapi fase paling menguras energi selama pelaksanaan haji.

Bagi sebagian jemaah, ujian di Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—bukan hanya soal fisik, tetapi juga ketahanan hati.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang sekaligus petugas TPIHI, Nurbini, mengingatkan jemaah agar mulai menata niat dan hati sejak sekarang.

Menurutnya, perjalanan jauh dan pengorbanan besar menuju Tanah Suci bisa kehilangan makna jika tidak dibangun di atas pondasi keimanan yang benar.

Nurbini menyampaikan tiga syarat penting agar seluruh perjuangan dan ibadah haji bernilai pahala di hadapan Allah SWT.

Fondasi pertama yang ia tekankan adalah iman yang bersih dari kesyirikan.

Menurut dia, keimanan merupakan tiket utama menuju keselamatan dan menjadi syarat dasar diterimanya amal ibadah.

“Iman adalah tiket utama kita menuju surga, maka jangan sekali-kali mengotorinya dengan kesyirikan. Sebab, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, meskipun Allah mengampuni dosa-dosa selain itu,” ujarnya di hadapan jemaah, sebagaimana dilansir dari laman muhammadiyahsemarangkota.org.

Suasana kultum pagi itu disebut berlangsung khidmat. Sejumlah jemaah tampak menyimak dengan penuh perhatian. Sebagian bahkan terlihat berkaca-kaca.

Sebab mereka sadar, fase yang akan dihadapi beberapa waktu ke depan bukan perjalanan biasa.

Ibadah Harus Sesuai Tuntunan Rasulullah

Selain menjaga kemurnian iman, Nurbini juga menyoroti syarat kedua yang tak kalah penting.

Ia mengingatkan seluruh aktivitas ibadah selama di Tanah Suci harus berjalan sesuai syariat dan tuntunan Rasulullah SAW.

Menurut dia, ibadah tidak dapat dilakukan berdasarkan kebiasaan atau tradisi tanpa dasar yang jelas.

Jemaah wajib memastikan setiap amalan memiliki landasan yang kuat.

Ia menegaskan, tata cara haji telah dicontohkan Rasulullah SAW dan seluruh rangkaian ibadah seharusnya mengikuti petunjuk tersebut.

“Amal ibadah kita harus memiliki dasar yang kuat dan mencontoh Rasulullah. Maka dari itu, mengikuti tuntunan yang sah menjadi kunci penting agar haji kita bernilai sah,” jelasnya.

Nurbini juga mengingatkan kaidah fikih yang menyebut bahwa pada dasarnya perkara ibadah tidak boleh ditambah atau dibuat-buat kecuali ada dalil yang memerintahkannya.

Karena itu, jemaah diminta tidak mudah mengikuti praktik ibadah yang tidak jelas dasar hukumnya.

Ujian Sesungguhnya Bernama Mina

Di penghujung kultum, Nurbini menyentuh persoalan yang paling dekat dengan realitas jemaah saat ini: keterbatasan fasilitas di Mina.

Fase mabit atau bermalam di Mina selama puncak haji memang dikenal sebagai salah satu momen paling berat.

Ruang tidur yang sempit, kepadatan jemaah, hingga keterbatasan ruang gerak sering kali menjadi tantangan tersendiri.

Bahkan sekadar membalikkan badan saat tidur terkadang tidak mudah dilakukan.

Kondisi tersebut menurutnya bukan sekadar ujian fisik, tetapi juga ujian keikhlasan.

Di hadapan jemaah, ia menyampaikan pilihan sederhana tetapi menohok.

Menurutnya, semua jemaah tetap harus menjalani fase tersebut apa pun kondisinya.

Yang membedakan hanyalah cara menyikapinya.

“Kondisi terbatas di Mina ini harus kita jalani dengan ikhlas. Kalau kita ikhlas, Allah memberikan pahala, tetapi kalau tidak ikhlas, kita tidak mendapat pahala apa-apa. Oleh sebab itu, tinggal pilih yang mana? Pilih ikhlas dapat pahala atau tidak ikhlas tapi tetap harus menjalani kesulitan yang sama,” pungkasnya.

Pesan itu seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci.

Di balik padatnya tenda Mina dan panjangnya perjalanan Armuzna, ada ujian lain yang jauh lebih berat: menjaga hati agar tetap ikhlas. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#puncak haji 2026 #jemaah haji Semarang #tenda Mina #Armuzna haji #persiapan haji Mina