RADARBANYUWANGI.ID - Makkah bukan sekadar kota suci bagi umat Islam. Di balik megahnya Masjidil Haram dan Ka’bah yang menjadi kiblat miliaran Muslim dunia, terdapat satu sumber kehidupan yang terus mengalir lebih dari 4.000 tahun: air Zamzam.
Mata air yang muncul dari tengah padang tandus itu bukan hanya menjadi penopang kehidupan Kota Makkah, tetapi juga menyimpan kisah spiritual mendalam yang terus hidup hingga hari ini.
Menjelang puncak musim haji 2026, jutaan jemaah dari berbagai negara kembali memadati Masjidil Haram dan meminum air Zamzam sebagai bagian dari rangkaian ibadah.
Di balik kesuciannya, Zamzam memiliki sejarah panjang penuh mukjizat, perjuangan, hingga sempat hilang selama berabad-abad sebelum akhirnya ditemukan kembali.
Air Zamzam diyakini pertama kali muncul melalui mukjizat Allah SWT ketika Siti Hajar berjuang mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS, yang kehausan di tengah gurun tandus Makkah.
Kisah itu bermula ketika Nabi Ibrahim AS mendapat perintah dari Allah SWT untuk meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayi mereka, Ismail, di sebuah lembah sunyi yang saat itu belum berpenghuni. Tempat tersebut kini dikenal sebagai Kota Makkah.
Berbekal sedikit kurma dan air, Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya demi menjalankan perintah Allah. Saat itu Hajar sempat bertanya mengapa dirinya dan bayi Ismail ditinggalkan di tempat tanpa sumber kehidupan.
Setelah mengetahui itu merupakan perintah Allah SWT, Hajar menerima dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami,” ujar Hajar sebagaimana dikisahkan dalam berbagai literatur sejarah Islam.
Tak lama kemudian, persediaan air habis. Ismail kecil menangis kehausan. Dalam kondisi panik, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari pertolongan atau sumber air.
Perjuangan Hajar itulah yang kemudian diabadikan dalam ritual sa’i pada ibadah haji dan umrah.
Di tengah keputusasaan, mukjizat terjadi. Malaikat Jibril disebut menghentakkan sayap atau tumitnya ke tanah di dekat Nabi Ismail hingga memancar sumber air dari dalam bumi.
Melihat air mengalir deras, Hajar segera membendungnya sambil berkata, “Zamzam, zamzam,” yang berarti “berkumpullah” atau “tertahanlah”. Dari situlah nama Zamzam berasal.
Sumber air tersebut kemudian menjadi titik awal lahirnya peradaban Makkah. Keberadaan air di tengah padang pasir membuat banyak kabilah Arab datang dan menetap di sekitar wilayah itu.
Salah satu suku besar yang datang adalah Kabilah Jurhum dari Yaman. Mereka meminta izin kepada Hajar untuk tinggal di sekitar sumber air Zamzam. Sejak saat itu, kawasan Makkah perlahan berkembang menjadi pusat permukiman dan perdagangan.
Nabi Ismail kemudian tumbuh dewasa dan menikah dari kalangan suku Jurhum. Keturunannya terus berkembang hingga akhirnya melahirkan garis keturunan Nabi Muhammad SAW.
Namun sejarah Zamzam tidak selalu berjalan mulus.
Dalam perjalanan waktu, suku Jurhum yang sempat menguasai Makkah disebut melakukan berbagai tindakan zalim dan menyalahgunakan kekuasaan di Tanah Suci. Mereka bahkan menjarah harta Ka’bah.
Akibat kezaliman tersebut, konflik besar pecah antara Jurhum dan suku-suku Arab lainnya. Jurhum akhirnya kalah dan diusir dari Makkah.
Sebelum meninggalkan kota suci itu, mereka menutup dan mengubur sumur Zamzam agar tidak diketahui pihak lain. Lambat laun, lokasi sumur itu benar-benar hilang dan tertutup tanah selama berabad-abad.
Keberadaan Zamzam baru ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW.
Dalam sejumlah riwayat sejarah Islam disebutkan Abdul Muthalib mendapat petunjuk melalui mimpi mengenai lokasi sumur Zamzam. Setelah melakukan penggalian di dekat Ka’bah, sumber air tersebut kembali ditemukan dan memancar deras seperti semula.
Sejak saat itu, Zamzam kembali menjadi sumber kehidupan utama Makkah sekaligus bagian penting dalam ibadah umat Islam.
Kini, sumur Zamzam berada di area Masjidil Haram, sekitar 21 meter dari Ka’bah. Meski sumurnya tidak lagi dapat diakses langsung oleh jemaah, airnya tetap dialirkan melalui ribuan dispenser dan keran minum di seluruh area masjid.
Pemerintah Arab Saudi juga membangun sistem modern pengelolaan Zamzam untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan sumber air tersebut.
Menurut data otoritas Masjidil Haram, distribusi air Zamzam pada musim haji dan Ramadan bisa mencapai jutaan liter per hari untuk memenuhi kebutuhan jutaan jemaah dari seluruh dunia.
Air Zamzam juga dikenal memiliki kandungan mineral tinggi seperti kalsium, magnesium, sodium, dan fluoride yang dipercaya baik bagi kesehatan. Berbagai penelitian modern menunjukkan air Zamzam memiliki karakteristik berbeda dibanding air biasa, termasuk tingkat pH yang lebih basa dan bebas kontaminasi biologis.
Bagi umat Islam, Zamzam bukan sekadar air. Ia menjadi simbol pertolongan Allah, keteguhan iman Siti Hajar, serta salah satu mukjizat terbesar yang terus mengalir hingga kini.
Di tengah jutaan jemaah yang memadati Masjidil Haram setiap musim haji, tegukan air Zamzam menjadi pengingat bahwa di balik gurun tandus Makkah, pernah lahir sebuah mukjizat yang mengubah sejarah peradaban Islam. (*)
Editor : Ali Sodiqin