RADARBANYUWANGI.ID - Hitungan hari menuju fase paling krusial dalam ibadah haji semakin dekat. Di tengah suhu panas Arab Saudi dan padatnya rangkaian agenda menjelang puncak haji, jemaah haji Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter 83 mulai memasuki tahap pemantapan ibadah melalui bimbingan manasik Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Pembekalan tersebut digelar Kamis (21/5) sebagai upaya memperkuat kesiapan jemaah menghadapi fase inti pelaksanaan haji. Sebab Armuzna bukan sekadar perpindahan lokasi ibadah, melainkan rangkaian prosesi yang menjadi titik penentu kesempurnaan ibadah haji.
Seluruh jemaah Kloter 83 Banyuwangi tampak mengikuti kegiatan dengan antusias. Mereka mendapatkan pembekalan teknis sekaligus penguatan pemahaman terkait tahapan ibadah yang akan dijalani saat memasuki puncak haji.
Ketua Kloter 83, Lukman Hakim, mengatakan bimbingan manasik dilakukan agar jemaah memiliki kesiapan lebih matang sebelum memasuki fase padat dan menguras stamina tersebut.
"Jemaah haji Kloter 83 Banyuwangi mengikuti kegiatan bimbingan manasik Armuzna sebagai persiapan menghadapi puncak pelaksanaan ibadah haji," ujarnya.
Fokus pada Wukuf, Mabit, hingga Lontar Jumrah
Dalam kegiatan tersebut, materi manasik yang diberikan tidak hanya membahas teori ibadah secara umum.
Jemaah mendapatkan penjelasan rinci mengenai tata cara pelaksanaan ibadah mulai dari prosesi wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga pelaksanaan lontar jumrah di Mina.
Rangkaian tersebut menjadi inti ibadah haji yang wajib dipahami jemaah, terutama mengingat tingginya mobilitas dan padatnya aktivitas selama pelaksanaan Armuzna.
Menurut Lukman, pemahaman teknis yang baik akan membantu jemaah menjalankan ibadah secara tertib dan mengurangi risiko kebingungan saat pelaksanaan di lapangan.
"Pembekalan tersebut diharapkan dapat membantu jemaah menjalankan ibadah dengan tertib dan lancar," katanya.
Bimbingan semacam ini dinilai penting mengingat kondisi di Armuzna sangat berbeda dibanding aktivitas jemaah selama berada di Makkah.
Mobilitas tinggi, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri yang harus dipersiapkan sejak awal.
Jemaah Diminta Hemat Tenaga dan Jaga Kondisi Tubuh
Tak hanya menitikberatkan pada aspek ibadah, bimbingan juga menyoroti kesiapan fisik jemaah.
Dalam sesi materi, pemateri Muhlis mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan menjelang puncak haji.
Jemaah diimbau mulai mengurangi aktivitas yang berpotensi menguras tenaga.
Imbauan tersebut menjadi perhatian serius mengingat suhu udara di Arab Saudi saat ini cukup tinggi.
Risiko kelelahan hingga dehidrasi menjadi ancaman yang paling sering dialami jemaah saat memasuki fase puncak haji.
Selain itu, jemaah juga diingatkan untuk memperbanyak konsumsi cairan dan mengatur pola istirahat.
"Diharapkan seluruh jemaah Banyuwangi dapat menjalankan rangkaian ibadah haji dengan lancar, aman, serta tetap menjaga kesehatan selama beribadah," ujar Lukman.
Pergerakan Jemaah ke Armuzna Dimulai 25 Mei
Sementara itu, Ketua Kloter 82, Rijal Fahmi, menjelaskan tahapan pergerakan jemaah menuju Armuzna segera dimulai.
Menurutnya, seluruh jemaah akan mulai bergerak pada 8 Dzulhijjah yang bertepatan dengan Senin, 25 Mei.
"Pergerakan jemaah untuk Armuzna dimulai pada 8 Dzulhijjah bertepatan pada hari Senin (25/5)," ungkapnya.
Fase Armuzna selama ini dikenal sebagai puncak seluruh rangkaian ibadah haji.
Pada tahap tersebut jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul dalam waktu hampir bersamaan di titik-titik utama pelaksanaan haji.
Karena itu kesiapan fisik, mental, dan pemahaman teknis menjadi faktor penting yang menentukan kelancaran ibadah.
Bagi jemaah Banyuwangi, bimbingan manasik ini menjadi bekal penting agar saat memasuki Arafah, Muzdalifah, dan Mina nanti, mereka tidak hanya siap secara administrasi, tetapi juga siap secara spiritual dan fisik menghadapi puncak perjalanan ibadah di Tanah Suci. (ray/sgt)
Editor : Ali Sodiqin