RADARBANYUWANGI.ID – Kota suci Makkah menyimpan banyak simbol sakral yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan peradaban Islam. Mulai dari Ka'bah sebagai kiblat umat Muslim dunia, Hajar Aswad yang diyakini berasal dari surga, hingga Sumur Zamzam yang airnya terus mengalir sejak ribuan tahun lalu.
Di balik keberadaan air Zamzam yang kini dinikmati jutaan jemaah haji dan umrah setiap tahun, tersimpan kisah spiritual mendalam yang bermula dari perjuangan seorang ibu, Siti Hajar, bersama putranya, Nabi Ismail, di tengah lembah tandus tanpa kehidupan.
Tak sekadar menjadi sumber air di gurun pasir, Zamzam juga menjadi titik awal tumbuhnya kehidupan dan peradaban di Makkah yang kemudian berkembang menjadi pusat spiritual umat Islam dunia.
Berawal dari Perintah Allah kepada Nabi Ibrahim
Kisah Zamzam bermula ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah SWT untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan bayi mereka, Nabi Ismail, di sebuah lembah tandus yang kini dikenal sebagai Makkah.
Dengan penuh kepatuhan, Nabi Ibrahim membawa keluarganya dari Palestina menuju wilayah yang saat itu sama sekali belum berpenghuni.
Sesampainya di dekat lokasi yang kini menjadi area sumur Zamzam, Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail hanya dengan beberapa butir kurma dan persediaan air terbatas.
Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Siti Hajar sempat bertanya mengapa dirinya dan anaknya ditinggalkan di tempat sunyi tanpa kehidupan.
Namun setelah mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah SWT, Hajar menerima dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu, Allah tidak mungkin membuat kami sengsara,” demikian keyakinan Siti Hajar sebagaimana dikisahkan dalam berbagai literatur sirah Islam.
Tak lama setelah Nabi Ibrahim pergi, bekal makanan dan air habis. Ismail kecil menangis kehausan, sementara Hajar mulai mencari pertolongan dengan berlari antara Bukit Shafa dan Marwah.
Awal Mula Sa’i dalam Ibadah Haji
Dalam kondisi panik dan kehausan, Siti Hajar bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari bantuan atau sumber air.
Perjalanan penuh perjuangan itulah yang kemudian diabadikan dalam syariat Islam menjadi ritual sa’i, salah satu rukun haji dan umrah yang dijalankan jutaan Muslim hingga hari ini.
Di tengah keputusasaan, Hajar mendengar suara gemercik air di dekat Ismail kecil.
Ternyata malaikat menggali tanah dengan sayapnya hingga memancarlah mata air dari dalam bumi.
Melihat air itu keluar deras, Hajar segera membendungnya sambil berkata, “Zamzam! Zamzam!” yang berarti “berkumpullah, berkumpullah”.
Sejak saat itu, mata air tersebut dikenal dengan nama Zamzam.
Menjadi Sumber Kehidupan di Padang Tandus
Keberadaan Zamzam mengubah Makkah yang semula tandus menjadi wilayah yang mulai didatangi manusia.
Beberapa waktu kemudian, dua suku besar dari Yaman, yakni Jurhum dan Qathura, menemukan sumber air tersebut setelah melihat sekumpulan burung berputar di langit—tanda adanya air di tengah gurun.
Mereka kemudian meminta izin kepada Siti Hajar untuk tinggal di sekitar Zamzam.
Sejak saat itu, kawasan Makkah mulai berkembang menjadi permukiman dan pusat perdagangan penting di Jazirah Arab.
Nabi Ismail kemudian tumbuh dewasa dan menikah dengan perempuan dari Suku Jurhum.
Dari keturunan Nabi Ismail inilah kelak lahir bangsa Arab Adnaniyah hingga garis keturunan Nabi Muhammad.
Sumur Zamzam Pernah Hilang dan Mengering
Namun perjalanan sejarah Zamzam tidak selalu mulus.
Setelah kekuasaan Makkah berada di tangan Suku Jurhum, berbagai tindakan zalim mulai terjadi, termasuk penjarahan harta di sekitar Ka’bah.
Menurut berbagai riwayat sejarah Islam, kezaliman tersebut membuat keberkahan Zamzam dicabut hingga sumurnya mengering.
Suku Jurhum akhirnya diusir dari Makkah oleh gabungan Bani Kinanah dan Bani Khuza’ah.
Sebelum meninggalkan Makkah, mereka menutup dan mengubur lokasi sumur Zamzam agar tidak ditemukan suku lain.
Seiring berjalannya waktu, lokasi sumur Zamzam benar-benar hilang dan tertutup tanah selama berabad-abad.
Ditemukan Kembali oleh Kakek Nabi Muhammad
Keberadaan Zamzam baru ditemukan kembali oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW.
Dalam sejumlah riwayat, Abdul Muthalib mendapatkan petunjuk melalui mimpi mengenai lokasi sumur tersebut.
Setelah dilakukan penggalian, mata air Zamzam kembali memancar deras seperti pertama kali muncul pada masa Nabi Ismail.
Hingga kini, Zamzam tetap menjadi salah satu mukjizat yang terus mengalir tanpa pernah kering meski dikonsumsi jutaan orang setiap tahun.
Air Zamzam juga diyakini memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW.
Bagi umat Islam, Zamzam bukan sekadar air biasa, melainkan simbol ketakwaan, perjuangan, kesabaran, dan pertolongan Allah SWT yang terus hidup sepanjang zaman. (*)
Editor : Ali Sodiqin